Gowa, Potretnusantara.co.id – Ketua Tim Layanan Cepat Atasi Kemiskinan (LACAK) Kabupaten Gowa, Kaharuddin Muji, menegaskan bahwa sorotan terhadap anggaran LACAK harus dilihat secara utuh dan proporsional. Menurutnya, penilaian tidak bisa semata-mata didasarkan pada besaran angka, tetapi harus mempertimbangkan beban kerja lapangan serta dampak nyata yang telah dirasakan masyarakat miskin ekstrem.
Kaharuddin Muji, yang akrab disapa Daeng Muji, mengatakan tantangan utama penanggulangan kemiskinan ekstrem di Kabupaten Gowa bukan terletak pada minimnya program, melainkan pada ketidakakuratan data dan masih banyaknya keluarga miskin ekstrem yang luput dari intervensi.
“Data Badan Pusat Statistik menunjukkan kemiskinan di Gowa masih 6,85 persen pada 2024 dengan kemiskinan ekstrem 0,14 persen. Angka ini kecil secara persentase, tetapi di lapangan masih ada ratusan keluarga yang hidup dalam kondisi sangat rentan dan belum seluruhnya tersentuh bantuan,” ujar Daeng Muji, Kamis (22/1/2026).
Ia menjelaskan, persoalan tersebut juga terungkap dalam pelaksanaan Program Gowa Sejahtera (Gowa Masunggu) pada 100 hari kerja pertama Bupati dan Wakil Bupati Gowa periode 2025–2030. Banyak keluarga tercatat sebagai miskin ekstrem, namun di sisi lain masih ditemukan keluarga dengan kondisi jauh lebih memprihatinkan yang belum masuk dalam basis data resmi.
“Di sinilah LACAK bekerja. Kami tidak menunggu laporan. Kami turun langsung ke rumah-rumah warga. Data kami akan melengkapi DTSEN karena lebih update dan berbasis kondisi nyata di lapangan,” tegasnya.
Kaharuddin Muji menekankan bahwa LACAK menjalankan pendataan aktif berbasis asesmen komprehensif melalui Sahabat LACAK yang tersebar di 167 desa dan kelurahan. Relawan melakukan kunjungan dari rumah ke rumah untuk memotret kondisi riil warga, mulai dari aspek kesehatan, pendidikan, pekerjaan, aset, kondisi rumah, kepemilikan identitas, hingga riwayat bantuan yang pernah diterima.
Pendataan tersebut menggunakan indikator Badan Pusat Statistik (BPS), BKKBN, dan Kementerian Sosial, kemudian diolah melalui aplikasi Si LACAK. Hasilnya berupa rekomendasi yang dilengkapi data lapangan dan disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Gowa melalui Dinas Sosial.
“Target relawan yang terlibat sebanyak 867 orang yang tersebar di 18 kecamatan, 167 desa, dan 675 dusun,” kata Daeng Muji.
Dari hasil kerja pendataan dan pendampingan di lapangan, kinerja LACAK sepanjang 2025 disebut telah dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Sebanyak 23 rumah tidak layak huni (Rutilahu) telah selesai diperbaiki, 18 rumah lainnya masih dalam proses pembangunan atau telah direkomendasikan, akses air bersih PDAM untuk tiga rumah, bantuan biaya perawatan dan pengobatan bagi 15 kepala keluarga, bantuan modal usaha dan program Z-Mart untuk 13 kepala keluarga, serta bantuan sembako bagi keluarga miskin,” urai Kaharuddin Muji.
“Itu bukan angka di atas kertas. Di baliknya ada keluarga yang kini tinggal lebih layak, bisa berobat tepat waktu, dan mulai bangkit lewat usaha kecil,” lanjutnya.
Menanggapi isu anggaran, Kaharuddin Muji menjelaskan bahwa alokasi Rp213.500.000 untuk lima bulan pada 2025 serta rencana Rp500.000.000 untuk 12 bulan pada 2026 tergolong sangat terbatas jika dibandingkan dengan luas wilayah, jumlah relawan, dan beratnya tugas lapangan yang dijalankan.
Dengan cakupan 18 kecamatan, 167 desa dan kelurahan, serta 675 dusun di seluruh Kabupaten Gowa, LACAK melibatkan 867 relawan aktif.
“Sebagian besar anggaran itu untuk insentif Sahabat LACAK sekitar Rp100.000 per bulan, perlengkapan dan operasional lapangan, serta pelatihan dan pembekalan relawan. Mereka bolak-balik ke rumah warga, ke kantor desa dan kelurahan, ke kecamatan, mengurus KTP, BPJS, layanan kesehatan, sampai pendampingan usaha. Padahal, mereka bekerja tanpa mengenal waktu dan cuaca, dan banyak pula yang bukan dari kalangan berada,” ungkapnya.
Ia menegaskan, kerja LACAK hanya dapat dijalankan oleh relawan yang memiliki empati dan kepedulian tinggi. Karena itu, ia mengajak semua pihak melihat program tersebut dari perspektif kemanusiaan.
“LACAK ini kerja hati. Kita seharusnya mendukung dan menguatkan, bukan melemahkan. Kalau belum bisa membantu lebih jauh, setidaknya jangan memadamkan semangat para relawan yang berjuang melawan kemiskinan ekstrem. Kami semata-mata ingin melihat negara hadir di tengah-tengah warga miskin,” tutup Kaharuddin Muji.
Sumber: (Bawa Karaeng, Isra)













