Oleh: Muhammad Saleh
Dosen Bahasa dan Sastra UNM
Kajian Islam, Potretnusantara.co.id – Ramadan sering disebut sebagai “madrasah” atau sekolah ruhani. Namun, setiap sekolah membutuhkan kurikulum dan target kelulusan yang jelas. Dalam Al-Qur’an, target itu hanya satu: Taqwa, yaitu ketaatan dalam melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan Allah. Sebuah konsep yang luas, mendalam, dan mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia, tak terkecuali dimensi Religiolinguistik.
Transformasi dari Iman menuju Taqwa (QS. Al-Baqarah: 183)
Jika kita perhatikan alur QS. Al-Baqarah: 183, Allah memanggil mereka yang Amanu (beriman) untuk berpuasa agar menjadi Tattaqun (bertaqwa). Ini adalah sebuah peta transformasi. Iman adalah titik start pengakuan lisan dan keyakinan hati. Namun, iman saja belum cukup jika tidak diuji melalui proses pendisiplinan diri (puasa).
Puasa berfungsi sebagai jembatan yang mengubah identitas (Mukmin) menjadi kualitas (Muttaqin). Dalam proses ini, seseorang dilatih untuk menggeser standar hidupnya; dari sekadar “percaya pada Tuhan” menjadi “selalu merasa diawasi oleh Tuhan”. Iman yang abstrak kemudian mewujud dalam tindakan nyata yang terjaga dan berhati-hati.
Standar Kemuliaan Universal (QS. Al-Hujurat: 13)
Dunia seringkali terjebak pada atribut lahiriah: keturunan, pangkat, harta, atau kefasihan retorika. Namun, Allah menegaskan standar tunggal kemuliaan: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa”.
Ayat ini meruntuhkan segala kasta sosial. Kemuliaan bukan tentang siapa yang paling keras bicaranya atau paling tinggi jabatannya, melainkan siapa yang paling konsisten menjaga batas-batas syariat dalam kesehariannya. Taqwa menjadi nilai intrinsik yang membuat seorang hamba berharga di langit, meski mungkin tak dikenal di bumi.
Buah Taqwa: Selamat Dunia-Akhirat (QS. At-Talaq: 2-3)
Dampak dari taqwa tidak hanya bersifat eskatologis (akhirat), tapi juga sangat fungsional di dunia. Allah menjanjikan dua hal konkret: makhraja (jalan keluar dari kerumitan hidup) dan rezeki dari arah yang tak terduga.
Janji ini bersifat umum dan mencakup segala sisi kehidupan. Bagi orang bertaqwa, kebuntuan hidup—baik itu masalah ekonomi, keluarga, hingga kebuntuan ide—akan diberikan solusi oleh Allah melalui cara-cara yang seringkali di luar logika manusia. Ini adalah bentuk “fasilitas ilahi” bagi mereka yang memprioritaskan Tuhan di atas ego pribadinya.
Penutup: Puncak Transformasi Religiolinguistik
Di sinilah letak kaitan eratnya dengan cara kita berkomunikasi. Jika transformasi dari iman menuju taqwa ini berhasil, maka perubahan perilaku berbahasa (religiolinguistik) menjadi buah yang paling nyata.
Orang yang telah mencapai derajat taqwa akan menyadari bahwa jalan keluar dan rezeki yang dijanjikan dalam QS. At-Talaq juga berkaitan dengan kesucian lisan. Ia tidak akan mengotori proses taqwanya dengan kata-kata yang menyakiti atau penuh dusta. Puncak dari Ramadan adalah lahirnya pribadi yang mampu menyunting setiap katanya sebelum terucap, mengubah setiap kalimat menjadi zikir dan kemanfaatan.
Taqwa adalah saat iman tidak lagi hanya berhenti di tenggorokan, tapi menjelma menjadi tata bahasa baru bagi jiwa yang telah tenang. Akhirnya, Taqwa menjadi muara dari seluruh proses reseptif maupun produktif kita terhadap bahasa.
ربّ اغْفرلي…















