AdvertorialEkonomi

Lapas Kelas I Makassar Kembangkan Peternakan Ayam Petelur, Perkuat Program Urban Farming Terpadu

×

Lapas Kelas I Makassar Kembangkan Peternakan Ayam Petelur, Perkuat Program Urban Farming Terpadu

Sebarkan artikel ini

Makassar, Potretnusantara.co.id – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Makassar terus mengembangkan program kemandirian berbasis ketahanan pangan melalui Integrated Urban Farming. Terbaru, program tersebut memasuki tahap penguatan dengan hadirnya ayam petelur jenis Isa Brown di Kebun Asimilasi dan Edukasi Lapas.

Ayam petelur berumur 14 minggu itu menandai dimulainya pengembangan sektor peternakan unggas sebagai bagian dari sistem pertanian terpadu yang tengah dibangun. Program ini merupakan hasil kerja sama antara Yayasan Butta Porea Indonesia dan Lapas Kelas I Makassar, yang tertuang dalam nota kesepahaman (MoU) pada 6 Februari 2026.

Adv

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Ketua Yayasan Butta Porea Indonesia, Andi Pangerang, bersama Kepala Lapas Kelas I Makassar, Sutarno. Kerja sama tersebut menjadi komitmen dalam menghadirkan program pembinaan berbasis kemandirian dan keberlanjutan.

Program Integrated Urban Farming dirancang sebagai sistem terpadu yang mencakup tujuh sektor, yakni peternakan ayam petelur, ayam pedaging, budidaya ikan nila, pertanian, budidaya maggot, jamur tiram, serta produksi eco enzyme. Seluruh sektor tersebut terintegrasi dalam satu ekosistem berkelanjutan, di mana limbah dari satu sektor dimanfaatkan sebagai sumber daya bagi sektor lainnya.

Yayasan Butta Porea Indonesia yang dibina oleh Andi Fadly Mattotorang turut mengawal pelaksanaan program. Fadly, yang juga dikenal sebagai Fadly Padi Reborn, berperan dalam pendampingan dan monitoring di lapangan.

Sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan, Fadly secara rutin mengunjungi Kebun Asimilasi dan Edukasi Lapas Kelas I Makassar untuk memastikan program berjalan sesuai perencanaan. Keterlibatannya dinilai memberi motivasi bagi seluruh pihak, termasuk warga binaan yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Dalam kapasitasnya sebagai Staf Ahli Wali Kota Makassar, Fadly menilai program ini sebagai terobosan dalam mendukung gerakan urban farming di Kota Makassar dan memperkuat ketahanan pangan daerah.

“Program ini bukan sekadar kegiatan pembinaan, tetapi sebuah model pemberdayaan yang dapat direplikasi. Kita ingin menunjukkan bahwa lapas juga bisa menjadi pusat produksi yang produktif dan berkontribusi bagi masyarakat,” ujarnya pada awak media, Senin (30/3/2026).

Ayam petelur jenis Isa Brown dipilih karena memiliki potensi produksi telur yang tinggi. Dalam waktu dekat, ayam tersebut diproyeksikan mulai memasuki masa produksi untuk memenuhi kebutuhan internal sekaligus membuka peluang distribusi ke luar.

Selain aspek produksi, program ini juga berfokus pada pembelajaran bagi warga binaan. Mereka dilibatkan dalam seluruh tahapan, mulai dari pemeliharaan ternak, pengelolaan pakan, hingga manajemen hasil produksi, sehingga diharapkan memiliki keterampilan praktis setelah kembali ke masyarakat.

Kepala Lapas Kelas I Makassar menyatakan program ini sejalan dengan kebijakan pemasyarakatan yang menekankan pembinaan kemandirian. Melalui kolaborasi dengan Yayasan Butta Porea Indonesia, lapas diharapkan menjadi lingkungan yang aman, produktif, dan edukatif.

Konsep Integrated Urban Farming yang diterapkan juga mengedepankan prinsip keberlanjutan lingkungan. Limbah organik dari kegiatan pertanian dan peternakan diolah melalui budidaya maggot dan produksi eco enzyme, sehingga menciptakan sistem minim limbah (zero waste).

Seluruh rangkaian program diharapkan berjalan secara bertahap dan terintegrasi. Ke depan, Lapas Kelas I Makassar ditargetkan menjadi model percontohan pengembangan urban farming berbasis pemasyarakatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *