Oleh: Muhammad SalehDosen Bahasa dan Sastra UNM
Kajian Islam, Potretnusantara.co.id – Setelah melewati pendakian spiritual zakat dari level 1 hingga level 5, kini saatnya kita menikmati puncak Translokusi di puncak level 5 bersama air mata kerinduan. Secara Religiolinguistik, Zakat adalah sebuah “Teriakan Sunyi” dari seorang hamba yang sedang mabuk kerinduan; sebuah proklamasi bahwa di atas sajadah cinta ini, dunia telah benar-benar luruh dari genggaman.
Level 5: Menembus Batas Logika, Menuju Pelukan Rida Ilahi
Kita telah melewati tahap Zakat sebagai beban, sebagai investasi materi, hingga sebagai sarana ketenangan jiwa. Namun, di atas itu semua, ada satu maqam (kedudukan) yang hanya bisa dihuni oleh mereka yang jiwanya telah terbakar rindu: Zakat sebagai Sarana Berjumpa dengan Rabbnya.
Inilah puncak Translokusi Total. Di level ini, seorang hamba tidak lagi menghitung berapa yang keluar dan berapa yang akan kembali. Baginya, angka-angka itu telah mati. Ia menunaikan Zakat sebagai bentuk ketaatan mutlak. Jika hartanya kemudian melimpah, ia bersyukur. Jika orang di sekitarnya bahagia, ia tersenyum. Namun, perhatikanlah rahasia terdalam ini:
Andai pun setelah Zakat itu ia tetap didera kemiskinan, andai pun badai masalah tetap menghantam hidupnya, dan andai pun ia tetap tak punya apa-apa untuk membahagiakan manusia… ia tetap akan tersenyum dalam tangisnya. Mengapa? Karena baginya, Allah adalah segalanya. Selama ia merasakan Allah rida, maka seluruh penderitaan dunia hanyalah kerikil kecil yang tak berarti. Ia sadar bahwa harta yang ia lepaskan adalah “penebus” bagi hatinya agar tidak lagi terikat pada selain-Nya.
Air Mata yang Mengguncang Arsy
Pernahkah kita merasakan nikmatnya air mata yang jatuh saat tangan kita melepaskan harta yang kita cintai? Itulah air mata kerinduan Translokusi. Kerinduan untuk segera Trans berjumpa dengan-Nya. Di saat tanganmu memberi, jiwamu sebenarnya sedang melesat melampaui tujuh lapis langit. Kau menangis bukan karena kehilangan harta, tapi karena kau merasa “malu” membawa harta yang fana ke hadapan Sang Kekasih yang Maha Kekal.
Zakat di level ini adalah bahasa kerinduan yang paling jujur. Ia adalah cara hamba berkata: “Ya Rabb, jangan biarkan logam dan kertas ini membelenggu kakiku untuk berlari menuju-Mu. Aku lepaskan ia, agar tanganku kosong dan siap menyambut pelukan dan dekapan ampunan-Mu.”
Perjumpaan: Puncak Segala Dahaga
Bagi mereka yang bertaqwa di level ini, Idul Fitri bukan tentang pakaian baru atau hidangan mewah. Idul Fitri adalah harapan akan “Kembali kepada Fitrah” untuk bisa memandang wajah-Nya tanpa penghalang. Zakat adalah mahar yang ia serahkan demi sebuah pertemuan agung yang dirindukannya siang dan malam.
Inilah ketaqwaan sejati: ketika dunia sudah tidak lagi memiliki harga di mata kita, dan perjumpaan dengan Allah telah menjadi satu-satunya obsesi hidup kita. Saat itu, air mata kita akan mengalir deras bukan karena sedih, tapi karena rasa nikmat yang tak terlukiskan nikmatnya menjadi hamba yang hanya menginginkan Tuhannya.
Penutup
Saudaraku, sebelum Ramadan ini benar-benar pergi, tanyakanlah pada hati kita: Di level mana Zakat kita tahun ini? Jangan puas hanya menjadi “pembayar pajak” agama. Jadilah pecandu rindu yang menggunakan Zakat sebagai sayap untuk Trans terbang menemui-Nya. Menangislah… biarkan air mata itu membasahi lembaran ketaatanmu. Karena pada akhirnya, perjumpaan dengan-Nya adalah satu-satunya pelabuhan bagi jiwa-jiwa yang lelah dengan dunia.
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii








