Peristiwa

Kemarau Panjang Landa Polman, Warga Katumbangan Andalkan Sungai Maloso untuk Air Konsumsi

×

Kemarau Panjang Landa Polman, Warga Katumbangan Andalkan Sungai Maloso untuk Air Konsumsi

Sebarkan artikel ini

Polewali Mandar, Potretnusanatara.co.id – Musim kemarau panjang yang melanda di sejumlah wilayah Kabupaten Polewali Mandar, membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih. Hal itu dirasakan langsung oleh warga di Desa Katumbangan, Dusun Ujung, Kecamatan Campalagian, Polewali Mandar, Rabu (29/7/2026). 

Kemarau ini menyebabkan  warga kesulitan mendapatkan air bersih untuk sekedar dikomsumsi. Sejumlah warga terpaksa mengandalkan sungai keruh untuk memenuhi kebutuhan air rumah tangga, termasuk untuk konsumsi sehari-hari.

Warga setempat mengambil air dari Sungai Maloso dengan membuat sumur sederhana  dari resapan air Sungai Maloso. Sumur itu dibuat dengan menggali pasir untuk mendapatkan air yang kemudian digunakan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga.

Salah seorang warga setempat, mengatakan sudah sejak lama masyarakat mengambil air bersih langsung dari sungai Maloso, terutama disaat dimusim kemarau.

“Sudah dari dulu warga ambil air minum di Maloso untuk dikonsumsi,” katanya

Proses pengambilan air dilakukan dengan memanfaatkan resapan air Sungai Maloso. Warga membuat sumur sederhana di sekitar bantaran sungai untuk menampung air yang meresap ke dalam tanah. Air dari sumur tersebut kemudian ditimba dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk konsumsi rumah tangga. Warga setempat menyebut sumber air itu sebagai wai sau-sau, yakni air yang ditimba dari resapan Sungai Maloso.

Kondisi tersebut bukan hal baru bagi masyarakat Dusun Ujung. Ketergantungan terhadap air Sungai Maloso telah berlangsung selama bertahun-tahun. Di tengah keterbatasan akses air bersih, sungai menjadi sumber air yang paling mudah dijangkau warga.

Kepala Desa Katumbangan, Nuranda Tato, mengatakan aktivitas warga mengambil air dari Sungai Maloso telah berlangsung sejak lama. Menurut dia, masyarakat Dusun Ujung menganggap air sungai tersebut layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

“Aktivitas masyarakat memang sudah sejak lama. Masyarakat menjadikan air Sungai Maloso sebagai air bersih yang layak konsumsi bahkan sudah dilakukan sejak dulu” kata Nuranda.

Menurut Nuranda Tato, akses air bersih di Desa Katumbangan hingga kini belum merata. Dari delapan dusun yang ada, sebagian wilayah masih belum mendapatkan layanan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Ia mengatakan pemerintah sebelumnya pernah melakukan pemasangan perpipaan air dari PDAM. Bahkan, sejumlah rumah warga telah dipasangi pipa dan meteran air. Namun, persoalan utamanya adalah sumber air belum mengalir hingga ke Desa Katumbangan.

“Belum sampai. Walaupun beberapa sudah dipasangkan pipa air dan bahkan sudah ada kilometernya, sumber airnya belum sampai ke Desa Katumbangan,” ujar Nuranda.

Kondisi kekurangan air bersih, kata dia, terutama dirasakan warga Dusun Ujung dan Kampung Baru. Pemasangan jaringan perpipaan disebut telah dilakukan di sejumlah wilayah sekitar Katumbangan, tetapi belum menjangkau seluruh dusun.

“Di Dusun Ujung dan Kampung Baru agak kurang air bersihnya. Pernah dipasangi perpipaan, cuma sumber airnya belum sampai ke Katumbangan,” katanya.

Nuranda mengatakan persoalan ketiadaan akses air bersih telah berlangsung sejak puluhan tahun. Sebelum pandemi Covid-19, pemerintah disebut telah melakukan pemasangan jaringan perpipaan di sejumlah wilayah. Namun hingga kini air belum mengalir ke seluruh rumah warga.

“Dari delapan dusun belum ada. Tidak ada PDAM, ini sudah terjadi sejak puluhan tahun,” kata dia.

Pemerintah Desa Katumbangan, kata Nuranda, telah mencoba sejumlah upaya untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga. Salah satunya melalui program penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas).

Di Dusun Kampung Masigi, misalnya, warga sempat mendapatkan akses air bersih dari program tersebut. Berdasarkan hasil pengujian awal, air dinyatakan layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Namun setelah sistem berjalan, kualitas air berubah sehingga warga tidak lagi menggunakannya untuk konsumsi.

“Waktu diambil sampel airnya memang layak untuk diminum sehari-hari. Tapi setelah berjalan, airnya berubah. Warga tidak minum lagi, hanya dipakai untuk mencuci pakaian,” ujar Nuranda.

Nuranda mengatakan pemerintah desa masih menunggu pemerintah daerah untuk mengaktifkan jaringan air yang telah terpasang. Ia menyebut sejumlah rumah bahkan telah memiliki meteran air, tetapi belum mendapatkan aliran air.

“Kami telah mengupayakan dan tinggal menunggu dari pemerintah daerah agar air PDAM berfungsi. Pipa sudah banyak, bahkan ada yang sudah dipasangi meteran di setiap rumah, tapi airnya tidak ada,” kata dia.

Ia mengatakan pemerintah desa belum mengetahui secara pasti kendala teknis yang membuat air belum mengalir hingga ke Katumbangan. Menurut dia, jaringan perpipaan kemungkinan terhubung dengan sumber air dari wilayah lain, tetapi belum tersambung hingga ke desa.

“Ini kami juga tidak tahu apakah dari Botto, Kottar, atau dari mana. Sudah lama, sejak sebelum Covid,” kata Nuranda.

Ia menambahkan pemasangan jaringan perpipaan juga belum dilakukan secara merata. Sebagian dusun telah memiliki jaringan, sementara dusun lainnya belum tersentuh. Begitu pula dengan pemasangan meteran air yang belum tersedia di setiap rumah.

“Pemasangan pipa ini tidak beraturan. Ada dusun yang sudah dipasangi, ada juga yang belum. Pemasangan meteran juga tidak setiap rumah ada,” ujar Nuranda.

Bagi warga Dusun Ujung, persoalan air bersih bukan sekadar masalah yang muncul ketika musim kemarau. Ketergantungan pada Sungai Maloso telah menjadi bagian dari kehidupan mereka selama bertahun-tahun. Ketika jaringan perpipaan belum mengalir, sungai tetap menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan air rumah tangga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *