Opini

Semangat Kebangsaan di Tengah Dunia Darurat Kemanusiaan

×

Semangat Kebangsaan di Tengah Dunia Darurat Kemanusiaan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Muhamad Saiful Anwar HMI Salatiga

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Dunia sekarang rasanya kayak rumah kos besar yang isinya lagi berantem semua. Ada yang rebutan kamar, ada yang ngeluh soal listrik, ada juga yang udah malas ngurusin karena ngerasa bukan urusannya. Dari perang tak berkesudahan di Timur Tengah, sampai pengungsi yang menumpuk di Eropa, dunia sedang menunjukkan betapa manusia bisa rumit sekali. Di tengah hiruk-pikuk itu, Indonesia yang katanya negara kepulauan terbesar di dunia berdiri dengan wajah yang selalu ingin damai, tapi tetap ingin didengar. 

Adv

Pertanyaannya: gimana caranya tetap berdaulat di tengah dunia yang seperti ini? Jawaban pendeknya: ya semangat kebangsaan. Tapi tentu semangat ini bukan cuma seruan di upacara 17-an atau status Instagram pas Hari Pahlawan. Ia adalah energi yang bikin bangsa ini tetap punya arah, bahkan ketika dunia kayak kehilangan peta.

Kedaulatan Itu Nggak Cuma Soal Peta

Kadang orang mikir kedaulatan itu soal garis batas di laut atau daratan. Padahal, di zaman globalisasi, batas negara bisa jebol lewat hal-hal kecil: informasi, investasi, bahkan ide. Saat krisis kemanusiaan global datang entah berupa perang, bencana, atau krisis ekonomi efeknya bisa nyampe ke rumah kita sendiri. Harga pangan naik, pengungsi datang, hingga isu kemanusiaan jadi bahan debat politik. Nah, di situ semangat kebangsaan bekerja. Ia jadi “rem” sekaligus “kompas”. Rem agar kita tidak gampang terombang-ambing oleh kepentingan asing. Kompas agar kebijakan tetap berpijak pada nilai-nilai sendiri. Pancasila, dalam hal ini, bukan sekadar dasar negara yang dihafal di sekolah, tapi panduan moral yang ngajarin: kita bisa bantu kemanusiaan tanpa kehilangan kemandirian.

Diplomasi Kita Gaya Nusantara

Sejak dulu, Indonesia mainnya bukan ikut blok siapa-siapa. Politik luar negeri “bebas aktif” itu semacam gaya khas Nusantara: nggak mau ikut-ikutan, tapi juga nggak pasif. Kita ikut mengirim pasukan perdamaian, bantu negara yang kena bencana, dan jadi jembatan antara negara-negara besar yang kadang susah akur.

Tapi diplomasi nggak selalu semanis brosur Kementerian Luar Negeri. Kadang idealisme diuji oleh realitas. Ada negara besar yang tekanan politiknya luar biasa, ada negosiasi yang harus dijaga agar kepentingan nasional nggak tergeser. Di situ semangat kebangsaan jadi pegangan agar kita tetap tahu kapan harus tegas, kapan harus lentur.

Menjaga Rumah Bernama Indonesia

Di dalam negeri, semangat kebangsaan juga jadi urat nadi yang menyatukan semua perbedaan. Dari Aceh sampai Papua, dari yang suka rendang sampai yang doyan papeda, semua punya tempat di rumah besar bernama Indonesia. Tapi globalisasi ini lucu—di satu sisi membuka pintu dunia, di sisi lain membuat anak muda lebih kenal idola luar ketimbang pahlawan nasional. 

Maka tugas kita bukan memaksa, tapi menanamkan kembali cinta tanah air dengan cara yang relevan dan rasional. Lewat pendidikan, cerita, budaya, bahkan humor, semangat kebangsaan bisa dihidupkan kembali tanpa harus jadi dogma. Indonesia akan kuat bukan karena semua orang sama, tapi karena semuanya mau berjalan ke arah yang sama.

Akhirnya, Nasionalisme Itu Soal Hati

Krisis global akan selalu datang, dan dunia barangkali tak akan jadi tempat yang tenang. Tapi semangat kebangsaan adalah hal yang membuat Indonesia tetap punya “napas panjang”. Ia bukan nostalgia masa lalu, melainkan bahan bakar agar bangsa ini tetap bisa melangkah dengan kepala tegak. 

Kalau kita punya semangat itu, maka bahkan di saat dunia terbakar, Indonesia masih bisa menyalakan lilin kecilnya sendiri bukan sekadar untuk dirinya, tapi juga untuk kemanusiaan secara lebih luas. Karena menjadi bangsa besar bukan soal seberapa kuat berteriak tentang kedaulatan, tapi seberapa tenang kita bisa menegakkannya tanpa kehilangan welas asih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *