News

Berat yang Kita Pikul Bersama

×

Berat yang Kita Pikul Bersama

Sebarkan artikel ini
Keterangan Gambar: Penulis (Topi Kuning) bersama Mahasiswa KKN Tematik Perubahan Iklim Univeraitas Hasanuddin, melakukan Aksi Penuangan Ecoenzym di TPA Antang Tamangapa, Sabtu (3/1/2026).

Oleh: Mashud Azikin

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – “Tak mengapa keadaan memberat, kalau buktinya membuatmu kuat.” Kalimat ini terasa berbeda gaungnya ketika dibaca di tengah kebatinan bangsa Indonesia hari-hari ini. Ia tak lagi sekadar refleksi personal, melainkan cermin kolektif tentang sebuah negeri yang sedang memikul beban berlapis: bencana alam di berbagai daerah, luka sosial yang belum sepenuhnya sembuh, dan kegamangan menghadapi masa depan.

Adv

Tanah longsor, banjir, kebakaran hutan, gempa, angin ekstrem semuanya datang silih berganti, seolah memberi jeda hanya untuk menarik napas sebelum duka berikutnya menyusul. Di layar gawai dan halaman media, penderitaan menjadi rutinitas visual: rumah hanyut, sawah rusak, anak-anak mengungsi, dan warga bertahan dengan bantuan seadanya. Berat, dalam konteks ini, bukan lagi metafora; ia nyata, basah oleh lumpur dan asin oleh air mata.

Dalam situasi seperti ini, mudah bagi bangsa untuk lelah. Mudah pula untuk bertanya: mengapa bencana seakan tak pernah selesai? Apakah ini sekadar takdir geografis, atau cermin dari relasi kita yang rapuh dengan alam dan sesama? Di titik inilah kalimat “tak mengapa keadaan memberat” menuntut pembacaan yang lebih jujur dan dewasa.
Berat yang dialami bangsa tidak otomatis membuatnya kuat. Ia baru menjadi kekuatan jika diolah menjadi kesadaran.

Bencana seharusnya bukan hanya melahirkan solidaritas sesaat, tetapi juga keberanian untuk bercermin: tentang tata ruang yang abai, tentang eksploitasi alam yang berlebihan, tentang kebijakan yang sering kalah cepat dari kepentingan jangka pendek. Tanpa refleksi semacam itu, berat hanya akan berulang sebagai penderitaan, bukan pembelajaran.

Dari sudut pandang humaniora, bencana adalah pengalaman kebudayaan. Ia menguji bukan hanya infrastruktur, tetapi juga watak bangsa. Di saat genting, kita melihat dua wajah Indonesia: yang saling membantu tanpa bertanya asal-usul, dan yang saling menyalahkan tanpa mau bertanggung jawab. Keduanya hidup berdampingan, berkelahi dalam ruang publik dan kebatinan kita.

Namun sejarah bangsa ini menunjukkan satu hal: Indonesia kerap menemukan kekuatannya justru ketika keadaan memberat. Dari bencana, lahir gotong royong yang tulus; dari kehilangan, tumbuh empati lintas batas. Warga yang kehilangan rumah masih sempat berbagi nasi; relawan datang dari jauh dengan ongkos sendiri; doa dipanjatkan bersama, meski keyakinan berbeda. Di situlah kekuatan itu diam-diam bekerja bukan dalam pidato, tetapi dalam tindakan kecil yang konsisten.

Tetapi penting ditegaskan: menerima berat bukan berarti berdamai dengan kelalaian. Ketangguhan rakyat tidak boleh dijadikan alasan untuk mengendurkan tanggung jawab negara. Kekuatan yang lahir dari penderitaan rakyat seharusnya menjadi alarm moral bagi pengambil kebijakan, bukan selimut nyaman untuk terus menunda pembenahan.

Keadaan yang memberat akan membuat bangsa ini kuat hanya jika kekuatan itu diarahkan pada perubahan. Pada keberanian menata ulang hubungan dengan alam, pada keseriusan membangun sistem mitigasi bencana, dan pada keadilan dalam pemulihan agar yang paling terdampak tidak selalu menjadi yang paling dilupakan.

Hari-hari ini, Indonesia memang sedang berat. Tetapi di tengah duka yang menyebar dari satu daerah ke daerah lain, kita diingatkan bahwa kekuatan bangsa bukan diukur dari bebasnya ia dari bencana, melainkan dari caranya belajar, berbenah, dan saling menopang ketika bencana datang.

Jika berat ini kelak membuat kita lebih bijak, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab—maka kalimat itu menemukan maknanya yang paling dalam: tak mengapa keadaan memberat, asal kita benar-benar menjadi lebih kuat, bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *