Oleh: Muhammad Saleh
Dosen Bahasa dan Sastra UNM
Kajian Islam, Potretnusantara.co.id – Di sepuluh malam terakhir Ramadan, masjid-masjid mulai dipenuhi oleh para pencari rida Tuhan yang memisahkan diri dari hiruk-pikuk dunia. I’tikaf, secara syariat adalah berdiam diri di dalam masjid dengan niat ibadah. Namun, jika kita teropong melalui kacamata Religiolinguistik, I’tikaf adalah sebuah fase “Keheningan Fungsional” sebuah upaya sadar untuk mematikan seluruh narasi duniawi demi menangkap satu frekuensi agung: Lailatul Qadar.
Moratorium Bahasa Dunia
Sepanjang sebelas bulan, lisan dan pikiran kita dibombardir oleh jutaan kosa kata duniawi: urusan kantor, konflik sosial, hingga kebisingan media sosial. I’tikaf hadir sebagai bentuk “Puasa Bahasa”. Di dalam masjid, seorang hamba melakukan moratorium terhadap pembicaraan yang tidak perlu (laghwun).
Secara religiolinguistik, keheningan ini bukanlah kekosongan. Justru dalam diamnya seorang mu’takif (orang yang beritikaf), ia sedang melakukan pembersihan saluran komunikasi jiwanya. Ia sedang menghapus “noise” atau gangguan informasi agar pesan-pesan transendental dari langit dapat terdengar dengan jelas di telinga batinnya.
Dialog dalam Kesunyian
I’tikaf adalah momen di mana bahasa lisan digantikan oleh bahasa kalbu. Di sinilah Himmah (energi tekad) yang kita bahas sebelumnya mencapai puncaknya. Seorang mu’takif tidak lagi membutuhkan banyak rangkaian kata untuk merayu Tuhan. Dalam keheningan malam, zikir yang pendek namun mendalam seperti “Allah… Allah…” atau “Astaghfirullah” menjadi lebih bertenaga daripada orasi yang panjang lebar.
Inilah estetika bahasa I’tikaf: kesederhanaan diksi yang berpadu dengan kedalaman rasa. Kita meminjam istilah “Translokusi”, di mana seorang hamba secara linguistik dan spiritual berpindah dimensi dari dimensi makhluk yang cerewet dengan permintaannya, menjadi hamba yang tenang dalam kepasrahan total di hadapan Sang Pencipta.
Menjemput Lailatul Qadar: Malam Seribu Bulan
Kenapa Lailatul Qadar harus dicari dalam I’tikaf? Karena Lailatul Qadar adalah “Pesan Rahasia” yang hanya bisa diterima oleh jiwa yang jernih. Secara religiolinguistik, malam tersebut adalah puncak dari segala komunikasi ilahiyah. Salamun hiya hatta mathla’il fajr (Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar).
Keheningan I’tikaf mempersiapkan kita untuk menjadi “penerima pesan” (receiver) yang akurat. Bagaimana mungkin kita bisa menangkap kemuliaan malam yang lebih baik dari seribu bulan jika frekuensi hati kita masih penuh dengan kegaduhan urusan duniawi? I’tikaf memastikan bahwa saat malam mulia itu tiba, kita sedang berada dalam kondisi “siap dengar”.
Membentuk Pribadi yang Teduh
Output dari I’tikaf dalam pembentukan pribadi bertaqwa adalah lahirnya pribadi yang “hemat bicara namun kaya makna”. Setelah sepuluh hari melatih diri dalam keheningan religiolinguistik, seorang Muslim diharapkan keluar dari masjid dengan kualitas bahasa yang baru: lebih bijak dalam memilih kata, lebih tenang dalam menghadapi tekanan, dan lebih mampu mendengarkan suara nuraninya sendiri.
Penutup
I’tikaf bukan sekadar pindah tidur ke masjid. Ia adalah perjalanan pulang menuju pusat diri, sebuah upaya mengosongkan bejana jiwa dari kata-kata fana agar bisa diisi dengan cahaya firman-Nya. Mari kita manfaatkan sisa malam Ramadan ini untuk berdiam, merenung, dan menyimak dalam keheningan. Sebab terkadang, Tuhan justru paling jelas terdengar saat kita benar-benar mampu terdiam.
ربّ اغفرلي…












