Oleh : Wahyudi Arifin (PJ LPM Kelurahan Bontorannu)
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Gelaran pemilihan RT/RW di Kota Makassar tahun ini menghadirkan nuansa baru dalam dinamika demokrasi tingkat akar rumput. Proses pemilihan yang berlangsung di berbagai lorong, kompleks perumahan, dan kampung-kampung kota menunjukkan bagaimana partisipasi warga dapat tumbuh ketika ruang demokrasi dijaga dengan baik. Di tengah berbagai tantangan sosial perkotaan, Makassar menampilkan wajah demokrasi yang lebih tertib, transparan, dan akuntabel.
Salah satu aspek yang paling menonjol adalah kesan juridil jujur dan adil yang tercermin dari keterlibatan warga yang semakin aktif, tanpa tekanan yang berarti dari pihak mana pun. Tahapan pencalonan, verifikasi, hingga pemungutan suara berlangsung terbuka, memungkinkan warga mengetahui siapa yang mereka pilih dan apa alasan di balik pilihan tersebut. Di banyak wilayah, tingkat partisipasi bahkan melampaui tahun-tahun sebelumnya, memperlihatkan bahwa warga mulai melihat posisi RT/RW bukan sekadar formalitas administratif, melainkan simbol kepercayaan kolektif.
Inisiasi dan dorongan kuat dari Wali Kota Makassar menjadi salah satu fondasi penting keberhasilan ini. Melalui kebijakan yang menekankan integritas, transparansi, serta penyederhanaan mekanisme pemilihan, Pemerintah Kota berhasil membangun suasana kontestasi yang sehat. Pendekatan ini menegaskan bahwa demokrasi yang ideal tidak harus menunggu panggung besar seperti pemilihan wali kota atau legislatif; ia justru tumbuh paling subur ketika dimulai dari ruang-ruang kecil di tengah masyarakat.
Lebih dari itu, pemilihan RT/RW kali ini memberi pesan bahwa demokrasi bukan hanya tentang menang dan kalah, tetapi tentang keadaban berdemokrasi bagaimana masyarakat menghargai proses, menerima hasil, dan tetap merawat harmoni sosial setelahnya. Para calon dan tim pendukung umumnya menunjukkan sikap dewasa dalam berkompetisi, dan warga sebagai pemegang hak suara menikmati kebebasan memilih tanpa intimidasi maupun intervensi yang mencederai etika politik.
Hasil pemilihan RT/RW di Makassar layak menjadi contoh bahwa demokrasi lokal dapat menjadi jangkar stabilitas sosial. Ketika kejujuran dijaga, keadilan ditegakkan, dan partisipasi dikuatkan, maka masyarakat tidak hanya memilih pemimpin lingkungan, tetapi juga merawat kepercayaan sesama warga. Inilah modal sosial yang amat berharga untuk masa depan kota modal yang dimulai dari lorong-lorong kecil, namun berdampak besar bagi perjalanan demokrasi Indonesia.













