Polewali Mandar, Potretnusantara.co.id – Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar mendorong transformasi metode bimbingan manasik haji dari pola konvensional menuju pendekatan digital yang lebih interaktif. Gagasan tersebut disampaikan Staf Ahli Bupati Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan, Dr. Aco Musaddad HM, saat mewakili Bupati Polewali Mandar dalam pembukaan Manasik Haji Tingkat Kabupaten.
Dalam sambutan yang mewakili Bupati, Dr. Aco Musaddad menyampaikan empat pesan Bupati kepada calon jamaah haji Polewali Mandar sekaligus mengajukan usulan strategis kepada Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Sulawesi Barat agar melakukan pembaruan metode manasik haji.
Menurutnya, transformasi metode bimbingan haji menjadi kebutuhan mendesak seiring perkembangan teknologi dan tuntutan efektivitas pembelajaran bagi jamaah.
Salah satu poin utama yang diusulkan adalah digitalisasi manasik haji. Ia menilai, pemanfaatan teknologi dapat membantu jamaah memahami tahapan ibadah secara lebih presisi dan komprehensif.

Selain itu, Dr. Aco mengusulkan penerapan formula pembelajaran 80:20, yakni 80 persen visualisasi dan 20 persen ceramah. Ia menilai metode ceramah yang selama ini mendominasi cenderung membuat jamaah cepat lelah dan kurang fokus.
“Kita butuh pendekatan baru. Ke depan, manasik sebaiknya menggunakan 80 persen visualisasi dan hanya 20 persen ceramah. Dengan melihat simulasi visual, jamaah akan lebih mudah membayangkan kondisi di Tanah Suci,” ujar Dr. Aco Musaddad.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar menyatakan kesiapan memfasilitasi kegiatan manasik haji di Ruang Pola Kantor Bupati Polman. Fasilitas tersebut dinilai memadai karena telah dilengkapi videotron berukuran besar, ruangan berpendingin udara, serta perangkat audio-visual yang menunjang pembelajaran berbasis multimedia.
Poin lain yang ditekankan adalah pembelajaran berbasis kelompok kecil (small groups). Metode ini dinilai efektif untuk memperdalam pemahaman jamaah melalui interaksi yang lebih intensif, baik dalam sesi tanya jawab maupun simulasi praktik ibadah.
Dengan kesiapan infrastruktur dan konsep tersebut, Dr. Aco Musaddad optimistis Kabupaten Polewali Mandar dapat menjadi pilot project atau percontohan penerapan digitalisasi metode manasik haji dan umrah, tidak hanya di Sulawesi Barat, tetapi juga secara nasional.
“Inovasi ini bertujuan agar jamaah kita tidak hanya siap secara fisik dan finansial, tetapi benar-benar menguasai tata cara ibadah secara visual sebelum menginjakkan kaki di Makkah dan Madinah,” pungkasnya.













