AdvertorialPendidikan

Kolaborasi Dongeng Kampoeng dan Mahasiswa KKN Gelar Temu Literasi di Katumbangan

×

Kolaborasi Dongeng Kampoeng dan Mahasiswa KKN Gelar Temu Literasi di Katumbangan

Sebarkan artikel ini

Polewali Mandar, Potretnusantara.co.id – Dongeng Kampoeng berkolaborasi dengan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Al Asyariah Mandar (UNASMAN) dan Universitas Sulawesi Barat (UNSULBAR) menggelar kegiatan Temu Literasi di Taman Salosso, Desa Katumbangan, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, Kamis (22/1/2026).

Temu Literasi merupakan agenda rutin Dongeng Kampoeng yang bertujuan meningkatkan minat baca generasi muda, khususnya di wilayah pedesaan. Pada pelaksanaan kali ini, kegiatan dirangkaikan dengan lapak baca, bedah novel Jalan Sunyi, serta panggung ekspresi yang menampilkan puisi dan musikalisasi.

Adv

Kegiatan diawali dengan diskusi dan bedah novel Jalan Sunyi yang menghadirkan langsung penulisnya, Irfan. Dalam pemaparannya, Irfan menjelaskan proses kreatif penulisan novel tersebut yang berangkat dari pengalaman pribadinya semasa menjadi mahasiswa.

“Buku ini saya tulis sejak tahun 2023 berdasarkan pengalaman nyata semasa jadi mahasiswa. Bukan hanya pengalaman pribadi, tetapi juga lahir dari ruang-ruang diskusi bersama teman-teman,” ujar Irfan.

Ia menegaskan bahwa novel tersebut tidak hanya berkisah tentang romantisme, tetapi juga memotret realitas sosial yang masih dihadapi masyarakat hingga saat ini.

“Novel ini tidak hanya terfokus pada perjalanan romantisme sepasang kekasih, melainkan sebuah perjalanan intelektual melihat kenyataan yang dialami masyarakat yang masih dalam penderitaannya hingga hari ini,” tambahnya.

Diskusi kemudian berkembang ke isu lingkungan dan konflik agraria yang belakangan marak terjadi di Polewali Mandar. Ebel, selaku pembicara kedua, menyoroti kompleksitas persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya warga Passairang, Desa Parappe, yang hingga kini masih berjuang melalui jalur hukum untuk mempertahankan ruang hidup mereka.

“Hari ini masalah yang dihadapi masyarakat terbilang sangat banyak dan kompleks. Seperti yang dialami masyarakat Passairang yang masih berjuang mempertahankan ruang hidup mereka. Saat ini mereka berada di tahap kasasi, dan biaya perkara tidak sedikit, bahkan jika diakumulasi bisa mencapai Rp100 juta. Bahkan tingkat literasi masyarakat disana pun cukup memprihatinkan,” jelasnya.

Setelah sesi bedah buku dan diskusi isu sosial, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab sebagai ruang refleksi dan umpan balik peserta. Salah seorang mahasiswa KKN UNASMAN menyampaikan keprihatinannya terhadap menurunnya budaya literasi, khususnya di kalangan mahasiswa.

Ia menilai semakin terbatasnya ruang dialektika di ruang kelas serta dominasi teknologi digital menjadi tantangan serius dalam meningkatkan minat baca.

“Tantangan yang dihadapi saat ini adalah perkembangan teknologi yang makin maju dan tak terkontrol. Hal ini menjadi hambatan bagi mahasiswa untuk meningkatkan literasi. Ketergantungan terhadap teknologi informasi membuat kebiasaan membaca buku semakin berkurang,” ungkapnya.

Mahasiswa ataupun pemuda yang turut hadir dalam Temu Literasi ini secara tegas menyatakan bahwa betapa pentingnya literasi. Terkhsusnya menanamkan kebiasaan membaca buku agar pengetahuan yang miliki tidak monoton melainkan berkembang lebih maju. Tujuan dari kegiatan ini adalah sebuah upaya menanamkan minat baca sejak dini dan mendorong kebiasaan menulis. Karena bagaimanapun minat baca pada generasi muda hari ini benar-benar sangat memperihatinkan oleh karenanya kebiasaan membaca dan menulis itu mesti tetap di dorong di tengah-tengah perkembangan teknologi.

Kegiatan Temu Literasi ditutup dengan pembacaan puisi, musikalisasi, serta foto bersama seluruh pihak yang terlibat. Kegiatan ini menjadi pengingat akan pentingnya literasi sebagai fondasi pembentukan karakter dan intelektualitas generasi muda.

Penulis: Irfan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *