Tentang Konvoi yang Telah Kehilangan Relevansi
Oleh: Mustamin Raga
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Dahulu, ketika listrik belum menjalar ke setiap sudut kampung, ketika pengeras suara belum menggantung di setiap menara-menara mesjid dan ketika jalanan masih lengang dari deru mesin, takbir adalah suara yang berjalan kaki. Ia tidak berlari. Ia tidak meraung-raung. Ia tidak memekakkan telinga.
Takbir kala itu adalah suara manusia yang menyusuri lorong-lorong gelap, membawa obor atau pelita, dari satu rumah ke rumah lain, dari satu kampung ke kampung lain. Orang-orang berjalan beriringan, menyebut nama Tuhan dalam langkah yang tenang. Anak-anak ikut di belakang, memegang bambu kecil, menabuhnya pelan, sekadar memberi irama, bukan kegaduhan.
Konvoi waktu itu jika boleh disebut demikian adalah pergerakan spiritual, bukan parade kendaraan. Ia adalah perjalanan batin yang tampak dalam gerak fisik. Berjalan bersama, menyatukan suara, mengabarkan bahwa malam itu adalah malam kemenangan. Tidak ada klakson. Tidak ada knalpot bising. Tidak ada adrenalin yang melonjak-lonjak di tikungan jalan. Yang ada hanya gema kalimat: Allahu Akbar… Allahu Akbar…
Dan gema itu lebih terasa di dada daripada di telinga.
Namun zaman bergerak. Jalanan melebar. Kendaraan bermunculan. Teknologi menggantikan obor, pengeras suara menggantikan suara alami, dan perlahan-lahan, makna pun bergeser diam-diam, tanpa kita sadari. Takbir yang dahulu berjalan kaki, kini menunggangi mesin.
Takbir yang dahulu merayap ke dalam hati, kini beradu keras di jalan raya. Konvoi kendaraan malam takbiran pun lahir awalnya mungkin dengan niat yang sama: menyebarkan syiar, menunjukkan kegembiraan, merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Tidak ada yang salah dengan niat itu.
Namun seperti banyak hal lain dalam hidup, niat baik tidak selalu berakhir baik ketika kehilangan kendali. Yang semula irama, berubah menjadi kebisingan.
Yang semula kebersamaan, berubah menjadi kerumunan tanpa arah. Yang semula dzikir, berubah menjadi tontonan.
Klakson bersahut-sahutan, knalpot meraung-raung, pengeras suara dipaksa bekerja melampaui batas. Jalan raya berubah menjadi panggung euforia, di mana takbir kadang tenggelam oleh suara mesin. Dan di tengah semua itu, kita patut bertanya dengan jujur apakah ini masih tentang Tuhan, atau sudah tentang kebisingan kita sendiri?
Di kota Makassar hari ini, sebuah keputusan diambil. Wali Kota mengeluarkan larangan konvoi kendaraan pada malam takbiran. Takbiran, tegasnya, cukup dilaksanakan di masjid dan mushalla. Sebuah keputusan yang bagi sebagian orang mungkin terasa membatasi, bahkan mengecewakan. Namun jika kita mau jujur menimbang, keputusan itu bukan lahir dari keinginan membungkam syiar, melainkan dari kesadaran akan sesuatu yang lebih mendasar: keselamatan dan ketertiban.
Karena jalan raya bukan sekadar ruang ekspresi, ia adalah ruang bersama.
Karena malam takbiran bukan hanya milik yang merayakan dengan bising, tetapi juga milik mereka yang ingin merayakan dalam ketenangan.
Berapa banyak kecelakaan yang terjadi setiap malam takbiran? Berapa banyak anak muda yang pulang bukan membawa kemenangan, tetapi luka? Berapa banyak orang tua yang cemas menunggu anaknya kembali dari konvoi yang katanya “sekadar keliling”? Kita jarang menghitung itu. Kita lebih sibuk menghitung seberapa panjang iring-iringan kendaraan.
Larangan itu, jika kita lihat lebih dalam, sesungguhnya adalah ajakan untuk kembali. Bukan mundur, tetapi kembali ke esensi. Kembali ke masjid. Kembali ke mushalla. Kembali ke ruang di mana takbir tidak perlu bersaing dengan suara mesin.
Karena, takbir bukan soal seberapa jauh ia terdengar, tetapi seberapa dalam ia meresap.
Apa artinya takbir yang menggema hingga sekian kilometer, jika ia tidak sempat singgah di hati yang mengucapkannya?
Apa artinya konvoi panjang, jika setelah itu kita tetap sama tidak lebih sabar, tidak lebih jujur, tidak lebih peduli?
Bukankah kemenangan sejati dari puasa adalah kemenangan atas diri sendiri?
Kita sering mengukur segala sesuatu dari yang tampak. Semakin ramai, dianggap semakin bermakna. Semakin heboh, dianggap semakin hidup. Padahal tidak semua yang riuh itu bernilai. Dan tidak semua yang sunyi itu kosong.
Takbiran di masjid mungkin tidak viral. Tidak menarik perhatian kamera. Tidak menghasilkan video panjang yang bisa dibagikan di media sosial. Namun justru di situlah ia menemukan kembali kehormatannya. Di antara saf-saf yang rapat, di antara suara yang tidak saling mengalahkan, di antara hati yang mungkin diam-diam bergetar takbir kembali menjadi apa adanya: pengakuan kecil manusia di hadapan kebesaran Tuhan.
Konvoi kendaraan mungkin pernah punya makna di masa lalu, ketika ia menjadi cara untuk menyebarkan kabar dan menyatukan masyarakat. Namun hari ini, dalam konteks jalan yang padat, kendaraan yang tak terhitung, dan risiko yang semakin nyata, ia kehilangan relevansinya. Bukan karena tradisinya salah, tetapi karena konteksnya telah berubah. Dan kebijaksanaan selalu lahir dari kemampuan membaca perubahan.
Apa yang dulu baik, belum tentu baik hari ini. Apa yang dulu relevan, belum tentu tepat untuk sekarang. Maka keputusan untuk menghentikan konvoi di Kota Makassar oleh Walikota Makassae bukanlah bentuk penolakan terhadap tradisi, melainkan upaya menyelamatkan makna dan esensi Takbir agar tidak semakin jauh terseret oleh euforia.
Malam takbiran seharusnya bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, tetapi siapa yang paling tulus memaknai.
Bukan tentang siapa yang paling panjang konvoinya, tetapi siapa yang paling panjang sabarnya setelah Ramadan.
Bukan tentang berapa banyak jalan yang dilalui, tetapi seberapa jauh hati kita kembali kepada-NYA. Karena takbir tidak membutuhkan jalan raya. Ia hanya membutuhkan ruang di dalam diri. Dan mungkin, justru di dalam diri itulah kita terlalu lama tidak pernah berkunjung.
Gerhana Alauddin, 18 Maret 2026
















