Opini

CERDAS YANG PROPORSIONAL : Jangan Lebih Hebat dari Atasanmu

×

CERDAS YANG PROPORSIONAL : Jangan Lebih Hebat dari Atasanmu

Sebarkan artikel ini

Oleh: Aco Musaddad HM

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Dalam dinamika organisasi, baik di lingkungan birokrasi pemerintahan maupun akademisi, terdapat satu hukum tak tertulis yang sering kali menjadi penentu karier seseorang: seni menempatkan diri. Salah satu prinsip yang paling krusial, namun sering disalahpahami, adalah aturan untuk “tidak terlihat lebih hebat dari atasan.”

Pernyataan ini mungkin terdengar kontradiktif bagi mereka yang mendewakan kompetensi absolut. Bukankah kita dituntut untuk memberikan yang terbaik? Bukankah kecerdasan dan inovasi adalah kunci kemajuan? Benar. Namun, dalam ruang kepemimpinan, kecerdasan tanpa kearifan adalah bumerang.

Seni Menjaga Panggung

Setiap pemimpin memiliki “panggung”-nya masing-masing. Menjadi staf atau bawahan yang hebat bukan berarti harus merampas lampu sorot dari sang pemimpin. Sebaliknya, kehebatan sejati seorang bawahan terletak pada kemampuannya menjadi energi di balik layar yang membuat keputusan atasan menjadi tepat dan langkah organisasi menjadi taktis.

Ketika seorang bawahan secara terang-terangan menunjukkan keunggulan yang melampaui otoritas atasannya—baik itu dalam forum rapat maupun kebijakan publik—secara psikologis ia sedang menciptakan ancaman. Atasan yang merasa terancam secara intelektual atau eksistensial cenderung akan menutup ruang inovasi bagi bawahan tersebut. Akibatnya, potensi hebat yang dimiliki justru akan terisolasi dan tidak bermanfaat bagi organisasi.

Filosofi Kapal dan Nahkoda

Bayangkan sebuah kapal. Seorang mualim mungkin memiliki kemampuan navigasi yang luar biasa, namun ia tidak boleh merebut kemudi saat nahkoda sedang di anjungan. Tugasnya adalah memberikan data koordinat yang akurat, membaca cuaca dengan tajam, dan memastikan mesin bekerja optimal agar sang nahkoda dapat membawa kapal sampai ke tujuan dengan selamat.

Dalam budaya kita di Mandar, kita mengenal nilai Siapakatu—saling memanusiakan. Dalam konteks ini, memanusiakan atasan berarti menghormati posisi formalnya. Menunjukkan diri “lebih hebat” sering kali tergelincir menjadi perilaku Mappakasiri’ (mempermalukan) secara tidak langsung. Padahal, tugas utama seorang staf ahli atau asisten adalah menjaga marwah kepemimpinan agar kebijakan yang lahir memiliki wibawa di mata rakyat.

Cerdas yang Proporsional

Jangan lebih hebat dari atasan bukan berarti kita harus menjadi bodoh atau pasif. Justru, kita harus sangat cerdas untuk bisa menyederhanakan masalah rumit sehingga atasan dapat mengambil keputusan dengan mudah. Kita harus sangat hebat agar semua ide brilian kita terlihat seolah-olah adalah hasil dari visi sang pemimpin.

Kepuasan tertinggi seorang intelektual di birokrasi bukanlah saat namanya dipuji secara mandiri, melainkan saat ide-idenya diimplementasikan dan membawa perubahan bagi daerah, meskipun ia tetap berada dalam bayang-bayang otoritas.

Penutup

Kesetiaan dan kecerdasan adalah dua sisi mata uang dalam loyalitas. Dengan tidak terlihat “lebih hebat,” kita sebenarnya sedang membangun jembatan kepercayaan yang lebih kokoh. Pada saatnya nanti, ketika panggung itu berpindah kepada kita, kita akan memahami bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang dulunya tahu cara menjadi pengikut yang bijaksana.

Jadilah cahaya yang menerangi jalan bagi atasan, bukan cahaya yang menyilaukan mata mereka. Karena di atas langit masih ada langit, dan di atas kecerdasan, selalu ada etika yang menjaga keberlangsungan pengabdian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *