Oleh: Mashud Azikin, Anggota Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Hari ini, 21 Februari 2026, bangsa ini kembali memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Tahun ini terasa berbeda. Ia hadir di tengah Ramadan bulan ketika umat Muslim sedang berlatih menahan diri, membersihkan jiwa, dan memperbaiki perilaku.
Momentum ini seperti mempertemukan dua ruang kesadaran: kesadaran ekologis dan kesadaran spiritual.
John F. Kennedy pernah mengingatkan dunia dengan kalimat yang menggugah: “Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tetapi tanyakanlah apa yang telah kamu berikan kepada negaramu.” Kalimat itu terasa sangat relevan ketika kita berbicara tentang sampah dan lingkungan hidup terutama di Kota Makassar yang sedang bekerja keras membenahi tata kelola kebersihan dan ruang hidupnya.
Sebab sampah bukan hanya persoalan teknis. Ia adalah cermin etika.
Makassar adalah kota pesisir yang hidup dari denyut perdagangan, pergerakan manusia, dan pertumbuhan ekonomi. Tetapi setiap pertumbuhan selalu meninggalkan residu. Setiap aktivitas konsumsi melahirkan limbah. Setiap rumah tangga adalah produsen sampah.
Dan di bulan Ramadan, paradoks itu sering terjadi.
Kita menahan lapar sejak fajar, tetapi saat berbuka justru kerap berlebihan. Pasar takjil tumbuh di setiap sudut kota. Plastik sekali pakai meningkat. Sisa makanan menumpuk. Data nasional bahkan menunjukkan bahwa volume sampah rumah tangga cenderung naik selama Ramadan.
Di titik ini, puasa seakan kehilangan pesan ekologisnya.
Padahal Ramadan adalah madrasah kesederhanaan. Ia mendidik manusia untuk memahami batas, mengendalikan hasrat, dan merasakan cukup. Dalam bahasa lingkungan, puasa adalah praktik reduce yang paling spiritual: mengurangi konsumsi, mengurangi pemborosan, mengurangi kerakusan.
HPSN 2026 seharusnya menjadi alarm moral bagi kita semua. Negara boleh menghadirkan regulasi, armada pengangkut, bahkan teknologi pengolahan. Pemerintah Kota Makassar boleh menggencarkan program kebersihan, memperkuat bank sampah, mendorong partisipasi komunitas, hingga mengoptimalkan peran lorong-lorong sebagai ruang edukasi lingkungan.
Namun tanpa perubahan perilaku warga, semua itu hanya menjadi kerja tambal sulam.
Pertanyaan Kennedy menohok kesadaran kita: sudahkah kita memberi kepada negara melalui perilaku hidup yang bertanggung jawab?
Memberi kepada negara hari ini bisa dimulai dari hal paling sederhana: memilah sampah dari rumah. Tidak membuang plastik ke drainase. Mengurangi kemasan sekali pakai saat membeli takjil. Mengolah sisa dapur menjadi kompos atau eco enzyme. Mengambil makanan secukupnya agar tidak terbuang sia-sia.
Tindakan-tindakan kecil itu mungkin tampak sepele. Tetapi jika dilakukan oleh ratusan ribu warga Makassar secara serentak, dampaknya akan luar biasa.
Sungai akan lebih bersih. Drainase lebih lancar. Pesisir lebih terjaga.
Dan yang lebih penting, mentalitas warga akan berubah: dari menuntut menjadi berkontribusi.
HPSN bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah pengingat bahwa krisis sampah adalah krisis peradaban. Ia menguji sejauh mana kita mampu hidup selaras dengan ruang yang kita tempati.
Ramadan memberi kita energi spiritual untuk itu. Ia mengajarkan disiplin dan tanggung jawab. Orang yang sanggup menahan diri dari seteguk air karena iman, seharusnya juga mampu menahan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan.
Iman tidak berhenti di sajadah. Ia harus tampak di jalanan kota.
Petugas kebersihan tetap bekerja selama Ramadan. Mereka menyapu jejak konsumsi kita, mengangkat beban yang kita hasilkan. Menghormati mereka bukan hanya dengan ucapan terima kasih, tetapi dengan mengurangi volume sampah yang mereka harus tangani setiap hari.
Di HPSN 2026 ini, mungkin sudah saatnya kita memaknai ulang nasionalisme. Nasionalisme bukan hanya berdiri tegak saat lagu kebangsaan dikumandangkan. Nasionalisme juga hadir dalam kebiasaan harian yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Makassar memiliki peluang besar menjadi kota yang tidak hanya bertumbuh secara ekonomi, tetapi juga matang secara ekologis. Tetapi kematangan itu tidak lahir dari kebijakan semata. Ia lahir dari kesadaran kolektif.
Dan Ramadan adalah waktu terbaik untuk memulainya.
Karena pada akhirnya, mencintai negeri tidak selalu membutuhkan tindakan heroik. Kadang ia hanya membutuhkan satu keputusan sederhana: tidak lagi mewariskan sampah sebagai beban masa depan.
Di hari ini, 21 Februari 2026, di tengah puasa yang kita jalankan, mungkin inilah jawaban paling jujur atas pertanyaan Kennedy kita memberi kepada negara dengan menjaga bumi yang menjadi rumah bersama.















