Majene, Potretnusantara.co.id– Seni bukan sekedar persoalan menata kreatifitas apalagi hanya sekedar persoalan keindahan. Kehadiran seni, adalah upaya menyingkap makna dibalik sesuatu. Pengalaman dan kehidupan real yang dialami tanpa ikatan moral ala tradisi, konsep keyakinan ala agama adalah sebuah kehidupan nyata tanpa aturan kaku darinya itu.
Dunia yang dialami adalah makna yang harus digali dan diresapi kerumitannya. Seni menjadi satu-satunya cara menyingkap kehidupan yang memiliki komposisi paling unik dan mendalam daripada sains dan filsafat.
Pada akhirnya seni akan menyingkap kenyataan hidup yang dialami manusia, dengan berbagai polemiknya.
Melalui Komunitas Seni Budaya Paru-parung “Palluluareang”, jejak langkah dan kesatuan nafas pemuda Banggae merajut sisi lain pandangan hidup lewat seni dalam sajian Malam Pertunjukan Seni : MATTOLAK BALA “Seruan Perlawanan Desember Kelam”.

Sebagai bentuk keresahan atas rusaknya lingkungan yang dieksploitasi keserakahan dan ketamakan manusia biadab.
Respon atas adanya tambang di Kec. Pamboang sekaligus Wilayah Adat Adolang yang dijaga dan di hormati para pemangku Adat sejak dahulu kala. Kini, dihujam nafsu dan rasa haus mereka (manusia) tanpa rasa peduli akan akibat kerusakan alam.
Desember kelam adalah bukti bahwa masa itu belum usai dan bumi masih merintih atas mesin-mesin peledak bebatuan alami yang mereka keruk setiap detik.
Rangkaian pertunjukan seni oleh Komunitas Paru-parung adalah bukti kesadaran imaji dan rasa atas eksploitasi alam yang sudah melebihi ambang batas. Sajian Puisi, musik, teatrikalisasi Puisi menjadi monster kritikan yang hendak menghantui pikiran.
27 Desember 2025 tepatnya dibanggae Kab. Majene, Asap dupa mulai dibakar, seiringan nada sumbang Keke dan seruan-seruan semesta yang merestui persembahan seni dari Pemuda Banggae.
Manusia adalah potensi, potensi untuk menumbuhkan dan potensi untuk mematikan. Para pegiat seni asal Banggae Kab. Majene melalui jalur aroma estetika membakar dupa Tolak Bala melalui pertunjukan seni sebagai simbol membangun komunikasi dengan semesta dan meminta restu kepada Yang Maha Kuasa atas persembahan yang hendak dilaksanakan melalui berbagai bentuk kesenian.
Komunitas Seni budaya Paru-parung “Palluluareang” asal Banggae Kab. Majene melihat pengrusakan alam sebagai kekacauan yang perlu dibangun lewat prosesi Makkuliwa : ritual pappeyappu Lino, dari bahasa Mandar “Samalewa” yang berarti keseimbangan. Bumi sedang tidak seimbang dengan adanya kondisi kerusakan sungai, gunung, dan matinya tumbuhan dan hutan. Oleh sebabnya, Seni unjuk gigih dalam melawan dan menyuarakan sebentuk harapan agar bumi lestari dan ekosistem terjaga. Maka tak salah bila seni pertunjukan adalah hasil olah rasa, cipta dan karya manusia dipentaskan diatas panggung.

Bukan hal baru bila seni seyogyanya menyentuh rasa, karena perasaan adalah aspek emosional manusia yang memberi sensasi kesadaran atas apa yang telah menimpa lita’ (Tanah) Adat Adolang.
Sementara, kita tahu bersama jauh sebelum Bangsa Indonesia menjelma negeri. Adat Adolang telah sepenuhnya menjaga tatanan adat : Gunung, hutan, pepohonan/tumbuhan, serta laut dan ekositemnya. Adat Adolang menjamin perlindungan adat yang dipercaya sebagai pappasang : Abiasang dzi Lalangnna Anu Tongan berarti kebiasaan dalam kebenaran. Demikian halnya Seni membentuk kesepahaman rasa melalui estetika kritik pada sajian karya yang tak bisa dipandang sebelah mata memiliki kekuatan atau energi tersendiri dalam dunia ini. Estetika membentangkan nilai spiritual, nilai sejarah, nilai keindahan untuk menyapu aroma “keserakahan” dari semesta bumi Mandar Adolang.
Beberapa diantara sajiannya : Teaterikaliasi Puisi dan Musik dengan judul karya “Pasang Pappeyappu’ Lino : Isyarat Kematian” menjadi pembuka pada event seni tersebut. Dimana ritual Dupa yaitu Massulapa’ adalah simbol menjaga 4 sisi dunia dengan harapan Yang Maha Kuasa memberi perlindungan. Lalu musik menjadi aspek bunyi memberi bising kesadaran, dan suara mewakili kata-kata dalm serangkaian sindiran terhadap tingkah laku dan pertanggungjawaban Manusia.
Salam palluluareang
Editor: Irfan













