OpiniPendidikan

Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah: Pilar Peran Perempuan Muslimah pada Umumnya dan HmI-Wati pada Khususnya

×

Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah: Pilar Peran Perempuan Muslimah pada Umumnya dan HmI-Wati pada Khususnya

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dini Febriany (Perta LKK HMI Cabang Pangkep)

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Keluarga merupakan lembaga pertama yang membentuk karakter, moral, dan spiritual manusia. Dalam perspektif Islam, keluarga ideal adalah keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah rumah tangga yang menjadi sumber ketenangan, cinta, dan kasih sayang. Konsep ini bukan sekadar slogan normatif, tetapi pedoman praktis bagi perempuan untuk mengaktualisasikan peran mereka secara sadar, bertanggung jawab, dan harmonis.

Adv

Sakinah mengandung makna ketenangan dan kesejahteraan. Ketenangan keluarga lahir dari kesadaran semua anggota akan hakikat hubungan suami-istri sebagai ibadah, amanah, dan tanggung jawab. Keluarga yang sakinah tercipta ketika pasangan mampu mengelola konflik, berkomunikasi dengan baik, dan menegakkan nilai-nilai moral yang diajarkan Islam. Dalam konteks ini, perempuan memegang peran strategis sebagai penyeimbang emosional dan spiritual keluarga, sehingga rumah tangga menjadi ruang pembelajaran iman dan karakter.

Mawaddah menekankan pada cinta yang tulus dan saling menghormati. Cinta dalam keluarga Islam bukan sekadar perasaan sentimental, tetapi ikhtiar sadar untuk mendukung, melengkapi, dan melindungi satu sama lain. Mawaddah mendorong anggota keluarga untuk berinteraksi dengan empati dan penghargaan terhadap perbedaan, sehingga rumah tangga menjadi fondasi yang kuat bagi anak-anak dan lingkungan sosial.

Warahmah, kasih sayang yang mendalam, melengkapi dimensi ketenangan dan cinta. Kasih sayang ini menuntut pengorbanan tanpa pamrih, kesabaran, dan perhatian aktif dalam menghadapi dinamika kehidupan. Dengan warahmah, keluarga mampu menghadapi tekanan ekonomi, sosial, maupun psikologis tanpa kehilangan keharmonisan dan keberkahan.

Ketiga dimensi ini sakinah, mawaddah, dan warahmah saling melengkapi. Tanpa sakinah, cinta dan kasih sayang menjadi retorika; tanpa mawaddah, ketenangan keluarga rapuh; tanpa warahmah, hubungan kehilangan dimensi pengorbanan dan keberkahan. Oleh karena itu, perempuan muslimah dituntut memahami hakikat keluarga Islami secara menyeluruh, dari komunikasi yang sehat hingga pendidikan karakter anak, agar rumah tangga benar-benar menjadi ruang yang harmonis dan penuh keberkahan.

Bagi HmI-Wati, pemahaman ini menjadi penting karena mereka diharapkan mampu menyeimbangkan peran sosial, intelektual, dan spiritual. Meskipun organisasi tidak mengajarkan konsep keluarga, pengalaman kader dalam memahami dan menerapkan nilai-nilai keluarga Islami dapat menjadi bekal strategis bagi perempuan untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.

Dengan demikian, keluarga Islami bukan sekadar tanggung jawab suami atau perempuan, tetapi ruang kolaboratif yang meneguhkan peran setiap anggota. Perempuan muslimah memiliki peran penting sebagai agen keseimbangan, kasih sayang, dan pembentuk karakter generasi mendatang. Keluarga yang ideal adalah fondasi bagi masyarakat yang adil, harmonis, dan penuh keberkahan, sesuai tuntunan Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *