AgamaPendidikan

​Qaulan Karima: Seni Komunikasi yang Memuliakan​

×

​Qaulan Karima: Seni Komunikasi yang Memuliakan​

Sebarkan artikel ini

Oleh: Muhammad Saleh
Dosen Bahasa dan Sastra UNM

​Kajian Islam, Potretnusantara.co.id – Setelah kita membedah pentingnya kejujuran dalam Qaulan Sadida dan kepantasan dalam Qaulan Ma’rufa, Al-Qur’an membawa kita pada level yang lebih tinggi dan personal: Qaulan Karima. Jika bahasa adalah cermin jiwa, maka Qaulan Karima adalah bahasa yang memancarkan kemuliaan, sebuah seni berkomunikasi yang tidak hanya menyampaikan pesan, tapi juga menjaga martabat manusia.

​Diksi yang Meninggikan, Bukan Merendahkan

​Istilah Karima berasal dari akar kata yang sama dengan Al-Karim (Yang Maha Mulia). Dalam QS. Al-Isra’ ayat 23, Allah SWT secara spesifik meletakkan perintah Qaulan Karima dalam konteks interaksi kepada orang tua: “…dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia”.

Secara religiolinguistik, ini adalah instruksi untuk menggunakan Bahasa Penghormatan. Kepada orang tua, atau mereka yang berjasa dalam hidup kita, kebenaran saja tidak cukup. Kita diminta untuk memilih diksi yang “mahal”, penuh takzim, dan jauh dari nada tinggi atau kalimat yang menyakitkan. Qaulan Karima adalah tentang bagaimana kita menundukkan ego linguistik kita demi mengangkat kehormatan lawan bicara.

​Komunikasi sebagai Bentuk Penghargaan (Recognition)

Di era digital yang penuh dengan bahasa sarkasme dan “kata-kata pedas”, Qaulan Karima hadir sebagai penawar. Ia mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki sisi kemuliaan yang harus dijaga. Saat kita berinteraksi, terutama dalam situasi konflik, Qaulan Karima menuntut kita untuk tetap menggunakan kalimat yang terhormat.
​Memilih untuk tidak membalas hinaan dengan hinaan adalah bentuk dari Qaulan Karima. Di sini, bahasa berfungsi sebagai instrumen pengendalian diri. Pribadi yang bertaqwa memahami bahwa kata-kata yang keluar dari lisannya adalah representasi dari kemuliaan hatinya sendiri.

​Manifestasi di Bulan Ramadan

Ramadan adalah momentum emas untuk melatih Qaulan Karima. Saat lapar dan dahaga seringkali membuat emosi mudah tersulut, Qaulan Karima menjadi rem spiritual. Kita dilatih untuk tetap berkata mulia kepada asisten rumah tangga, kepada bawahan di kantor, atau kepada anggota keluarga di rumah.

Bulan ini mengajarkan kita bahwa puasa bukan hanya menahan mulut dari makanan, tapi menahan lisan dari kata-kata yang merendahkan derajat orang lain.

Penutup

Qaulan Karima adalah puncak dari estetika berbahasa seorang Muslim. Ia adalah bahasa yang membangun, bukan meruntuhkan; bahasa yang memuliakan, bukan menghinakan. Dengan mempraktikkan perkataan yang mulia, kita sebenarnya sedang memuliakan diri kita sendiri di hadapan Sang Pemilik Kemuliaan. Mari kita jadikan sisa Ramadan ini sebagai madrasah untuk memperbaiki kualitas “kata-kata mulia” kita kepada sesama.
ربّ اغفرلي

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *