WhatsApp Image 2026-05-26 at 14.00.42 (1)
PlayPause
previous arrow
next arrow
Opini

Festival Daur Bumi Makassar: Menjadikan Gerakan Lebih dari Sekadar Seremonial

×

Festival Daur Bumi Makassar: Menjadikan Gerakan Lebih dari Sekadar Seremonial

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mashud Azikin (Anggota Dewan Lingkungan Hidup Makassar).

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Festival Daur Bumi Makassar yang mulai dihelat hari ini hingga Minggu, 14 Desember 2025, bertempat di Balai Manunggal M. Yusuf Makassar, tidak hadir sebagai pesta tahunan yang sekadar meramaikan kalender kegiatan kota. Ia menempatkan diri sebagai ruang bersama tempat warga, komunitas lingkungan, pemerintah, pelaku usaha, hingga pelajar bertemu dalam satu tekad: memperkuat komitmen menjaga bumi dan mewujudkan Makassar sebagai kota yang lebih bersih dan lebih sehat.

Di berbagai sudut arena kegiatan, gerakan lingkungan tampil dalam wujud yang beragam. Ada workshop pemilahan sampah rumah tangga yang dibimbing oleh komunitas lokal, pameran inovasi daur ulang oleh UMKM, kelas ecoenzym dan kompos, hingga tur edukatif tentang ekosistem pesisir bagi siswa sekolah. Semua kegiatan dirancang bukan untuk dilihat, tetapi untuk diikuti. Bukan pula untuk sekadar menjadi dokumentasi media sosial, melainkan untuk memberi pengetahuan yang bertahan setelah panggung-panggung festival dibongkar.

Penyelenggara menyadari kegelisahan yang kerap mengiringi berbagai kegiatan lingkungan di kota ini. Tidak sedikit agenda terdahulu yang meriah pada hari pelaksanaan, tetapi senyap setelahnya. Kekhawatiran publik pun serupa: jangan sampai Festival Daur Bumi menjadi seremoni sesaat, sebuah perayaan yang hanya mengesankan kesibukan tanpa menyentuh akar persoalan.

Makassar telah lama berhadapan dengan tantangan kebersihan dan tata kelola sampah. Volume timbulan sampah yang terus meningkat, penataan bank sampah yang belum merata, hingga rendahnya disiplin pemilahan di tingkat rumah tangga masih menjadi pekerjaan besar. Karena itu, festival ini memiliki tugas moral untuk menjadi lebih dari sekadar acara. Ia harus menjadi penguat ekosistem, bukan sekadar penanda kegiatan.

Komitmen itu mulai terlihat dari cara festival ini membuka ruang kolaborasi. Komunitas-komunitas diundang bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai penggerak. Pelatihan dilakukan dengan menekankan praktik langsung. Kampanye tentang makna daur bumi dihubungkan dengan kebijakan kota: dari program Makassar Bebas Sampah 2029 hingga penguatan TPS3R dan pengembangan ekonomi sirkular di tingkat kelurahan.

Namun, kesuksesan festival ini tidak ditentukan oleh kemeriahannya hari ini. Ukurannya ada pada perubahan kecil yang bertahan setelah lampu panggung padam: apakah lebih banyak warga mulai memilah sampah di rumah? Apakah komunitas baru terbentuk di tingkat RT? Apakah sekolah-sekolah memasukkan modul daur ulang dalam kegiatan mingguan mereka? Apakah pemerintah memperkuat dukungan bagi inovator lokal pengolahan sampah?

Harapan terbesar bagi Festival Daur Bumi Makassar adalah tidak mengulang pola yang dikhawatirkan selama ini: ramai di awal, senyap di akhir. Sebaliknya, ia diharapkan menjadi momentum yang menyalakan api gerakan lingkungan yang lebih konsisten, menyentuh masyarakat paling dekat, dan membangun fondasi budaya baru bahwa menjaga bumi bukan kegiatan musiman, melainkan bagian dari kehidupan kota.

Jika festival ini mampu menyalakan semangat itu, maka ia telah melampaui statusnya sebagai acara dan menjelma menjadi gerakan. Dan dari gerakan kecil seperti inilah, Makassar dapat melangkah lebih pasti menuju masa depan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *