Palopo, Potretnusantara.co.id – Di tubuh Perumda Tirta Mangkaluku, seleksi direksi kembali berjalan rapi: Lima Nama Lolos Uji Kompetensi, lalu akan disaring melalui Wawancara langsung dengan Walikota Palopo. Prosedurnya bersih, alurnya jelas yang kerap keruh justru ujungnya.
Di Kecamatan Mungkajang, tempat perusahaan ini berdiri, cerita lama kembali diputar: Airnya diambil dari sini, tapi kursinya jarang jatuh ke orang sini. Warga sekitar seperti pelanggan setia bukan pemilik kepentingan.
Dampaknya tak berhenti di pucuk. Dari direksi hingga staf, rekrutmen terasa seperti undangan terbuka yang diam-diam bertuliskan: “yang dekat, harap bersabar”, selebihnya? Nama-nama yang itu lagi, itu lagi.
Tokoh Pemuda Dataran Tinggi Kambo, Aswin Sakke’, saat di konfirmasi via-Tlfn (28/4/2026) tak lagi membungkus kritiknya.
“Jangankan posisi direksi, untuk posisi staf saja hampir tidak ditemukan orang Mungkajang, khususnya yang berasal dari Kambo maupun Siguntu, padahal SDM nya bisa ji juga di adu”, tegasnya singkat.
Ia juga menyentil warisan lama: Kepemimpinan yang rapi di atas kertas, namun tipis terasa di lapangan. Pergantian nama, kata Aswin, terlalu sering hanya jadi pergantian wajah bukan perubahan arah.
Issu “Putra Daerah” kembali mengapung. Bukan untuk membelah, tapi untuk mengingatkan: “Jika tempat hanya dijadikan lokasi berdiri tanpa memberi ruang untuk tumbuh, maka yang hilang bukan sekadar peluang melainkan rasa memiliki”.
“Saya berharap, kesempatan diberikan kepada Putra Daerah Mungkajang untuk menduduki kursi Direksi”, tutupnya.
Kini yang ditunggu publik bukan sekadar siapa terpilih melainkan apakah pola lama ikut dipensiunkan. Jika tidak, seleksi ini hanya akan jadi rutinitas periodik: “Air tetap Mengalir, tapi Keadilan masih tersendat di Pipa yang sama”.
Penulis: S PNs













