Palopo, Potretnusantara.co.id – Luwu Raya punya masing-masing Aset berharga; Nikel (Lutim), Kakao (Lutra), Pelabuhan (Palopo), Emas (Luwu). Pertanyaannya, Apa yang harus dilakukan para elit Wija To Luwu?
1. LEPAS DARI MAKASSAR, MERAPAT KE IKN (Rebranding Geo-Ekonomi)
Selama ini narasinya selalu: “Kami didiskriminasi pembangunan oleh Makassar”. Narasi ini basi di telinga Jakarta. Ubah narasinya menjadi: “Kami adalah Penopang Logistik IKN”.
Faktanya, secara Geografis Luwu Raya (via Pelabuhan Tanjung Ringgit Palopo atau Malili) jauh lebih dekat menarik garis lurus Laut ke Kalimantan Timur (IKN) dibandingkan Makassar. Tawarkan Luwu Raya sebagai Lumbung Pangan & Energi Interkoneksi bagi Ibu Kota Nusantara.
Jika Jakarta melihat Luwu Raya sebagai aset strategis Nasional untuk IKN, maka status Provinsi akan diberikan demi “Efisiensi rantai pasok”, bukan karena kasihan.
2. KARTU TRUF: NIKEL DIPLOMACY (Weaponize Luwu Timur)
Sulawesi Selatan akan berjuang mati-matian menahan Luwu Raya. Kenapa? Karena Luwu Timur (Lutim).Lutim adalah penyumbang PDRB terbesar lewat tambang Nikel (PT Vale). Jika Lutim lepas, statistik ekonomi Sulsel akan terjun bebas.
Elit Luwu Raya harus berani melobi Investor Global (China/Barat) di Lutim. Yakinkan mereka bahwa jika Luwu Raya jadi provinsi sendiri, urusan perizinan dan bagi hasil akan lebih ringkas (Direct to Governor Luwu Raya) daripada harus memutar lewat birokrasi panjang di Makassar. Biarkan investor yang berbisik ke Presiden, bukan Bupati.
3. MATIKAN EGO “IBUKOTA” (The Polycentric Deal)
Banyak Calon Provinsi gagal karena ribut soal di mana Ibukota; Palopo merasa paling kota (infrastruktur siap), Belopa/Luwu merasa sebagai “Ibu” kandung, Malili/Lutim merasa paling kaya (penyandang dana).
Buat kesepakatan tertulis “Pembagian Kue Kekuasaan” sebelum Provinsi jadi; Palopo: Pusat Pendidikan & Perdagangan, Belopa/Masamba: Pusat Pemerintahan (Kantor Gubernur), agar pembangunan merata, Malili: Pusat Industri & Energi. Tanpa kesepakatan ini, Jakarta akan melihat Luwu Raya “belum kompak” dan membatalkan SK.
4. KEMANDIRIAN FISKAL: JANGAN CUMA MENGHARAP DAU
Syarat otonomi baru sekarang makin ketat. Jakarta tidak mau membiayai provinsi baru yang “menyusu” APBN terus. Masalahnya, saat ini ekonomi Luwu Raya masih tipe “Ekstraktif” (Gali tanah, jual mentah).
Strateginya, harus ada hilirisasi mandiri. Pabrik smelter harus ada di Tanah Luwu, Pabrik kakao di Lutra. Pendapatan Asli Daerah (PAD) gabungan 4 wilayah ini harus disimulasikan “surplus” di atas kertas tanpa bantuan Makassar. Tunjukkan data ini ke Kemenkeu, bukan ke Kemendagri.
ANALISIS: HAMBATAN TERBESAR
Hambatan terbesar Luwu Raya bukanlah Jakarta, melainkan “The Oligarchs of Makassar”. Kelompok Bisnis dan Politik di Makassar tidak akan rela kehilangan kontrol atas wilayah utara yang kaya raya ini. Mereka akan menggunakan pengaruhnya di Parlemen Pusat (DPR RI) untuk menjegal RUU Luwu Raya.
Bagaimana Cara Melawannya? Jangan pakai jalur DPR (Politik). Pakai jalur Keamanan Nasional (HANKAM). Lobi Dewan Pertahanan Nasional (WANTANNAS). Argumentasinya? Sulawesi Selatan terlalu panjang dan sulit dikendalikan jika terjadi chaos.
Pemekaran Luwu Raya adalah kebutuhan Pertahanan Strategis untuk mengamankan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II dan suplai Nikel dunia. Bahasa keamanan lebih cepat didengar Presiden daripada bahasa “Proposal pemekaran” biasa.
Luwu Raya bisa sukses jika berhenti bersikap sebagai “Anak Tiri yang Minta Warisan” dan mulai bersikap sebagai “Mitra Strategis Kaya Raya” yang menawarkan solusi bagi Jakarta (IKN).
Risiko Terbesar: Operasi Senyap Untuk Memecah Soliditas 4 Kepala Daerah.
Akan ada yang dibisiki: “Ngapain gabung Luwu Raya? Mending tetap di Sulsel tapi dapat jatah lebih.” Ini ujian mentalitas. Apakah Elit Luwu Raya siap berkorban Ego Sektoral demi “Kedaulatan Tanah Luwu”? Atau masih mudah dibeli dengan janji manis “Induk”?
Mereka akan merayu satu kabupaten (terutama yang paling kaya) untuk membelot. Diiming-imingi “Dana Besar” supaya tidak mau gabung Provinsi Luwu Raya. Kalau Luwu Timur lepas, mimpi Provinsi ini TAMAT; Bangkrut sebelum lahir.
Morowali sukses menjadi “Pusat Nikel dunia” karena Manajemen wilayahnya fokus. Luwu Raya bisa “menjual” mimpi bahwa jika mereka mandiri, mereka bisa menyaingi Morowali (Sulteng) dan Weda Bay (Maluku Utara), yang mana ini menguntungkan Pajak Nasional.
Sumber: Lhynaa Marlinaa
Editor: S PNs













