Politik

Dinamika Musda Golkar Sulsel, Pengamat Sebut Appi Pilih Jeda Spiritual

×

Dinamika Musda Golkar Sulsel, Pengamat Sebut Appi Pilih Jeda Spiritual

Sebarkan artikel ini

Makassar, Potretnusantara.co.id – Dinamika Musyawarah Daerah (Musda) XI DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) terus menjadi perhatian publik. Menjelang penutupan Musda di Makassar, proses kontestasi kepemimpinan dinilai semakin mengerucut setelah tahapan administrasi dan mekanisme internal partai berjalan.

Di tengah dinamika tersebut, keberangkatan Wali Kota Makassar sekaligus kader Partai Golkar, Munafri Arifuddin atau Appi, untuk menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci memunculkan berbagai spekulasi. Sejumlah pihak menafsirkan langkah tersebut sebagai bentuk kekecewaan atas proses Musda. Namun, pengamat politik menilai keputusan itu tidak dapat dimaknai secara sederhana.

Pengamat politik Arief Wicaksono mengatakan keberangkatan Appi justru menunjukkan sikap politik yang matang di tengah situasi yang berkembang dalam Musda.

“Keberangkatan Appi ke Mekkah di tengah badai politik bukanlah pelarian atau tanda kerapuhan. Itu adalah jeda spiritual yang krusial, sebuah kesadaran untuk menjauhkan diri dari syahwat kekuasaan yang fana,” kata Arief, Kamis (16/7/2026).

Menurut Arief, dalam konteks budaya Bugis-Makassar, politik tidak semata dipahami sebagai perebutan jabatan, tetapi juga berkaitan dengan menjaga kehormatan dan martabat. Nilai Siri’ na Pacce, kata dia, mengajarkan pentingnya kesabaran dan keikhlasan ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan.

Ia menilai sikap tenang yang ditunjukkan Appi dapat dibaca sebagai upaya menjaga soliditas organisasi tanpa mempertontonkan reaksi emosional terhadap dinamika yang terjadi.

Sementara itu, Ketua DPD Partai Golkar Kota Makassar periode 2021–2025, Barly RM, mengajak kader dan simpatisan untuk tetap menjaga konsolidasi di tingkat akar rumput.

“Bagi masyarakat akar rumput di Makassar, ketenangan Appi harus dimaknai sebagai sinyal untuk mengonsolidasikan barisan, bukan perintah untuk bubar jalan mencari selamat masing-masing. Struktur formal partai di tingkat provinsi boleh saja berganti nakhoda, dan itu adalah realitas organisasi yang harus dihormati,” ujar Barly, Kamis (16/7/2026).

Menurut Barly, legitimasi seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh posisi struktural dalam organisasi, tetapi juga oleh tingkat penerimaan masyarakat dan kader di lapangan.

Arief juga menambahkan, absennya Appi dalam forum Musda justru membuka ruang untuk kembali memperkuat komunikasi dengan basis pendukung dan masyarakat.

“Politik itu selalu bergerak melingkar, tidak pernah permanen. Kepemimpinan yang baik adalah yang ditempa oleh waktu, bukan lahir dari fasilitas instan secarik diskresi. Kelak, ketika target elektoral menuntut pembuktian nyata, lembar-lembar survei ilmiah dan kerja lapangan yang akan menjadi pemandu utama,” tutur Arief.

Barly menegaskan, Musda bukanlah akhir dari perjalanan politik seorang kader. Ia meminta relawan dan simpatisan tetap menjaga soliditas menghadapi agenda politik ke depan.

“Bagi seluruh relawan dan simpatisan setia Munafri Arifuddin, tidak ada alasan untuk menunduk. Rapatkan barisan dalam keheningan yang terukur. Perjalanan politik masih sangat panjang menuju tahun-tahun politik ke depan,” pungkas Barly.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *