Oleh: Muhammad Saleh
Dosen Bahasa dan Sastra UNM
Kajian Islam, Potretnusantara.co.id – Ramadan adalah madrasah besar bagi lisan. Namun, ujian sesungguhnya dari keberhasilan puasa adalah bagaimana lisan tersebut berinteraksi di ruang publik pasca-Ramadan. Dalam perspektif Religiolinguistik, inti dari peradaban yang mulia terletak pada “Qaulan” sebuah standar kesantunan berbahasa yang diturunkan Tuhan untuk mengatur lalu lintas komunikasi antarmanusia. Tanpa kesantunan Qaulan, sebuah masyarakat mungkin maju secara teknologi, namun runtuh secara kemanusiaan.
Enam Pilar Qaulan: Konstitusi Bahasa Qur’ani
Al-Qur’an tidak membiarkan manusia berkomunikasi tanpa arah. Ia memberikan enam pilar kesantunan yang presisi: Sadida (kebenaran), Baligha (ketepatan), Ma’rufa (kebaikan sosial), Karima (kemuliaan), Layyina (kelembutan), dan Maysura (kemudahan). Secara religiolinguistik, keenam pilar ini adalah SOP (Standard Operating Procedure) untuk menciptakan harmoni sosial. Masyarakat yang berperadaban adalah mereka yang mampu memilih diksi Layyina saat terjadi konflik dan menggunakan Sadida saat menyampaikan data.
Kesantunan sebagai Energi Transformasi Sosial
Dalam kajian religiolinguistik, kata-kata memiliki energi Translokusi. Sebuah kata yang santun (Qaulan Karima) mampu mengubah lawan menjadi kawan, dan ketegangan menjadi ketenangan. Masyarakat berperadaban menyadari bahwa lisan adalah cermin kedalaman taqwa. Kesantunan bukan sekadar basa-basi formalitas, melainkan wujud penghormatan terhadap martabat sesama manusia sebagai ciptaan-Nya. Di sinilah religiolinguistik menjadi instrumen untuk memanusiakan manusia melalui bahasa.
Output Ramadan: Diplomasi Lisan yang Bertaqwa
Lulusan madrasah Ramadan adalah mereka yang telah berhasil melakukan “puasa lisan” dari kata-kata yang menyakitkan, hoaks, dan caci maki. Mereka keluar menjadi duta-duta kesantunan di tengah masyarakat. Dengan mempraktikkan Qaulan, mereka sedang membangun fondasi peradaban yang sejuk dan stabil. Ketakwaan yang diraih selama satu bulan penuh kini menjelma menjadi Etika Komunikasi yang luhur di sisa sebelas bulan berikutnya.
Penutup
Peradaban sebuah bangsa dapat diukur dari seberapa santun warga negaranya berbicara satu sama lain. Melalui bingkai Religiolinguistik, kita diajak untuk kembali pada standar Qaulan yang diajarkan Al-Qur’an. Mari kita jadikan setiap kata yang keluar dari lisan kita sebagai batu bata yang memperkokoh bangunan peradaban, bukan peluru yang meruntuhkan persaudaraan. Sebab, lisan yang bertaqwa adalah lisan yang selalu memilih kata terindah untuk dunia yang lebih baik.
ربّ اغفرلي…













