AgamaPendidikan

Menyalakan Kembali “Iqra”Refleksi Nuzulul Qur’an di Tengah Krisis Literasi Umat

×

Menyalakan Kembali “Iqra”Refleksi Nuzulul Qur’an di Tengah Krisis Literasi Umat

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mashud Azikin

Kajian Islam, Potretnusantara.co.id – Ada satu kata yang menjadi fondasi peradaban Islam. Kata itu sederhana, pendek, tetapi memiliki daya getar yang melampaui zaman: Iqra’ bacalah.

Pada suatu malam di Gua Hira, lebih dari empat belas abad lalu, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama yang kelak mengubah wajah sejarah manusia. Wahyu itu tidak dimulai dengan perintah beribadah, tidak pula dengan perintah membangun kekuasaan atau menaklukkan dunia. Wahyu itu dimulai dengan satu ajakan intelektual: membaca.

Perintah itu bukan hanya untuk Nabi Muhammad. Ia adalah pesan abadi bagi seluruh umat manusia. Bahwa peradaban tidak dibangun dengan pedang, tetapi dengan pengetahuan. Bahwa kemajuan lahir dari keberanian manusia untuk memahami dunia di sekitarnya.

Malam Nuzulul Qur’an setiap Ramadhan sesungguhnya bukan hanya peringatan spiritual. Ia adalah momen refleksi intelektual. Malam ketika umat seharusnya bertanya pada dirinya sendiri: apakah semangat Iqra masih hidup dalam kehidupan kita hari ini?

Pertanyaan ini terasa semakin relevan ketika kita melihat kenyataan sosial di sekitar kita. Di era digital yang dipenuhi informasi tanpa batas, justru muncul paradoks yang mencemaskan: krisis literasi.

Kita hidup di zaman ketika informasi datang bertubi-tubi melalui layar telepon genggam. Setiap orang bisa menjadi penyebar berita. Setiap orang bisa mengutip pendapat. Namun tidak semua orang benar-benar membaca, apalagi memahami.

Banyak orang membaca judul tanpa menelusuri isi. Banyak orang berbagi informasi tanpa memverifikasi sumbernya. Di media sosial, perdebatan sering lebih bising daripada pengetahuan.
Fenomena ini menunjukkan satu kenyataan: kemampuan membaca huruf tidak selalu berarti kemampuan membaca makna.

Padahal sejak awal Islam hadir sebagai agama yang memuliakan pengetahuan. Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat Madinah bukan hanya dengan semangat keimanan, tetapi juga dengan penghormatan terhadap ilmu.

Sejarah mencatat sebuah peristiwa penting setelah Perang Badar. Beberapa tawanan perang dari pihak Quraisy yang memiliki kemampuan baca tulis diberi kesempatan bebas dengan syarat mengajarkan keterampilan tersebut kepada sepuluh orang Muslim di Madinah. Dalam konteks zaman itu, keputusan ini sangat revolusioner.
Ia menunjukkan bahwa literasi dipandang sebagai investasi peradaban.

Dari semangat itulah kemudian lahir tradisi intelektual besar dalam dunia Islam. Pada masa keemasan peradaban Islam, kota-kota seperti Baghdad, Damaskus, Kairo, dan Cordoba menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia.
Di Baghdad berdiri Baitul Hikmah, sebuah pusat penerjemahan dan penelitian yang mempertemukan para ilmuwan dari berbagai latar belakang budaya.

Karya-karya filsafat Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Ilmu matematika berkembang melalui pemikiran Al-Khawarizmi. Kedokteran mencapai kemajuan pesat melalui karya Ibnu Sina. Sementara Ibnu Khaldun menulis Muqaddimah, sebuah karya monumental tentang ilmu sosial yang masih dipelajari hingga hari ini.

Semua itu lahir dari satu fondasi sederhana: tradisi membaca.

