Oleh: Bung Irfan, Penulis Novel Jalan Sunyi
Opini, Potretnusantara.co.id – Terlihat seorang pemuda ulung berjalan di lorong-lorong kecil, jejak sepatu usamnya tertinggal pada setiap jalan yang berlumpur. Ia terus berjalan sesekali kepalanya tertunduk lesuh. Dalam benaknya, terbayang sebuah ingatan yang masih melekat kuat. Ingatan yang tak pernah memilih buram, memaksanya menghembuskan nafasnya yang kasar. Disinggasana, langit nampak mendung, serpihan-serpihan ingatan kelam menggorogoti secara perlahan kesadarannya.
“Kekuasaan sekali lagi membungkam” kata Raka sembari menendang produk kapitalis.
“Ha ha ha ha..ha ha ha..” tawa Raka menggelegar diantara hembusan angin.
Raka dengan kekecewaan yang tak lagi dapat ditawar dengan apapun kini ia terus menelusuri setapak demi setapak kehidupan yang naif. Bagi Raka menjadi pejalan adalah cara terbaik membungkam tirani yang semakin berkuasa. Walau Raka dalam mimpinya membayangkan kebebasan serta kemerdekaan sebagai seorang nasionalis. Tetapi kenyataan tak pernah berpihak kepadanya.
Pemuda itu, akhirnya terus melanjutkan perjalanannya, sesekali ia bertanya kepada dirinya, “Siapakah dibalik kekuasaan-penindasan yang tak mengenal ampun ini,”
Dengan tawa yang penuh hina, sorot mata tak berhenti menatapnya. Sesekali ia mendengar umpatan yang tertuju padanya. Dengan bengisnya, Raka hanya tersenyum kecil mendengar segala penghinaan dari mulut-mulut yang murah.
“Teman-teman…lihat ada orang gila,” teriak seorang anak yang lagi asik bersepada.
“Mana..mana.mana..hahaha dasarr orang gilaa,” teriak seorang anak yang mengayuh kencang sepedanya mendekat kearah Raka yang sedang duduk dibawah pohon.
Melihat sekumpulan anak menertawai bahkan menghinanya, Raka hanya tertawa sembari menatap langit-langit yang semakin gelap. Alam semesta seakan memahami apa yang ada dalam benak Raka. Rintik hujan perlahan mengguyur bumi yang telah kehilangan sebagian dari dirinya. Seperti alam semesta yang tak lagi memiliki fatamorgana yang memukau disetiap keindahan yang dimilikinya, Raka sekali lagi tersenyum naif setelah dihempaskan oleh kekejaman penguasa kepada dirinya.
“Seperti mereka yang tak kuasa menahan tawanya saat para cukong-cukong merampok di istana sang tuan,” bisik Raka pada pohon belukar lalu ia melangkah pergi menerjang derasnya hujan. Suara riuh hujan bak irama yang menghanyutkan kesadaran Raka. Alam kesadaranya seakan dipantik yang membawanya menjadi seorang penyair gelandangan.
Ha ha ha ha..
Kau pencundang,
Kau bengis,
Dasarrr..naifff cuihhh
Ha ha ha ha ha..
Kau telah mati,
Kau mati,
Kau binasa,
Syair-syair yang mengudara menerjang bangunan yang menguras banyak pajak rakyat yang sengsara. Raka semakin dibuat muak tatkala ia melihat sebuah mobil Avanza berplat merah melaju kencang hingga mencipratkan air yang mengenai rambut gondrongnya. Umpatan dari bibir Raka yang pecah-pecah seakan tak ingin berhenti.
Hujan di desa itu seakan tak ingin berhenti. Nampak air tergenang di jalan yang berlubang, got penuh dengan tumpukan sampah yang entah dari mana datangnya. Raka terus berjalan, menelusuri setapak demi setapak jalan bebatuan. Baginya, kenyataan tak selamanya ditolak melainkan menjadi ruang kesadaran, bagaimana kekuasaan mengambil alih kendali atas kebebasan dan kemerdekaan.
Kenyataan pahit yang mesti diterima oleh Raka ketika ia sudutkan oleh dosen yang ia anggap sebagai seseorang yang akan mencerdaskan dirinya dan kawan-kawannya. Dirinya seakan ditelanjangi oleh teori-teori yang dipaparkan oleh Pak Bambang yang senantiasa menggebor-gengborkan teori yang membebaskan berpikir. Namun teori dan realita tak selamanya berbanding lurus, seperti itulah yang dialami oleh Raka. Hanya karena Raka mempertanyakan “Siapa yang memberi makan si orang miskin? Siapa yang akan peduli dengan kelaparan, Siapakah sang penyelamat itu, Tuhan atau Tuan atau sebaliknya si Hamba yang akan menyelematkan dirinya” dirinya ditepak dari ruang kelas bahkan kampus.
Sebuah potret realitas dalam pendidikan yang tak selamanya menjadikan seorang individu berpikir kritis ketika kekuasaan bersemayam dalam bangku pendidikan. Seperti yang dialami Raka yang harus terbuang hanya karena ia melontarkan pertanyaan kritis yang telah menggoyahkan antek-antek penguasa.














