Oleh: Mashud Azikin
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Makassar setiap hari memproduksi lebih kurang 1.000 ton sampah. Enam puluh persennya adalah sampah organik sisa dapur, sisa pasar, sisa kehidupan kota. Angka ini kerap dibaca sebagai masalah, terutama bagi wilayah yang bersentuhan langsung dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa. Bau, gas, dan beban lingkungan menjadi bagian dari keseharian warga. Namun hari ini, 25 Januari 2026, di Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala, angka-angka itu menemukan maknanya yang lain: biomassa yang bekerja.
Di halaman Kantor Lurah Tamangapa, berlangsung Panen Ecoenzym. Kegiatan ini melibatkan seluruh unsur warga RT/RW, komunitas, Karang Taruna, LPM serta Mahasiswa KKN Tematik Perubahan Iklim Angkatan 115 Universitas Hasanuddin. Dari proses panjang fermentasi sampah organik rumah tangga, hari ini dipanen lebih kurang 1.000 liter ecoenzym. Angka yang sederhana, tetapi sarat pesan ekologis dan sosial.
Ecoenzym adalah wujud konkret dari logika biomassa. Ia lahir dari sisa fotosintesis kulit buah, sisa sayur, limbah dapur yang difermentasi dengan waktu, kesabaran, dan pengetahuan. Dalam konteks Tamangapa, ecoenzym tidak berhenti sebagai produk edukatif. Ia disiapkan sebagai penyanggah ekologis untuk berbagai keperluan, terutama untuk mereduksi bau tak sedap akibat gas sulfida yang berasal dari aktivitas TPA Tamangapa.
Di sinilah biomassa turun dari wacana ke kerja nyata. Sampah organik yang selama ini dianggap sumber masalah justru diolah oleh warga menjadi alat mitigasi lingkungan. Bukan dengan teknologi mahal, tetapi dengan pendekatan yang berbasis komunitas, partisipasi, dan ilmu sederhana yang dapat direplikasi.
Panen ecoenzym hari ini menegaskan satu hal penting: pengelolaan sampah tidak selalu harus menunggu proyek besar atau mesin canggih. Di kota dengan 60 persen sampah organik seperti Makassar, kekuatan justru terletak di hulu di rumah tangga, di lorong, di kelurahan. Ketika biomassa dikelola di dekat sumbernya, beban kota berkurang, dan kualitas hidup warga meningkat.
Keterlibatan mahasiswa KKN Tematik Perubahan Iklim Universitas Hasanuddin memberi dimensi lain pada kegiatan ini. Pengetahuan akademik bertemu praktik warga. Kampus tidak berdiri di menara gading, tetapi hadir di tengah bau, lumpur, dan realitas ekologis kota. Inilah pendidikan iklim yang sesungguhnya: belajar dari proses, bukan sekadar dari modul.
Bagi Tamangapa, panen 1.000 liter ecoenzym bukan sekadar hasil fermentasi. Ia adalah simbol perubahan cara pandang. Bahwa warga di sekitar TPA bukan hanya penerima dampak, tetapi aktor solusi. Bahwa biomassa bukan sekadar istilah teknis, melainkan sumber daya hidup yang bisa dikelola bersama.
Makassar tidak kekurangan bahan baku untuk menjadi kota biomassa. Yang dibutuhkan adalah keberanian menjadikan praktik-praktik seperti ini sebagai arus utama kebijakan lingkungan kota. Panen ecoenzym Tamangapa memberi contoh bahwa transisi menuju kota berkelanjutan bisa dimulai dari skala kecil, dari kerja kolektif, dan dari keyakinan bahwa sampah organik bukan akhir dari siklus, melainkan awal dari pemulihan.
Di Tamangapa hari ini, hijau tidak lagi sekadar wacana. Ia difermentasi, dipanen, dan digunakan. Dan dari sana, harapan itu mengalir perlahan, tetapi nyata menjadi bagian dari jalan Makassar menuju Negeri Biomassa.












