Oleh: Mashud Azikin
(Pegiat Ecoenzym & Pemerhati Lingkungan)
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Saya pernah duduk santai dengan Tio ya, Tio yang kalau bicara itu antara kita mau ketawa atau merasa ditampar halus oleh realitas. Kami ngobrol soal sampah. Topik yang, jujur saja, di Makassar ini bukan lagi isu tapi sudah seperti anggota keluarga. Selalu ada. Setia. Bahkan lebih konsisten dari beberapa janji politik.
Tio bilang begini, “Masalah sampah itu unik, Bro. Dia satu-satunya masalah yang kalau kita diamkan, dia tumbuh. Kalau kita sentuh, dia nyebar. Kalau kita bahas, semua orang setuju… tapi habis itu pulang, buang sampah sembarang lagi.”
Saya ketawa. Tapi tidak lama.
Karena itu bukan punchline. Itu premis.
Di kota ini, sampah bukan sekadar benda mati. Ia punya siklus hidup yang lebih aktif dari sebagian kita. Kita buang pagi, siangnya dia pindah tempat. Sore dia numpuk. Malam dia “rapat akbar” di TPA. Besoknya, dia kembali lagi dalam bentuk yang lebih banyak, lebih bau, dan lebih “berpengaruh”.
Lucunya, kita sering menganggap sampah itu masalah pemerintah. Seolah-olah sampah itu punya KTP dan ikut pilkada. Padahal kalau mau jujur, sampah itu hasil karya kolektif. Gotong royong tanpa panitia.
Tio lanjut, “Kita ini hebat, Bro. Bisa produksi sampah tanpa henti, tapi bingung mengelolanya. Kayak bikin masalah sendiri, lalu berharap solusi datang dari Google.”
Di titik itu saya mulai sadar, pembicaraan ini tidak sedang bercanda. Ini semacam autopsi sosial dibungkus humor.
Premisnya jelas: sampah adalah masalah yang kita ciptakan bersama, tapi kita wariskan sepenuhnya ke pemerintah.
Lalu masuklah satu kata yang belakangan sering terdengar agak ‘berat’: PSEL Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik. Proyek Strategis Nasional.
Kedengarannya canggih. Sedikit futuristik. Dan bagi sebagian orang, mungkin terdengar seperti: “Akhirnya ada mesin yang bisa menghapus dosa kita.”
Tio nyeletuk lagi, “Kalau PSEL berhasil, berarti sampah kita naik kelas, Bro. Dari yang tadinya cuma bikin bau, sekarang bisa bikin terang.”
Saya tertawa lagi. Tapi kali ini lebih lama.
Karena di balik candaan itu, ada harapan yang serius.
PSEL bukan sekadar proyek teknologi. Ia adalah cara negara mencoba mengubah narasi: dari sampah sebagai beban, menjadi sampah sebagai sumber daya. Dari sesuatu yang kita buang, menjadi sesuatu yang kita manfaatkan.
Tapi di sini letak refleksinya yang mungkin tidak lucu.
Kalau premisnya tetap sama kita tetap buang sampah sembarangan, tetap konsumsi tanpa kendali, tetap malas memilah maka PSEL hanya akan menjadi “pemadam kebakaran modern” untuk rumah yang terus kita bakar sendiri.
Saya bilang ke Tio, “Jangan-jangan nanti PSEL itu bukan solusi, tapi cuma jadi ‘penjaga gawang’ yang kerja rodi karena kita semua jadi striker yang hobi nendang sampah terus.”
Tio langsung jawab, “Iya, Bro. Dan penjaga gawang itu tidak pernah disalahkan kalau kebobolan. Karena kita semua terlalu sibuk jadi penonton.”
Di situ kami sama-sama diam.
Karena kami tahu, punchline sebenarnya belum keluar.
Begini:
Kalau sampah adalah premis masalah yang kita hadapi hari ini maka PSEL dan gerakan pengolahan sampah berkelanjutan adalah punchline yang seharusnya membuat kita ‘klik’.
Bahwa solusi itu tidak tunggal. Tidak bisa hanya diserahkan ke satu teknologi, satu proyek, atau satu kebijakan.
PSEL penting sangat penting. Ia menjawab skala masalah yang sudah tidak bisa lagi ditangani dengan cara konvensional. Ia memberi harapan bahwa gunungan sampah bisa berkurang, bahkan memberi energi bagi kota.
Tapi di saat yang sama, gerakan dari rumah tangga memilah sampah, mengolah organik, mengurangi plastik itu adalah fondasi yang tidak bisa digantikan oleh mesin sebesar apa pun.
Kalau tidak, kita hanya memindahkan masalah dari satu tempat ke tempat lain dari jalanan ke mesin, dari bau ke asap, dari terlihat menjadi “tersembunyi”.
Tio menutup obrolan dengan satu kalimat yang, seperti biasa, terdengar ringan tapi menempel lama:
“Bro, masalah kita itu bukan kekurangan solusi. Kita itu kelebihan kebiasaan buruk.”
Saya pulang dengan kepala penuh.
Dan satu kesimpulan sederhana:
Bahwa di Makassar dan mungkin di banyak kota lain kita tidak kekurangan teknologi. Kita tidak kekurangan program. Kita bahkan tidak kekurangan wacana.
Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk mengubah peran:
dari produsen sampah pasif, menjadi pengelola yang sadar.
Karena pada akhirnya, punchline terbaik dari cerita ini bukanlah PSEL semata.
Tapi ketika suatu hari nanti, kita bisa bilang:
“Sampah masih ada, tapi kita sudah tidak lagi memperlakukannya seperti masalah.”
Dan kalau itu terjadi, mungkin Tio akan bilang, sambil senyum tipis:
“Baru kali ini, Bro… kita lebih cepat berubah daripada sampah.”













