Agama

Ramadhan Menjadi Mesin Pertumbuhan UMKM Lokal

×

Ramadhan Menjadi Mesin Pertumbuhan UMKM Lokal

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr. Muhammad Alwi, S.Sy.,M.E.I., (Akademisi UIN Palopo)

Kajian Ramadhan, Potretnusantara.co.id – Setiap tahun, ketika bulan Ramadhan tiba, suasana ekonomi di berbagai sudut kota ikut berubah. Jalanan yang biasanya lengang menjelang senja mendadak ramai oleh pedagang takjil. Media sosial dipenuhi promosi hampers, kue kering, busana muslim, hingga katering sahur dan berbuka.

Adv

Di balik dinamika tersebut, ada satu fenomena yang konsisten berulang yaitu tumbuh dan menjamurnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, melainkan juga momentum ekonomi yang berfungsi layaknya mesin penggerak pertumbuhan UMKM lokal.

Fenomena ini bukan kebetulan. Secara sosiologis, Ramadhan menghadirkan perubahan pola konsumsi masyarakat. Aktivitas makan dan minum memang dibatasi pada siang hari, tetapi justru terjadi peningkatan konsumsi pada waktu berbuka dan sahur. Selain itu, tradisi berbagi, silaturahmi, mendorong lonjakan permintaan terhadap berbagai produk, mulai dari makanan, pakaian, hingga kebutuhan rumah tangga.

Dalam teori ekonomi perilaku, perubahan preferensi dan pola belanja yang dipicu faktor budaya dan agama seperti ini dapat menciptakan “shock musiman” terhadap permintaan. Shock tersebut membuka ruang pasar baru yang segera direspons oleh pelaku UMKM.

UMKM lokal memiliki karakteristik yang adaptif dan fleksibel. Dengan skala usaha yang relatif kecil, mereka mampu menyesuaikan jenis produk dan strategi pemasaran secara cepat. Ketika permintaan takjil meningkat, dapur-dapur rumah tangga berubah menjadi pusat produksi kolak, gorengan, atau minuman segar.

Ketika tren hampers menguat, pelaku usaha kreatif merancang paket bingkisan dengan kemasan menarik dan harga terjangkau. Fleksibilitas ini menjadikan UMKM sebagai aktor ekonomi yang responsif terhadap peluang musiman seperti Ramadhan.

Data dari berbagai tahun sebelumnya menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga di Indonesia cenderung meningkat pada periode Ramadhan dan menjelang Idulfitri. Konsumsi rumah tangga sendiri merupakan komponen terbesar dalam Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Artinya, setiap peningkatan konsumsi pada periode ini akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Dalam konteks tersebut, UMKM menjadi saluran utama yang menyerap dan mendistribusikan dampak peningkatan konsumsi tersebut di tingkat lokal. Mereka bukan hanya pelaku usaha kecil yang berdagang di pinggir jalan, tetapi bagian penting dari struktur ekonomi nasional.

Lebih jauh lagi, Ramadhan menciptakan efek berantai (multiplier effect) bagi perekonomian daerah. Ketika seorang pedagang takjil memperoleh keuntungan lebih, ia akan membelanjakan kembali pendapatannya untuk membeli bahan baku, membayar tenaga kerja, atau memenuhi kebutuhan keluarganya.

Aktivitas ini memutar roda ekonomi di tingkat komunitas. Uang yang beredar tidak berhenti pada satu transaksi, melainkan terus bergerak dari satu tangan ke tangan lain. Dalam perspektif ekonomi regional, perputaran uang di tingkat lokal seperti ini memperkuat daya tahan ekonomi masyarakat.

Namun, penting untuk dipahami bahwa pertumbuhan UMKM di bulan Ramadhan tidak selalu berarti keberlanjutan jangka panjang. Banyak usaha yang bersifat musiman, muncul hanya selama satu bulan, lalu berhenti beroperasi setelah Idulfitri.

Dari sisi ekonomi, fenomena ini tetap bernilai karena memberikan tambahan pendapatan sementara bagi rumah tangga. Akan tetapi, dari sudut pandang pembangunan berkelanjutan, tantangannya adalah bagaimana momentum Ramadhan dapat diubah menjadi fondasi pertumbuhan usaha yang lebih permanen.

