OpiniPemerintahan

Makassar Bersiap Masuk Era Baru: Sampah Diolah Jadi Energi, Krisis Ditantang dengan Teknologi

×

Makassar Bersiap Masuk Era Baru: Sampah Diolah Jadi Energi, Krisis Ditantang dengan Teknologi

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ahmad Musawir (Ketua Bidang Lingkungan Hidup Badko HMI Sulsel)

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Langkah Pemerintah Kota Makassar untuk keluar dari jerat krisis sampah menemukan momentumnya. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menghadiri Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) bersama Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, Selasa (31/03/2026), yang secara khusus membahas percepatan implementasi Proyek Strategis Nasional (PSN) Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

Adv

Di tengah tekanan volume sampah yang kian menggunung, PSEL hadir bukan sekadar sebagai proyek infrastruktur, melainkan sebagai penanda perubahan paradigma: dari kota yang dibebani sampah, menuju kota yang mampu mengubah limbah menjadi sumber energi.

Dari Darurat Sampah ke Agenda Strategis Nasional

Indonesia saat ini berada dalam kondisi darurat sampah. Produksi sampah nasional yang menembus puluhan juta ton per tahun telah melampaui kapasitas pengelolaan konvensional. Kota-kota besar seperti Makassar menghadapi tekanan yang lebih berat, dengan timbunan harian yang telah melampaui ambang kritis 1.000 ton per hari.

Selama ini, pendekatan kumpul-angkut-buang terbukti tidak lagi memadai. Tempat Pembuangan Akhir (TPA), termasuk TPA Antang di Makassar, terus mengalami overkapasitas. Dampaknya bukan hanya persoalan estetika kota, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan, lingkungan, dan stabilitas sosial.

Dalam konteks inilah, pemerintah pusat menetapkan PSEL sebagai Proyek Strategis Nasional melalui Perpres No. 35 Tahun 2018. Proyek ini menjadi bagian dari strategi besar untuk mengintegrasikan pengelolaan sampah dengan kebutuhan energi nasional sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.

Arahan Presiden RI, Prabowo Subianto, untuk mempercepat implementasi PSEL di 33 lokasi di Indonesia menegaskan bahwa persoalan sampah telah naik kelas dari isu teknis menjadi agenda politik pembangunan nasional.

Makassar dan Pilihan Realistis di TPA Antang

Dalam forum Rakortas, Munafri Arifuddin menegaskan kesiapan Makassar untuk menjadi bagian dari transformasi tersebut. Salah satu langkah strategis yang diusulkan adalah pembangunan fasilitas PSEL di kawasan TPA Antang, Kecamatan Manggala.

Pilihan ini bukan tanpa alasan. Secara teknis dan ekonomis, pembangunan di dalam area TPA dinilai lebih efisien. Kota tidak perlu menanggung biaya tambahan untuk relokasi sampah, yang selama ini menjadi salah satu beban besar dalam sistem pengelolaan.

Selain itu, pendekatan ini juga lebih realistis secara sosial. TPA Antang telah lama menjadi bagian dari lanskap kota dan memiliki sejarah interaksi dengan masyarakat sekitar. Memindahkan proyek ke lokasi baru berpotensi memicu resistensi sosial yang lebih besar.

“Ini adalah perintah langsung Bapak Presiden agar proyek ini bisa berjalan lebih cepat dan lebih masif,” ujar Munafri, menegaskan urgensi percepatan proyek tersebut.

Lebih jauh, ia menilai kawasan TPA Antang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai zona industri pengolahan sampah terpadu, termasuk fasilitas pendukung PSEL. Pemerintah Kota, kata dia, tinggal menuntaskan aspek pembebasan lahan sebagai prasyarat utama.

Teknologi PSEL: Mengubah Beban Menjadi Energi

PSEL bekerja dengan prinsip sederhana namun berdampak besar: mengubah sampah menjadi energi listrik. Melalui teknologi termal seperti insinerasi, sampah dibakar dalam suhu tinggi untuk menghasilkan panas, yang kemudian diubah menjadi uap dan menggerakkan turbin pembangkit listrik.

Dalam sistem modern, proses ini dilengkapi dengan pengendalian emisi yang ketat, sehingga gas buang yang dihasilkan tetap berada dalam batas aman lingkungan. Bahkan, residu pembakaran seperti abu dapat dimanfaatkan kembali sebagai material konstruksi, jika memenuhi standar.

Dengan pendekatan ini, volume sampah dapat dikurangi hingga 80–90 persen. Artinya, tekanan terhadap TPA dapat ditekan secara signifikan, sekaligus menghasilkan energi baru yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Antara Harapan dan Tantangan

Meski menjanjikan, jalan menuju implementasi PSEL tidak sepenuhnya mulus. Tantangan besar masih membayangi, mulai dari kebutuhan investasi yang tinggi, kesiapan teknologi, hingga kekhawatiran masyarakat terhadap dampak lingkungan.

Isu emisi, terutama dioksin dan furan, kerap menjadi alasan penolakan publik. Di sinilah pentingnya transparansi, pengawasan ketat, dan penggunaan teknologi terbaik agar kepercayaan masyarakat dapat terbangun.

Selain itu, karakter sampah di Indonesia yang cenderung basah juga menjadi tantangan tersendiri karena mempengaruhi efisiensi proses pembakaran.

Namun yang paling krusial adalah memastikan bahwa PSEL tidak berdiri sendiri. Ia harus menjadi bagian dari ekosistem pengelolaan sampah yang lebih luas yang tetap menempatkan prinsip pengurangan, pemilahan, dan daur ulang sebagai fondasi utama. Tanpa itu, PSEL berisiko menjadi solusi instan yang justru mengabaikan akar persoalan.

Investasi Masa Depan Kota

Bagi Makassar, PSEL bukan sekadar proyek teknis, tetapi investasi jangka panjang. Kota ini sedang berada di persimpangan: antara terus terjebak dalam siklus krisis sampah, atau melompat menuju sistem pengelolaan modern berbasis teknologi dan keberlanjutan.

Jika berhasil, PSEL tidak hanya akan mengurangi beban lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi dan energi. Listrik yang dihasilkan dapat menjadi bagian dari pasokan energi kota, sementara sistem pengelolaan sampah yang lebih baik akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Semoga ini menjadi investasi yang bermanfaat, mampu menyelesaikan persoalan sampah, sekaligus memberikan dampak positif bagi Kota Makassar dan masyarakat,” tutup Munafri.

Namun teknologi saja tidak cukup. Keberhasilan PSEL sangat ditentukan oleh konsistensi kebijakan, tata kelola yang bersih, serta partisipasi masyarakat.

Menata Ulang Cara Pandang

Pada akhirnya, PSEL adalah tentang cara pandang. Ia menantang kebiasaan lama yang melihat sampah sebagai akhir dari konsumsi, menjadi awal dari proses baru yang produktif.

Makassar kini sedang menulis babak baru dalam sejarah pengelolaan lingkungannya. Pertanyaannya bukan lagi apakah sampah bisa diubah menjadi energi, tetapi apakah kota ini siap mengubah dirinya sendiri.
Sebab di balik mesin-mesin PSEL, sesungguhnya yang sedang diuji adalah keseriusan kita dalam menghadapi krisis dan keberanian untuk tidak lagi menundanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *