AgamaPendidikan

Idulfitri dan Hal yang Tidak Terlihat dari Sebuah Bangsa

×

Idulfitri dan Hal yang Tidak Terlihat dari Sebuah Bangsa

Sebarkan artikel ini

Oleh: Muhammad Fadhil
SDM PKH Kementerian Sosial RI

Kajian Islam, Potretnusantara.co.id – Setiap Idulfitri datang, yang terdengar paling lantang adalah takbir. Tetapi yang sebenarnya terjadi justru sesuatu yang sunyi: seorang manusia selesai berhadapan dengan dirinya sendiri.

Selama sebulan, ia belajar menahan sesuatu yang sebenarnya mudah dilakukan makan, marah, berbohong, atau sekadar mengikuti keinginan sesaat. Tidak selalu berhasil, tetapi setidaknya ia sempat melihat dirinya dengan lebih jujur.

Pertanyaannya sederhana: setelah itu semua, apa yang berubah?

Sering kali, Idulfitri berhenti sebagai perayaan. Kita kembali ke rutinitas, ke cara lama bekerja, ke kebiasaan lama yang pelan-pelan menghapus latihan selama Ramadan.

Di titik inilah Idulfitri sebenarnya kehilangan maknanya.

Padahal, jika dibawa sedikit lebih jauh, pengalaman Ramadan menyentuh sesuatu yang jarang dibicarakan dalam pembangunan sebuah bangsa: keadaan batin manusia yang menjalankannya.

Kita sering berbicara tentang kemajuan Indonesia melalui hal-hal yang terlihat. Jalan dibangun, kota tumbuh, angka ekonomi bergerak. Semua itu penting. Tetapi ada sesuatu yang tidak ikut tercatat dalam angka: cara orang bekerja, cara keputusan diambil, dan sejauh mana kejujuran masih bertahan ketika tidak ada yang melihat.

Di situlah kualitas sebuah bangsa sebenarnya diuji.

Ibnu Khaldun pernah menyinggung bahwa kekuatan sebuah peradaban tidak hanya berdiri di atas struktur yang tampak, tetapi pada sesuatu yang lebih halus—solidaritas, kepercayaan, dan kekuatan moral yang hidup di dalam masyarakatnya.

Hal-hal seperti itu tidak bisa diresmikan. Tidak bisa dipotong pita. Tetapi kehadirannya menentukan arah sebuah negara.

Kita bisa melihatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Di ruang-ruang pelayanan publik, misalnya, sering kali persoalan bukan pada sistem, tetapi pada niat. Atau dalam dunia kerja, bukan kurangnya kemampuan yang menjadi masalah, melainkan kebiasaan untuk mencari jalan pintas.

Masalahnya tidak selalu besar. Justru sering kali kecil dan berulang.

Dan di situlah ia menjadi serius.

Al-Qur’an memberi satu pengingat yang sederhana, tetapi mendasar:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Perubahan tidak dimulai dari luar. Ia bergerak dari dalam, dari keputusan-keputusan kecil yang tidak selalu terlihat.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa dalam diri manusia ada satu bagian yang menentukan seluruh perilakunya: hati. Ketika ia baik, seluruh tindakan ikut baik. Ketika ia rusak, yang lain ikut rusak.

Barangkali bangsa pun tidak jauh berbeda.

Kita sering berharap pada kebijakan besar, pada sistem yang lebih baik, pada perubahan dari atas. Tetapi jarang bertanya dengan jujur: bagaimana keadaan batin orang-orang yang menjalankan semua itu?

Idulfitri memberi jeda untuk melihat pertanyaan itu.

Bukan dalam bentuk konsep besar, tetapi dalam hal yang sederhana: apakah kita masih bisa menahan diri ketika tidak ada yang melihat? Apakah kita masih menjaga amanah ketika tidak ada yang mengawasi?

Jika itu tidak berubah, maka pembangunan sebesar apa pun akan berjalan di atas fondasi yang rapuh.

Sebaliknya, jika itu mulai berubah meskipun pelan maka sesuatu yang lebih dalam sedang dibangun.

Tidak terlihat, tetapi nyata.

Mungkin karena itu, kekuatan sebuah bangsa tidak selalu lahir dari hal-hal yang besar dan mencolok. Ia sering tumbuh dari kebiasaan kecil yang dijaga oleh banyak orang, dalam diam.

Dan di situlah Idulfitri menemukan maknanya.

Bukan sebagai penutup Ramadan, tetapi sebagai awal untuk membawa apa yang sudah dilatih keluar, ke dalam kehidupan yang sebenarnya.

Karena pada akhirnya, masa depan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh apa yang dibangun di luar, tetapi oleh apa yang dijaga di dalam diri manusianya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *