AdvertorialBisnis

Teknologi Bersih untuk Dompet Mahasiswa Ketika Layanan Laundry Menjadi Penolong di Tengah Padatnya Aktivitas Kuliah

×

Teknologi Bersih untuk Dompet Mahasiswa Ketika Layanan Laundry Menjadi Penolong di Tengah Padatnya Aktivitas Kuliah

Sebarkan artikel ini

Gowa, Potretnusantara.co.id – Tumpukan pakaian kotor di sudut kamar kos sering kali menjadi “saksi bisu” padatnya aktivitas mahasiswa. Di antara jadwal kuliah, praktikum, organisasi, hingga pekerjaan sambilan, mencuci pakaian bukan lagi prioritas utama. Di sinilah layanan laundry hadir, bukan sekadar sebagai jasa, melainkan penolong keseharian mahasiswa.

Di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, jasa laundry kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa. Keterbatasan waktu membuat banyak dari mereka memilih menyerahkan urusan cucian kepada pihak lain. Praktis, cepat, dan relatif terjangkau tiga hal yang paling dicari mahasiswa.

Adv

Fenomena ini tidak hanya menciptakan kenyamanan bagi pengguna jasa, tetapi juga membuka peluang usaha bagi mahasiswa lain. Dalam beberapa tahun terakhir, usaha laundry yang dikelola mahasiswa mulai menjamur di pemukiman sekitar kampus. Layanan yang ditawarkan pun kian beragam, menyesuaikan gaya hidup mahasiswa: harga khusus mahasiswa, layanan cuci kilat, jam operasional panjang, hingga sistem antar-jemput berbasis pesan singkat.

Salah satu pelaku usaha tersebut adalah Ardi (24), mahasiswa semester 13 Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Sains dan Teknologi. Ia memulai usaha laundry setelah melihat rekan-rekannya kewalahan membagi waktu antara kuliah dan kebutuhan rumah tangga.

“Mahasiswa butuh layanan yang cepat, fleksibel, dan harganya sesuai kantong,” ujar Ardi, Senin (8/12/2025).

Ardi mengandalkan kecepatan layanan sebagai daya tarik utama. Ia menyediakan layanan cuci kilat, jam operasional yang lebih panjang, serta tarif khusus mahasiswa. Dalam sehari, laundrinya bisa menerima hingga 160-180 kilogram cucian, dengan harga mulai Rp3.000 per kilogram untuk cuci kering dan Rp4.000 per kilogram untuk cuci lipat. Ia juga menyediakan layanan setrika saja serta antar-jemput gratis bagi pelanggan yang tidak sempat datang langsung.

Untuk menjaga kepercayaan pelanggan, Ardi rutin merawat mesin cuci, menggunakan deterjen yang konsisten, dan memastikan pakaian tidak tertukar. Teknologi sederhana seperti pemesanan via WhatsApp menjadi andalan, terutama di hari-hari sibuk.

Berbeda dengan Ardi, Riad (24), mahasiswa semester 11 Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, memilih jalur yang lebih ramah lingkungan. Ia mengembangkan usaha laundry dengan konsep eco-friendly, menggunakan deterjen ramah lingkungan dan mengurangi penggunaan plastik.

“Mahasiswa sekarang mulai sadar lingkungan. Saya ingin laundry ini tidak hanya memberi layanan, tapi juga mengajak pelanggan lebih peduli pada lingkungan,” ujar Riad, Ahad (7/12/2025).

Dalam sehari, usaha laundry Riad mampu menangani sekitar 150 kilogram cucian. Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai Rp3.000 per kilogram untuk cuci kering, Rp3.500 untuk cuci lipat, hingga Rp8.000 untuk layanan express. Ia juga menyediakan program loyalitas berupa satu kali cuci gratis setelah sepuluh kali pencucian serta paket hemat mingguan yang banyak diminati mahasiswa kos.

Namun, di balik konsep ramah lingkungan tersebut, Riad mengakui tantangan terbesar adalah menjaga efisiensi biaya operasional, mengingat harga bahan ramah lingkungan relatif lebih mahal.

Keberadaan laundry mahasiswa ini dirasakan langsung manfaatnya oleh para pelanggan. Ikbal (19), mahasiswa semester 3 Jurusan Ilmu Peternakan, mengaku sangat terbantu dengan layanan cuci kilat.

“Saya sering sibuk di laboratorium, jadi butuh laundry yang cepat. Di sini hasilnya rapi dan harganya cocok,” ujar Ikbal(19), Ahad (7/12/2025).

Sementara itu, Dirga (19), mahasiswa Jurusan Sistem Informasi, memilih laundry dengan konsep ramah lingkungan karena merasa nyaman dengan pelayanannya. Hal serupa disampaikan Nurul (19), mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam, yang mengutamakan layanan antar-jemput.

“Tinggal chat, cucian dijemput, bayar transfer. Sangat praktis,” ujar Nurul(19), Senin (8/12/2025).

Menanggapi fenomena ini, Alamsyah S.E., dosen Ilmu Ekonomi dan Bisnis Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Alauddin Makassar, menilai usaha laundry mahasiswa memiliki prospek yang sangat menjanjikan.

“Tingginya aktivitas mahasiswa membuat jasa laundry menjadi kebutuhan. Ini peluang usaha yang besar, bahkan saya sendiri juga menggunakan layanan laundry,” ujar Alamsyah, Rabu (17/12/2025).

Menurut Alamsyah, kunci keberhasilan usaha laundry mahasiswa terletak pada manajemen operasional yang sederhana namun konsisten, seperti pencatatan keuangan harian, pengaturan alur kerja, dan perawatan mesin. Ia juga menekankan pentingnya pemasaran digital melalui media sosial, testimoni pelanggan, serta promo berkala.

Meski demikian, ia mengingatkan adanya tantangan yang harus diantisipasi, mulai dari keterbatasan modal, pembagian waktu antara kuliah dan usaha, hingga menjaga kualitas layanan.

“Inovasi seperti pemesanan online, layanan antar-jemput, hingga pelacakan progres cucian bisa menjadi nilai tambah. Semakin praktis layanannya, semakin besar peluang usaha laundry mahasiswa untuk berkembang,” ujar Alamsyah, Rabu (17/12/2025)

Di tengah kesibukan dunia perkuliahan, layanan laundry mahasiswa hadir sebagai solusi sederhana namun berdampak besar. Tak hanya meringankan beban aktivitas, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya kreativitas dan kemandirian ekonomi mahasiswa dari tumpukan pakaian kotor, lahir peluang yang bersih dan menjanjikan.

Penulis: Alif Akbar

Editor: Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *