Polewali Mandar, Potretnusantara.co.id – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di tingkat pengecer di Kabupaten Polewali Mandar mulai dirasakan masyarakat sejak 1 April 2026 dan masih berlangsung hingga Kamis (2/4/2026). Kondisi ini memicu keresahan warga, terutama mereka yang bergantung pada BBM untuk aktivitas sehari-hari, seperti nelayan, petani, dan pelaku usaha kecil.
Sejumlah pengecer di berbagai wilayah dilaporkan kehabisan stok. Sementara itu, sebagian lainnya menjual BBM dengan harga jauh di atas normal, yakni berkisar Rp25.000 hingga Rp30.000 per botol. Situasi ini tidak hanya memperberat beban ekonomi masyarakat, tetapi juga menghambat mobilitas serta aktivitas produktif warga.
Menanggapi kondisi tersebut, Nasrul, aktivis Komunitas Mahasiswa Kritis (KOMIK) Polewali Mandar, menilai peran pemerintah dalam menangani persoalan ini belum maksimal. Ia menyoroti kelangkaan yang terjadi secara tiba-tiba, padahal stok BBM di SPBU disebut masih mencukupi.
“Keadaan yang terjadi saat ini sangat krusial, padahal kita tau stok BBM di setiap SPBU di Polewali Mandar cukup melimpah. Kelangkaan BBM yang terjadi ini jangan sampai ada permainan dibalik kekacauan ini. Pemerintah Daerah, DPRD Polman, APH serta pihak yang terkait untuk mengambil langkah kongkrit dalam mengatasi persoalan yang sedang terjadi,” ujar Nasrul.
Ia juga menilai lemahnya pengawasan distribusi serta minimnya langkah antisipatif dari pemangku kebijakan menjadi faktor yang memperparah kondisi tersebut. Padahal, persoalan BBM merupakan isu vital yang membutuhkan penanganan cepat dan terukur dari pemerintah daerah maupun instansi terkait.
“Kalau terus dibiarkan, ini bisa berdampak lebih luas. Harga kebutuhan pokok bisa ikut naik karena distribusi terganggu,” ujarnya.
Dalam keterangannya, Nasrul menduga adanya oknum tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan situasi dengan melakukan penimbunan serta menjual BBM dengan harga tinggi di tingkat pengecer. Ia menegaskan, harga BBM resmi hingga saat ini masih berada pada level normal, yakni Pertalite Rp10.000 per liter, Solar subsidi Rp6.800 per liter, Pertamax (RON 92) Rp12.300 per liter, dan Pertamax Turbo Rp13.100 per liter.
“Lebih ironisnya lagi di tengah kondisi yang menimpa masyarakat dengan langkanya BBM justru dimanfaatkan oleh oknum pengecer BBM nakal dengan memasok harga jauh dari harga normal yakni 25.000-30.000/Botol. Pemerintah dan pihak kepolisian mesti segera mengambil langkah tegas dengan menindaki para pengecer yang nakal yang dapat merugikan masyarakat,” ungkapnya.
Ia pun mendesak pemerintah daerah segera mengambil langkah cepat sebelum situasi semakin tidak terkendali, salah satunya dengan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke seluruh SPBU di Polewali Mandar guna memastikan distribusi BBM berjalan sesuai ketentuan.
“Jika tidak segera ditangani secara serius, kelangkaan BBM ini berpotensi menjadi masalah berlarut yang tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tetapi juga stabilitas sosial di daerah,” pungkasnya.













