WhatsApp Image 2026-05-26 at 14.00.42 (1)
PlayPause
previous arrow
next arrow
Opini

Ismail Modern Itu Bernama Kenyamanan: Refleksi Iduladha dari Tumpukan Sampah Makassar

×

Ismail Modern Itu Bernama Kenyamanan: Refleksi Iduladha dari Tumpukan Sampah Makassar

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mashud Azikin

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Setiap Idul Adha datang, langit kota dipenuhi gema takbir. Orang-orang berbondong menuju masjid, anak-anak berlarian membawa kupon pembagian daging, sementara aroma sate mulai mengepul dari halaman rumah-rumah warga. Di balik suasana yang hangat itu, sesungguhnya ada sebuah pelajaran besar yang terus diwariskan dari zaman Nabi Ibrahim hingga hari ini: tentang keberanian manusia mengalahkan ego dirinya sendiri.

Namun, di tengah semarak itu, ada satu tempat di Makassar yang jarang kita hubungkan dengan makna kurban. Tempat itu adalah TPA Tamangapa di Antang.

Di sana, tidak ada gema takbir. Yang terdengar hanyalah deru truk pengangkut sampah yang datang tanpa henti. Gunungan limbah terus bertambah setiap hari. Plastik bekas pembungkus makanan, botol sekali pakai, styrofoam, hingga kantong hitam bekas pembagian daging kurban menumpuk menjadi lanskap baru kota ini.

Kadang saya membayangkan, berapa banyak kantong plastik yang digunakan hanya dalam satu hari Iduladha di Makassar? Berapa banyak limbah yang tersisa setelah semua orang merasa telah selesai beribadah?

Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi diam-diam mengguncang nurani: apakah ibadah kita sudah benar-benar menghadirkan rahmat bagi bumi, atau justru meninggalkan luka baru bagi lingkungan tempat kita hidup?

Di situlah saya merasa kisah Nabi Ibrahim perlu dibaca ulang, bukan hanya sebagai cerita pengorbanan personal, melainkan juga sebagai pelajaran ekologis bagi manusia modern.

Nabi Ibrahim diperintahkan untuk mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya. Ujian itu bukan sekadar tentang pisau dan penyembelihan, melainkan tentang kemampuan manusia melepaskan keterikatan terhadap dunia.

Hari ini, “Ismail” modern itu mungkin bukan lagi anak atau harta benda. Ia hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan kita sehari-hari: kenyamanan instan.

Kita terlalu terbiasa hidup dengan budaya pakai lalu buang. Plastik dianggap praktis. Styrofoam dianggap murah. Air minum kemasan dianggap mudah. Semua dipakai beberapa menit, lalu dibuang untuk menjadi beban bumi selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Ironisnya, pola hidup seperti itu sering tetap kita bawa bahkan ke dalam ruang ibadah.

Setiap Iduladha, ribuan kantong plastik digunakan untuk membagikan daging kurban. Setelah daging dimasak, plastik itu pun berakhir di got, kanal, sungai, lalu akhirnya menumpuk di Antang. Kita mungkin merasa telah menunaikan ibadah dengan sempurna, tetapi bumi menerima sisa-sisa yang tidak pernah benar-benar selesai.

Padahal, inti kurban sejatinya adalah kesediaan untuk mengurangi ego dan mengendalikan diri.

Maka, ketika seseorang rela membawa wadah sendiri dari rumah untuk mengambil daging kurban, sesungguhnya ia sedang belajar mengorbankan kenyamanan kecil demi kemaslahatan yang lebih besar. Ketika panitia masjid memilih daun pisang atau besek bambu dibanding plastik sekali pakai, itu bukan sekadar soal tradisi, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral terhadap lingkungan.

Agama, dalam makna terdalamnya, tidak pernah mengajarkan manusia untuk merusak bumi atas nama ibadah.
Saya sering melihat sendiri bagaimana darah hewan kurban dibiarkan mengalir ke drainase warga. Bau amis bertahan berhari-hari. Jeroan dicuci di kanal hingga air berubah keruh. Sampah sisa penyembelihan menumpuk di sudut jalan sebelum akhirnya diangkut ke tempat pembuangan akhir.

Padahal tanah memiliki kemampuan luar biasa untuk memulihkan dirinya sendiri.
Darah, kotoran, dan limbah organik sebenarnya bisa dikembalikan ke bumi melalui lubang biopori atau pengomposan sederhana. Alam sudah disiapkan Tuhan dengan sistem daur ulang yang sempurna. Yang sering bermasalah justru cara manusia memperlakukan alam secara serampangan.

Dalam ajaran Islam, manusia disebut sebagai khalifah di muka bumi. Artinya, kita bukan pemilik mutlak alam ini, melainkan penjaga yang diberi amanah. Amanah itu tidak berhenti pada ritual salat dan puasa, tetapi juga menyentuh cara kita memperlakukan air, tanah, udara, dan seluruh kehidupan di sekitar kita.

Karena itu, menjaga lingkungan sesungguhnya bukan sekadar urusan teknis atau program pemerintah. Ia adalah bagian dari akhlak.

Kota yang religius semestinya juga menjadi kota yang bersih.
Makassar hari ini sedang menghadapi persoalan sampah yang serius. TPA Antang terus menanggung beban yang semakin berat. Di sisi lain, masyarakat juga semakin akrab dengan pola hidup konsumtif.

Dalam situasi seperti ini, Iduladha seharusnya dapat menjadi momentum perubahan budaya.
Bayangkan jika seluruh masjid di Makassar mulai menerapkan gerakan kurban ramah lingkungan. Jamaah datang membawa wadah sendiri. Panitia tidak lagi menggunakan plastik sekali pakai. Limbah organik diolah menjadi kompos. Darah hewan tidak dibuang ke kanal. Air pencucian tidak mencemari lingkungan sekitar.
Mungkin terlihat sederhana, tetapi perubahan besar memang selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama-sama.

Kita sering berpikir bahwa menyelamatkan bumi harus dimulai dengan teknologi mahal dan kebijakan besar. Padahal, kadang yang dibutuhkan hanya kesadaran untuk berhenti hidup berlebihan.

Al-Qur’an sendiri mengingatkan bahwa yang sampai kepada Tuhan bukanlah darah dan daging kurban, melainkan ketakwaan manusia.
Di zaman sekarang, ketakwaan itu barangkali juga berarti kesadaran ekologis: kemampuan memahami bahwa bumi bukan tempat sampah raksasa yang boleh dieksploitasi tanpa batas.

Pada akhirnya, jejak Nabi Ibrahim tidak hanya dapat dibaca di padang pasir Makkah, tetapi juga di tengah tumpukan sampah kota modern seperti Antang.

Pertanyaannya tinggal satu: apakah kita berani menyembelih ego konsumtif kita sendiri?

Sebab mungkin, pengorbanan terbesar manusia hari ini bukan lagi tentang menyerahkan apa yang dimiliki, melainkan tentang belajar hidup secukupnya agar bumi tetap layak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dan jika itu bisa kita lakukan, maka Iduladha tidak hanya menjadi perayaan ritual tahunan, tetapi juga menjadi jalan menuju Makassar yang lebih berkah, lebih bersih, dan lebih manusiawi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *