Makassar, Potretnusantara.co.id – Pengukuhan Pengurus Pusat Ikatan Alumni Pesantren Modern IMMIM (PP IAPIM) masa bakti 2025-2030 berlangsung khidmat di Balai Prajurit M. Jusuf, Makassar, Jumat (16/1/2026). Acara tersebut dirangkaikan dengan Pidato Wawasan Kebangsaan yang disampaikan Laksamana Muda TNI (Purn) Dr. Ir. Abdul Rivai Ras, M.S., M.Si., M.M.
Tokoh nasional yang akrab disapa Bro Rivai itu menegaskan peran strategis IAPIM sebagai jembatan antara nilai-nilai pesantren dan tantangan kebangsaan ke depan. Menurutnya, organisasi alumni tidak cukup hanya menjadi ruang silaturahmi, tetapi harus mampu mentransformasikan nilai keislaman ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“IAPIM tidak boleh berhenti sebagai wadah nostalgia. Ia harus menjadi kekuatan moral dan intelektual yang ikut menentukan arah masa depan bangsa,” ujar Bro Rivai dalam pidatonya.
Sebagai alumni Pesantren Modern IMMIM, Bro Rivai mengingatkan bahwa Indonesia terbentuk melalui proses sejarah panjang. Masuknya Islam ke Nusantara, kata dia, berlangsung melalui pendekatan akhlak, keteladanan, dan nilai kemanusiaan, bukan melalui paksaan.
“Indonesia tidak lahir dalam ruang hampa. Ia dibangun di atas fondasi nilai-nilai luhur yang harus terus kita rawat agar tidak tergerus zaman,” katanya.
Dalam pidato tersebut, Bro Rivai mengulas filosofi baituna sebagai gambaran Indonesia ideal rumah bersama yang aman, tertib, dan inklusif bagi seluruh warga negara tanpa kecuali.
“Baituna adalah rumah kebangsaan kita. Semua anak bangsa harus merasa memiliki dan merasa aman tinggal di dalamnya,” tegasnya.
Selain itu, ia juga mengangkat konsep jannatuna sebagai cita-cita kolektif untuk mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur. Kekayaan alam yang dimiliki Indonesia, menurut Bro Rivai, merupakan amanah yang harus dikelola secara bertanggung jawab demi kesejahteraan bersama.
“Jannatuna bukan utopia. Ia bisa terwujud jika kekayaan bangsa dikelola dengan adil, bukan dieksploitasi untuk kepentingan sesaat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bro Rivai menekankan peran santri dan alumni pesantren di tengah arus disrupsi global. Ia menilai santri harus tampil sebagai benteng moral sekaligus aktor perubahan yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Santri tidak boleh terjebak romantisme masa lalu. Mereka harus hadir di ruang-ruang strategis dengan bekal intelektual, teknologi, dan akhlak,” katanya.
Menutup pidatonya, Bro Rivai menyoroti tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari dinamika geopolitik hingga krisis iklim. Dalam konteks itu, pesantren dinilai memiliki peran penting dalam mencetak generasi yang adaptif terhadap perubahan, kuat secara intelektual, dan kokoh secara moral serta spiritual.
“Pesantren harus melahirkan generasi yang cerdas, adaptif, dan tetap berakar pada nilai moral yang kuat. Di situlah kontribusi nyata pesantren bagi bangsa,” pungkas Bro Rivai. (*)