Di sinilah peran inovasi dan literasi bisnis menjadi krusial. Ramadhan seharusnya tidak hanya dipandang sebagai peluang untuk meraih keuntungan sesaat, tetapi juga sebagai ajang uji coba pasar. Pelaku UMKM dapat memanfaatkan periode ini untuk mengukur minat konsumen, memperbaiki kualitas produk, dan membangun basis pelanggan.

Dengan dukungan teknologi digital, seperti pemasaran melalui media sosial dan platform niaga elektronik, jangkauan pasar tidak lagi terbatas pada lingkungan sekitar. Banyak UMKM yang awalnya berjualan takjil di lingkungan perumahan, kemudian berkembang menjadi usaha katering tetap karena berhasil membangun reputasi selama Ramadhan.

Selain itu, transformasi digital turut memperkuat peran Ramadhan sebagai mesin pertumbuhan UMKM. Promosi melalui media sosial, layanan pesan antar makanan, dan pembayaran digital memudahkan transaksi sekaligus memperluas akses konsumen.

Digitalisasi menurunkan hambatan masuk pasar, sehingga individu dengan modal terbatas tetap dapat berpartisipasi. Dalam kerangka ekonomi inklusif, kondisi ini memperbesar peluang kelompok masyarakat berpenghasilan rendah untuk terlibat dalam aktivitas produktif.

Meski demikian, ada pula sisi yang perlu dicermati secara kritis. Lonjakan jumlah UMKM musiman dapat memicu persaingan ketat, terutama pada jenis produk yang serupa. Tanpa diferensiasi dan standar kualitas yang baik, sebagian pelaku usaha berisiko mengalami kerugian.

Selain itu, fluktuasi harga bahan baku menjelang hari raya dapat menekan margin keuntungan. Oleh karena itu, dukungan kebijakan dari pemerintah daerah maupun lembaga keuangan menjadi penting, misalnya melalui akses pembiayaan mikro, pelatihan manajemen usaha, dan pengendalian distribusi bahan pokok.

Ramadhan juga memperlihatkan dimensi sosial dari UMKM. Banyak usaha kecil yang lahir dari semangat kolektif, seperti ibu-ibu yang membentuk kelompok produksi kue kering atau pemuda yang membuka bazar bersama. Aktivitas ini tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial.

Dalam konteks pembangunan, aspek sosial ini sama pentingnya dengan aspek finansial, karena menciptakan jaringan kepercayaan dan kerja sama yang dapat menopang usaha dalam jangka panjang.

Ramadhan dapat dipahami sebagai katalisator. Ia mempercepat dinamika yang sebenarnya sudah ada dalam masyarakat, semangat kewirausahaan, kreativitas, dan kebutuhan untuk meningkatkan kesejahteraan.

Mesin pertumbuhan yang dimaksud bukanlah mesin fisik, melainkan kombinasi antara permintaan pasar yang meningkat, respons adaptif pelaku UMKM, serta dukungan lingkungan sosial dan teknologi. Jika dikelola dengan baik, momentum satu bulan ini dapat menjadi titik tolak transformasi ekonomi lokal.

Maka, melihat Ramadhan hanya sebagai periode konsumsi yang meningkat adalah pandangan yang terlalu sempit. Di balik hiruk-pikuk bazar dan ramainya lapak takjil, terdapat proses ekonomi yang kompleks dan bermakna. UMKM lokal menemukan ruang untuk tumbuh, masyarakat memperoleh peluang pendapatan tambahan, dan ekonomi daerah mendapatkan suntikan vitalitas.

Tantangannya kini adalah memastikan agar mesin pertumbuhan tersebut tidak berhenti berputar setelah gema takbir usai. Dengan strategi yang tepat, Ramadhan bukan sekadar musim usaha, melainkan awal dari penguatan UMKM yang berkelanjutan dan berdaya saing.

“Penulis adalah Ketua Program Studi Ekonomi Syariah pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Palopo”.

Editor: S PNs

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *