Oleh: Syahiduz Zaman
(Akademisi UIN MMI Malang)
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Ada satu hal yang hampir selalu menarik perhatian manusia sejak zaman dahulu: uang, kekuasaan, dan seks. Kalau ketiganya bertemu dalam satu cerita, biasanya pembaca tidak perlu dipanggil dua kali.
Kasus Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, belakangan ikut membawa persoalan rumah tangga dan kehidupan pribadi ke ruang publik, di tengah berbagai persoalan hukum dan politik yang sedang dihadapinya. Kita tidak perlu ikut menjadi hakim dalam perkara pribadinya, apalagi menjadikan dugaan sebagai fakta. Tetapi kasus semacam ini mengingatkan kita pada cerita yang jauh lebih tua: “Mengapa asmara, seks, perselingkuhan, dan kekuasaan hampir selalu menemukan jalan untuk bertemu” ?
Ternyata ini bukan penyakit zaman sekarang. Bangsa Romawi sudah lebih dahulu mengajarkan bahwa menjadi penguasa tidak membuat seseorang kehilangan libido. Julius Caesar memiliki cerita asmara yang cukup terkenal, sementara kehidupan sejumlah kaisar Romawi sesudahnya bahkan membuat drama keluarga zaman sekarang terasa seperti tontonan anak-anak.
Caligula, Nero, dan beberapa kaisar lainnya menjadi contoh bagaimana kehidupan pribadi penguasa dapat bercampur dengan kekuasaan, kekayaan, kekerasan, dan intrik. Di istana, rupanya urusan ranjang kadang tidak berhenti di kamar tidur; ia bisa masuk ke ruang politik dan ikut menentukan siapa yang hidup, siapa yang mati, dan siapa yang memperoleh jabatan.
Nusantara juga tidak kalah menarik. Kalau ingin mencari cerita asmara sekaligus kekuasaan, kita tidak perlu pergi ke Roma. Cukup membuka kisah Ken Arok dan Ken Dedes.
Ken Arok bukan sekadar tokoh yang ingin mendapatkan perempuan. Ada ambisi untuk naik kelas, merebut kekuasaan, dan membangun kerajaan. Ken Dedes kemudian menjadi bagian dari kisah besar yang memperlihatkan bagaimana perempuan, hasrat, politik, dan legitimasi kekuasaan dapat berkelindan.
Cerita kerajaan-kerajaan Nusantara juga dipenuhi kisah perkawinan politik, selir, perebutan takhta, anak dari berbagai pasangan, kecemburuan, dan konflik keluarga. Bedanya dengan sekarang hanya satu: dulu belum ada media sosial yang bisa membuat skandal kerajaan menjadi trending topic dalam tiga jam.
Mengapa kekuasaan begitu sering bersentuhan dengan Seks?
Jawaban paling sederhana mungkin karena “kekuasaan memperbesar kesempatan”. Orang biasa bisa menyukai seseorang, tetapi belum tentu memiliki keberanian, uang, akses, atau status untuk mendekatinya. Orang berkuasa memiliki lebih banyak pintu yang terbuka, dan lebih sedikit pintu yang berani ditutup di depan wajahnya.
Di situlah masalah mulai muncul. Kekuasaan tidak otomatis membuat manusia menjadi buruk, tetapi kekuasaan dapat membuat manusia lebih mudah memenuhi keinginan yang sebelumnya harus ditahan.
Seorang pejabat yang dipuji setiap hari bisa mulai percaya bahwa dirinya memang luar biasa. Orang-orang di sekelilingnya membutuhkan tanda tangan, jabatan, akses, atau sekadar hubungan baik. Maka kalimat “tidak” semakin jarang terdengar.
Padahal manusia yang terlalu jarang mendengar kata “tidak” berada dalam kondisi yang berbahaya. Ia bisa mulai menganggap keinginan sebagai hak, fasilitas sebagai kewajaran, dan perhatian dari lawan jenis sebagai konsekuensi alamiah dari kedudukannya.
Di sinilah asmara bisa berubah menjadi persoalan kekuasaan. Perselingkuhan seorang pejabat memang pada awalnya bisa dianggap urusan rumah tangga. Tetapi jika hubungan pribadi tersebut kemudian berkaitan dengan jabatan, fasilitas negara, proyek, perlindungan politik, atau keputusan pemerintahan, persoalannya sudah berubah menjadi urusan publik.
Ada pula sisi yang lebih gelap. Orang yang berada di lingkar kekuasaan sering tidak hidup dalam lingkungan sosial yang normal. Banyak orang mendekat bukan karena menyukai dirinya sebagai manusia, tetapi karena menyukai apa yang melekat pada jabatannya.
Pujian datang bersama kepentingan. Perhatian datang bersama kalkulasi. Bahkan cinta pun kadang sulit dibedakan dari strategi. Ini membuat kehidupan asmara seorang penguasa menjadi wilayah yang rumit. Apakah seseorang mencintai dirinya, atau mencintai kekuasaan yang berada di belakang dirinya? Pertanyaan itu sebenarnya setua politik itu sendiri.
Sejarah berkali-kali memperlihatkan bahwa hubungan pribadi penguasa dapat menjadi urusan negara. Perkawinan dapat membentuk aliansi, perselingkuhan dapat memicu konflik, anak dari hubungan tertentu dapat menjadi persoalan suksesi, dan kecemburuan pribadi bisa berubah menjadi keputusan politik.
Kita mungkin menganggap demokrasi modern sudah berhasil memisahkan semua itu. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Kita hanya mengganti “Mahkota dengan Jabatan, Istana dengan kantor Pemerintahan, dan Selir Kerajaan dengan istilah yang lebih Modern”.
Manusianya masih sama.
Karena itu, kasus-kasus yang menyeret kehidupan pribadi pemimpin sebaiknya tidak selalu dibaca sebagai gosip. Ada fenomena sosial yang jauh lebih menarik di belakangnya: “kekuasaan mengubah lingkungan tempat manusia menjalani hidupnya”.
Ketika seseorang memiliki uang, jabatan, pengaruh, pengagum, bawahan, dan akses yang luas, godaan tidak hanya menjadi lebih banyak. Konsekuensinya pun kadang terasa lebih jauh.
Mungkin inilah sebabnya sejak zaman Roma sampai kerajaan Nusantara, dari istana sampai kantor pemerintahan, cerita tentang kekuasaan hampir selalu memiliki subplot yang sama: cinta, seks, perselingkuhan, kecemburuan, dan keluarga.
Kita mengganti zaman, sistem politik, pakaian, kendaraan, dan teknologi komunikasi. Tetapi manusia tetap membawa dua hal yang sangat tua: “Ambisi dan Hasrat”. Dan ketika keduanya bertemu dengan kekuasaan, sejarah biasanya mulai menulis cerita yang menarik.
Editor: S PNs




