Namun sejarah juga memberi pelajaran pahit. Ketika tradisi intelektual itu melemah, ketika umat mulai menjauh dari buku dan diskusi ilmiah, peradaban pun perlahan kehilangan daya hidupnya.
Hari ini kita menyaksikan ironi yang sulit diabaikan. Umat yang kitab sucinya dimulai dengan kata “bacalah”, justru menghadapi tantangan serius dalam budaya membaca.

Survei literasi di berbagai negara berkembang menunjukkan bahwa minat membaca masyarakat masih relatif rendah. Buku sering kalah populer dibandingkan hiburan digital yang serba cepat. Diskusi ilmiah kalah ramai dibandingkan perdebatan emosional di ruang publik.

Situasi ini tentu tidak bisa disederhanakan sebagai kesalahan individu semata. Ia berkaitan dengan banyak faktor: sistem pendidikan, akses terhadap buku, budaya keluarga, hingga dinamika media digital yang sering lebih mendorong sensasi daripada pengetahuan.

Namun di tengah berbagai faktor tersebut, semangat Iqra tetap relevan sebagai kompas moral dan intelektual.
Iqra tidak hanya berarti membaca teks. Ia juga berarti membaca kehidupan. Membaca realitas sosial. Membaca alam semesta.

Al-Qur’an sendiri berkali-kali mengajak manusia untuk memperhatikan tanda-tanda di langit dan di bumi. Pergantian siang dan malam, perjalanan sejarah umat manusia, hingga pertumbuhan tanaman adalah ayat-ayat Tuhan yang terbentang di alam.

Dalam perspektif ini, membaca menjadi aktivitas yang jauh lebih luas daripada sekadar membuka buku. Ia adalah proses memahami dunia dengan pikiran yang jernih dan hati yang terbuka.

Di era modern, semangat Iqra dapat diterjemahkan dalam banyak bentuk: membangun budaya membaca di rumah, memperkuat perpustakaan sekolah, mendorong riset ilmiah, hingga membangun ruang diskusi publik yang sehat.
Masjid juga memiliki peran penting dalam menghidupkan kembali semangat literasi umat.

Pada masa Rasulullah, masjid bukan hanya tempat ibadah ritual. Ia juga menjadi pusat pembelajaran masyarakat. Di Masjid Nabawi, para sahabat mempelajari Al-Qur’an, menulis wahyu, dan mendiskusikan berbagai persoalan kehidupan.

Tradisi ini sebenarnya dapat dihidupkan kembali dalam konteks masa kini. Masjid tidak harus hanya ramai saat shalat berjamaah atau ceramah Ramadhan. Ia juga bisa menjadi ruang belajar bagi anak-anak, tempat diskusi bagi pemuda, atau pusat literasi komunitas.

Bayangkan jika setiap masjid memiliki perpustakaan kecil. Jika setiap pengajian tidak hanya berisi ceramah satu arah, tetapi juga dialog yang memperkaya wawasan. Jika anak-anak tumbuh dengan kebiasaan membaca di lingkungan masjid.
Maka semangat Iqra tidak lagi menjadi slogan, melainkan menjadi kebiasaan sosial.

Pada akhirnya, Nuzulul Qur’an adalah pengingat bahwa wahyu pertama Islam lahir dalam keheningan sebuah gua. Ia tidak turun di istana kekuasaan. Ia juga tidak dimulai dengan perintah untuk menaklukkan dunia.
Ia dimulai dengan ajakan sederhana untuk membaca.

Barangkali di situlah letak pesan terdalam dari malam Nuzulul Qur’an. Bahwa perubahan besar dalam sejarah sering dimulai dari kesediaan manusia untuk belajar. Dari rasa ingin tahu yang tidak pernah padam.

Di tengah dunia yang bergerak cepat dan sering bising oleh informasi, semangat Iqra mengingatkan kita pada satu hal penting: pengetahuan adalah cahaya yang menuntun peradaban.

Dan mungkin, di setiap malam Nuzulul Qur’an, kita seharusnya tidak hanya memperingati turunnya kitab suci. Kita juga seharusnya menyalakan kembali keberanian untuk membaca membaca kitab, membaca kehidupan, dan membaca masa depan umat manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *