Penulis : Rudhi SQ.,M.Ag, Pembina Pondok Pesantren Perguruan Islam Ganra dan Dosen Fakultas Ushuluddin, Dakwah, dan Komunikasi di Universitas Islam As’adiyah Sengkang
Kajian Keislaman, Potretnusantara.co.id – Pergantian tahun bukan sekadar perubahan angka dalam kalender, melainkan berkurangnya jatah usia yang Allah Swt. titipkan kepada kita. Setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali, dan setiap tahun yang berganti membawa satu pesan penting bagi orang beriman: sudah sejauh mana kita memperbaiki diri dan mendekat kepada Allah?
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
Artinya :
“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah
kematian.” (HR. at-Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan bahwa kecerdasan sejati bukan terletak pada banyaknya pengetahuan, melainkan pada kesungguhan muhasabah dan amal saleh. Maka awal tahun 2026 adalah waktu yang tepat untuk
berhenti sejenak, menundukkan hati, dan menata kembali orientasi hidup.
Bencana sebagai Teguran dan Pelajaran Iman
Tahun 2025 telah kita lalui dengan berbagai ujian berat. Bencana alam terjadi di banyak daerah, terutama banjir besar di wilayah Aceh, dan Sumatera, disertai longsor, kebakaran hutan, dan berbagai krisis sosial lainnya.
Semua ini tidak seharusnya kita pandang sebagai peristiwa biasa.
Allah Swt. berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Terjemahnya:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. ar-Rūm [30]: 41)
Ayat ini mengingatkan bahwa kerusakan alam sering kali berakar pada kerusakan akhlak dan kelalaian amanah. Islam memandang alam sebagai ayat-ayat Allah yang hidup, yang harus dijaga dan dimuliakan, bukan dieksploitasi tanpa batas.
Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa musibah yang menimpa manusia bukanlah tanda kebencian Allah, melainkan peringatan agar manusia kembali kepada ketaatan dan taubat. Amanah Kekhalifahan dan Tanggung Jawab Sosial Allah Swt. telah menetapkan manusia sebagai khalifah di bumi:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَْرْضِ خَلِيفَةً
Terjemahnya:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.”
(QS. al-Baqarah [2]: 30)
Khalifah berarti penjaga, pemelihara, dan penanggung jawab. Namun ketika keserakahan dan cinta dunia menguasai hati, amanah ini sering diabaikan.
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menegaskan bahwa kerusakan lahiriah bersumber dari kerusakan batin. Ketika dunia menjadi tujuan utama, keberkahan hidup akan dicabut, meski harta melimpah.
Muhasabah Diri: Jalan Menuju Perubahan
Umar bin Khattab r.a. berkata:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوهَا قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا
“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang.”
Muhasabah tidak cukup hanya menilai ibadah personal, tetapi juga menilai kepedulian sosial.
Rasulullah: bersabda صلى الله عليه وسلم
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Iman yang sejati akan melahirkan empati, solidaritas, dan keberpihakan kepada yang lemah, termasuk para korban bencana.
Taubat dan Tekad Menyongsong 2026
Memasuki tahun 2026, marilah kita awali dengan taubat nasuha, sebagaimana perintah Allah Swt:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. at-Tahrīm [66]: 8)
Taubat sejati harus melahirkan perubahan sikap dan perilaku.
Allah Swt. menegaskan:
إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”(QS. ar-Ra‘d [13]: 11)
Awal tahun 2026 adalah kesempatan, bukan jaminan. Jangan sampai usia bertambah, tetapi kesadaran tetap tertinggal. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang menjadikan pergantian tahun sebagai momentum kembali kepada Allah, memperbaiki akhlak, menjaga alam, dan menebar manfaat bagi sesama.
Allah Swt. berfirman:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”(QS. an-Nūr [24]: 31)Semoga Allah membimbing langkah kita di tahun 2026, menerima taubat kita, dan mengakhiri hidup kita dalam keadaan husnul khatimah.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Kamis, 1 Januari 2026 M













