Opini

Bahasa Ibu, Fondasi Kognitif dan Kultural Manusia

×

Bahasa Ibu, Fondasi Kognitif dan Kultural Manusia

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr. Mujahidah, M.Pd. (Dosen IAIN Parepare)

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Setiap tanggal 21 Februari, dunia memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional sebuah momentum yang sering kali kita rayakan secara seremonial, tetapi jarang kita renungkan secara eksistensial. Padahal, bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi pertama yang kita pelajari, melainkan medium awal yang membentuk cara kita memahami dunia. Dalam pengertian ini, bahasa ibu bekerja hampir seperti agama: ia hadir sejak dini, diwariskan secara turun-temurun, dan membentuk cara kita merasa, berpikir, sekaligus menilai realitas di sekitar kita.

Adv

Seorang bayi mungkin belum mampu mengucapkan satu kata pun, tetapi sejak detik pertama kelahirannya, ia telah dikelilingi oleh bunyi-bunyi bahasa yang kelak membentuk struktur kesadarannya. Bahasa ibu menjadi pintu masuk pertama bagi anak untuk mengenali kasih sayang, larangan, nilai, bahkan makna benar dan salah. Tidak berlebihan jika sejumlah ahli linguistik dan antropologi menyebut bahasa ibu sebagai identitas pertama manusia yang tumbuh bersamaan dengan perkembangan kognitifnya (UNESCO, 2023).

Bahasa ibu juga memuat sistem nilai yang diwariskan secara kultural. Dalam konteks Sulawesi Selatan, misalnya, ungkapan dalam bahasa Bugis atau Makassar tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana transmisi etika sosial seperti sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge. Nilai-nilai ini tidak diajarkan melalui buku teks formal, melainkan melalui praktik berbahasa dalam kehidupan sehari-hari dari percakapan keluarga hingga petuah orang tua. Bahasa, dalam hal ini, menjadi “kitab hidup” yang menuntun cara seseorang bersikap di tengah masyarakat.

Kajian dalam linguistik kognitif bahkan menunjukkan bahwa struktur bahasa pertama yang kita pelajari memengaruhi cara kita mengorganisir informasi, memahami konsep waktu, serta mengambil keputusan (Boroditsky, 2011). Artinya, bahasa ibu tidak hanya menentukan bagaimana kita berbicara, tetapi juga bagaimana kita berpikir. Ini sejalan dengan pandangan Vygotsky yang menempatkan bahasa sebagai instrumen utama dalam perkembangan mental dan pembentukan makna sosial (Vygotsky, 1978).

Di tengah arus globalisasi, bahasa ibu menghadapi tantangan serius. Data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menunjukkan bahwa sejumlah bahasa daerah di Indonesia berada dalam kondisi rentan hingga terancam punah akibat pergeseran penggunaan ke bahasa yang dianggap lebih prestisius. Fenomena ini bukan semata persoalan linguistik, tetapi juga menyangkut hilangnya memori kolektif dan identitas kultural suatu komunitas.

Padahal, penelitian dalam bidang psikologi sosial mengindikasikan bahwa individu yang memiliki keterikatan kuat dengan bahasa ibu cenderung memiliki tingkat kepercayaan diri dan kesejahteraan psikologis yang lebih baik (García & Wei, 2014). Bahasa ibu, seperti halnya keyakinan yang tertanam sejak kecil, mampu memberikan rasa aman dan kedekatan emosional, terutama ketika seseorang berada dalam situasi tertekan atau jauh dari lingkungan asalnya.

Oleh karena itu, peringatan Hari Bahasa Ibu seharusnya tidak berhenti pada romantisme budaya semata. Ia perlu diterjemahkan menjadi langkah konkret mulai dari penggunaan bahasa daerah dalam lingkungan keluarga hingga integrasi bahasa ibu dalam sistem pendidikan lokal. Sebab menjaga bahasa ibu pada hakikatnya adalah menjaga cara kita menjadi manusia yang berakar pada nilai dan sejarahnya sendiri.

Bahasa ibu ibarat “agama pertama” yang kita anut tanpa pernah memilihnya secara sadar. Ia membentuk cara kita memaknai kehidupan sejak awal, sekaligus menjadi jangkar identitas di tengah dunia yang terus berubah. Menjaga bahasa ibu berarti menjaga kemungkinan kita untuk tetap menjadi diri sendiri di tengah arus global yang kian seragam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *