Catatan perjumpaan, lingkungan, dan kesadaran yang berdenyut pelan
Oleh: Mashud Azikin
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Sore itu, langit Makassar seperti menahan napas. Di Café Van Djoel tempat yang lebih mirip ruang ingatan ketimbang sekadar warung kopi kami kembali duduk berhadapan dengan Fadli Padi. Kami memanggilnya Opa. Sebuah panggilan yang lahir dari keakraban, bukan usia.
Setiap kali ia pulang kampung, meja itu selalu menunggu: kopi, sara’ba, pisang goreng, dan suara sendok beradu dengan gelas, dan percakapan yang tak pernah benar-benar selesai.
Topik kami, seperti biasa, berangkat dari bumi dari tanah, dari sampah, dari kota yang sedang belajar bernapas melalui konsep lingkungan dan pertanian terintegrasi. Makassar, dalam diskusi kami, bukan sekadar kota, melainkan organisme hidup yang sedang mencari cara menyembuhkan dirinya sendiri.
Kami bicara tentang eco enzyme, urban farming, integrasi sampah organik, hingga mimpi menjadikan halaman rumah sebagai ladang kecil yang berdaya. Opa mendengarkan lebih banyak daripada berbicara. Ia seperti petani yang tahu kapan harus menanam kata dan kapan membiarkan hening bekerja.
Lalu, di tengah percakapan yang cair itu, ia meletakkan satu kalimat yang membuat sore terasa lebih sunyi dari biasanya:
“Tidak ada kejadian yang berlangsung kebetulan di dunia ini.”
Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada menggurui. Ia jatuh seperti daun. Pelan, tapi tepat.
Kami terdiam.
Dalam dunia aktivisme lingkungan, kami terbiasa mengukur segala sesuatu dengan data: tonase sampah, luas lahan, jumlah partisipan, tingkat keberhasilan program. Namun kalimat Opa seperti membuka pintu lain pintu yang tidak bisa dimasuki hanya dengan logika.
Ia membawa kami masuk ke wilayah yang lebih sunyi: kesadaran.
Percakapan kemudian berbelok. Dari tanah ke batin. Dari pertanian ke spiritualitas. Dari program ke makna.
Opa mulai menyinggung gelombang theta frekuensi otak manusia yang sering muncul dalam kondisi meditatif, saat seseorang berada di antara sadar dan tidak sadar. Dalam keadaan itu, manusia tidak sekadar berpikir; ia “menyadari”.
Di sanalah, katanya, intuisi bekerja. Di sanalah manusia sering merasa dipanggil, digerakkan, atau dipertemukan.
“Banyak orang mengira perjumpaan itu kebetulan,” lanjutnya, “padahal mungkin itu hasil dari kesadaran yang saling menemukan.”
Kami memandang satu sama lain.
Tiba-tiba, kegiatan lingkungan yang selama ini kami jalankan terasa seperti bagian dari jaringan yang lebih besar. Seolah-olah ada alur yang mempertemukan orang-orang dengan frekuensi yang sama: mereka yang resah melihat bumi rusak, mereka yang percaya perubahan bisa dimulai dari rumah, mereka yang tidak mau menyerah pada keadaan.
Mungkin benar, tidak ada yang kebetulan.
Bukan kebetulan jika seseorang memilih mengolah sampah, sementara yang lain memilih menanam. Bukan kebetulan jika sebuah komunitas lahir dari keresahan yang sama. Bahkan mungkin bukan kebetulan jika sebuah kota, pada titik tertentu, dipertemukan dengan orang-orang yang mau merawatnya.
Percakapan sore itu semakin meluas. Kami membahas bagaimana gelombang theta bukan sekadar istilah neurologis, tetapi jembatan antara rasio dan rasa. Dalam kondisi itu, manusia sering menemukan makna paling jujur tentang hidupnya.
Seorang petani yang menanam tanpa tahu kenapa ia merasa harus menanam.
Seorang aktivis lingkungan yang terus bergerak meski lelah.
Seorang warga yang tiba-tiba tergerak memisahkan sampah di rumahnya.
Ada dorongan yang tak selalu bisa dijelaskan.
Mungkin itulah kesadaran.
Dan kesadaran, seperti benih, hanya tumbuh di tanah yang siap menerima.
Makassar, dalam obrolan kami, bukan sekadar ruang geografis. Ia adalah ruang kesadaran kolektif yang sedang bertumbuh. Program lingkungan, pertanian terintegrasi, pengolahan limbah—semuanya hanyalah bentuk lahir dari sesuatu yang lebih dalam: keinginan manusia untuk kembali selaras dengan alam.
Opa tidak banyak memberi teori. Ia hanya mengingatkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil.
“Ketika manusia sadar,” katanya, “ia tidak lagi merusak. Ia merawat.”
Dan kesadaran itu, tambahnya, sering datang bukan lewat perintah, melainkan lewat perjumpaan.
Sore makin turun. Lampu café mulai menyala. Suara kendaraan di luar seperti mengembalikan kami ke realitas kota yang riuh.
Namun ada yang tertinggal di meja itu.
Bukan hanya sisa kopi.
Bukan hanya rencana-rencana program.
Melainkan perasaan bahwa pertemuan itu sendiri adalah bagian dari sesuatu yang sedang disusun oleh kehidupan.
Kami tidak tahu ke mana arah percakapan itu akan berujung. Apakah menjadi gerakan baru, program baru, atau sekadar kenangan yang mengendap. Tapi satu hal terasa pasti: sejak kalimat itu diucapkan, kami melihat banyak hal dengan cara berbeda.
Bahwa mungkin benar, tidak ada yang kebetulan.
Bahkan keresahan punya jalannya sendiri.
Bahkan pertemuan punya waktunya sendiri.
Bahkan kesadaran punya frekuensinya sendiri.
Dan mungkin, di antara gelombang-gelombang theta yang tak kasatmata itu, manusia dipertemukan bukan untuk sekadar berbincang melainkan untuk saling membangunkan.















