Oleh: Mashud Azikin
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Ada satu kesadaran baru yang mulai tumbuh di Makassar: kota tidak lagi bisa diselamatkan hanya dengan pendekatan teknokratis. Jalan diperlebar, drainase diperbaiki, armada sampah ditambah semua penting, tetapi belum cukup. Kota membutuhkan imajinasi. Kota membutuhkan ruang yang mempertemukan gagasan, kreativitas, dan tanggung jawab kolektif. Di titik inilah Makassar Creative Hub menemukan relevansinya.
Satu tahun pemerintahan Munafri Arifuddin dan Alia Mustika Ilham memperlihatkan arah yang mulai menata dua hal sekaligus: pembangunan kota dan pembentukan kesadaran warganya. Creative Hub bukan sekadar proyek ruang kreatif. Ia adalah pesan bahwa pembangunan tidak hanya dikerjakan pemerintah, tetapi harus ditumbuhkan bersama masyarakat.
Dalam format pembangunan kota modern, Creative Hub adalah “mesin gagasan”. Ia menghubungkan komunitas, anak muda, pelaku usaha, aktivis lingkungan, dan pemerintah dalam satu ruang kolaborasi. Dari sinilah inovasi lahir bukan hanya dalam seni dan ekonomi kreatif, tetapi juga dalam menjawab isu lingkungan hidup yang semakin mendesak.
Makassar hari ini menghadapi tantangan klasik kota berkembang: persampahan, kebersihan, dan perubahan perilaku warga. Pemerintah Kota sedang menggenjot pembenahan sistem pengelolaan sampah, memperkuat regulasi, serta meningkatkan pelayanan kebersihan. Namun pengalaman banyak kota menunjukkan, persoalan sampah bukan semata soal sistem. Ia adalah soal budaya.
Creative Hub dapat menjadi jembatan antara kebijakan dan perubahan perilaku. Ruang ini bisa melahirkan kampanye kreatif tentang pemilahan sampah, desain produk daur ulang, edukasi eco-lifestyle, hingga gerakan komunitas berbasis lingkungan. Persoalan yang selama ini terasa teknis dapat diolah menjadi gerakan sosial yang hidup.
Dalam perspektif ini, Creative Hub tidak lagi hanya bicara desain grafis atau konten digital, tetapi juga desain solusi lingkungan. Anak-anak muda Makassar memiliki energi besar: mereka bisa mengubah sampah menjadi karya, limbah plastik menjadi produk, dan isu kebersihan menjadi gerakan publik yang menarik. Kreativitas memberi wajah baru pada upaya pelestarian lingkungan tidak kaku, tidak menggurui, tetapi mengajak.
Gaya pembangunan seperti ini penting. Kota tidak akan bersih hanya karena armada bekerja siang malam. Kota bersih lahir dari kesadaran kolektif. Dan kesadaran seringkali tumbuh bukan dari aturan, tetapi dari pengaruh sosial, komunitas, dan budaya populer. Creative Hub punya kekuatan untuk menggerakkan itu.
Dalam satu tahun pemerintahan MULIA, langkah-langkah penataan kota mulai terlihat: penguatan pelayanan, dorongan kebersihan, dan upaya membangun partisipasi warga. Creative Hub dapat menjadi simpul yang mengikat semuanya. Ia mempertemukan kebijakan dengan kreativitas, regulasi dengan partisipasi, program pemerintah dengan gerakan komunitas.
Makassar memiliki pengalaman panjang dalam gerakan lingkungan berbasis masyarakat. Edukasi eco enzyme, bank sampah, hingga komunitas daur ulang telah tumbuh di berbagai wilayah. Jika ruang-ruang seperti Creative Hub mampu mengonsolidasikan gerakan ini, maka kebijakan pemerintah tidak berjalan sendiri. Ia akan memiliki energi sosial yang menopang.
Di sinilah masa depan kota dipertaruhkan. Apakah Creative Hub akan menjadi ruang hidup yang memproduksi solusi, atau sekadar ruang acara yang ramai sesaat. Apakah ia mampu menjawab isu nyata seperti persampahan, atau berhenti pada simbol kreativitas yang indah di permukaan.
Gaya pembangunan kota hari ini menuntut integrasi. Ekonomi kreatif tidak boleh berdiri sendiri, lingkungan hidup tidak boleh berjalan sendiri, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Semua harus dipertemukan dalam satu ekosistem. Creative Hub menyediakan kemungkinan itu.
Jika dikelola dengan konsisten, ia bisa menjadi pusat lahirnya inovasi lingkungan berbasis komunitas: desain kampanye kebersihan kota, inkubasi usaha daur ulang, laboratorium ide pengurangan sampah rumah tangga, hingga gerakan publik yang membentuk kebiasaan baru warga Makassar.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan tidak semata pada banyaknya program, tetapi pada perubahan perilaku dan arah kebudayaan kota. Creative Hub dapat menjadi simpul yang menguatkan keduanya kebijakan publik yang berjalan, dan kesadaran warga yang tumbuh. Pemerintah bekerja menata sistem, masyarakat bergerak menjaga lingkungan, komunitas menghidupkan partisipasi.
Di ruang temu itulah Makassar menata masa depannya: kota yang bersih tanpa kehilangan kreativitasnya, kota yang maju tanpa tercerabut dari kesadaran ekologisnya, dan kota yang dibangun bersama dengan akal sehat, kerja kolektif, serta komitmen yang terjaga dalam koridor kepentingan publik.
Profile Penulis
Mashud Azikin adalah pegiat lingkungan asal Makassar, pendiri Komunitas Manggala Tanpa Sekat yang aktif mengedukasi pengolahan sampah, eco enzyme, dan gerakan ekonomi sirkular berbasis masyarakat. Tulisan-tulisannya berfokus pada isu lingkungan, pembangunan kota, dan partisipasi sosial dengan pendekatan humaniora populer.















