Politik

Pengamat Politik: Musda DPD I Golkar Sulsel Semestinya Jadi Forum Pembelajaran Politik, Bukan Arena Saling Mencederai

×

Pengamat Politik: Musda DPD I Golkar Sulsel Semestinya Jadi Forum Pembelajaran Politik, Bukan Arena Saling Mencederai

Sebarkan artikel ini

Makassar, Potretnusantara.co.id – Akademisi dan Pengamat Politik, Dr. Syamsul Bahri, menilai Musyawarah Daerah (Musda) DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan harus dijadikan sebagai momentum pembelajaran politik bagi seluruh kader, bukan menjadi ajang yang memicu perpecahan ataupun saling mencederai di internal partai.

Menurutnya, kontestasi dalam organisasi politik merupakan sesuatu yang wajar dan menjadi bagian dari proses demokrasi. Namun, kompetisi tersebut harus dijalankan dengan menjunjung tinggi etika politik serta tetap menjaga soliditas organisasi.

“Musda DPD I Golkar Sulawesi Selatan semestinya dijadikan sebagai forum pembelajaran politik bagi seluruh kader. Belajar berorganisasi berarti belajar berdemokrasi tanpa saling mencederai. Perbedaan pilihan adalah hal yang biasa, tetapi persaudaraan dalam partai harus tetap terjaga,” ujar Dr. Syamsul Bahri, Kamis (16/7/2026).

Ia menegaskan, salah satu modal utama dalam menjaga kekuatan Partai Golkar adalah komunikasi politik yang baik di seluruh tingkatan kepengurusan, mulai dari DPD I, DPD II, hingga organisasi sayap partai.

“Yang paling penting adalah menjaga komunikasi politik antar pengurus di semua jenjang dan struktur Partai Golkar. Kompetisi boleh terjadi, tetapi komunikasi tidak boleh terputus. Sebab, setelah Musda selesai, seluruh kader akan kembali bekerja bersama membesarkan partai,” katanya.

Dr. Syamsul Bahri menjelaskan bahwa dalam perspektif akademik, demokrasi internal partai merupakan indikator penting bagi kematangan sebuah organisasi politik. Menurutnya, keberhasilan Musda tidak hanya diukur dari terpilihnya seorang ketua, tetapi juga dari kemampuan seluruh kader menjaga persatuan setelah proses demokrasi berakhir.

Ia juga menilai dinamika politik yang ditunjukkan Ketua DPD II Partai Golkar Kota Makassar, Munafri Arifuddin (Appi), menjadi salah satu contoh penting dalam menjaga etika politik di internal partai.

“Appi memperlihatkan bahwa dinamika politik di Partai Golkar Kota Makassar dapat dijalankan dengan tetap menjaga komunikasi organisasi. Sikap seperti inilah yang perlu menjadi pembelajaran bagi seluruh kader Golkar Sulawesi Selatan, bahwa kepentingan partai harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia berharap pelaksanaan Musda DPD I Golkar Sulawesi Selatan mampu menghasilkan kepemimpinan yang memiliki legitimasi kuat sekaligus memperkokoh soliditas partai dalam menghadapi agenda politik ke depan.

“Musda bukan semata memilih ketua, tetapi juga membangun kedewasaan politik organisasi. Siapa pun yang terpilih nantinya harus menjadi pemimpin bagi seluruh kader, bukan hanya bagi kelompok pendukungnya. Dengan begitu, Golkar Sulawesi Selatan akan semakin kuat, solid, dan siap menghadapi tantangan politik ke depan,” tutup Dr. Syamsul Bahri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *