Palopo, Potretnusantara.co.id – Langit di atas Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, menggantung rendah dan berat pada Sabtu siang. Hujan bulan Januari yang tak henti-hentinya mengguyur Sulawesi Selatan seolah menjadi tirai pemisah antara bumi dan udara.
Di menara pengawas (Air Traffic Control), sebuah titik radar berkedip pelan, lalu diam. Hening. Panggilan radio dari petugas AirNav, “PK-THT, do you read?”, hanya berbalas desis statis. Jarum jam menunjuk pukul 13.17 WITA.
Di sanalah, di antara koordinat 04°57’08” Lintang Selatan dan 119°42’54” Bujur Timur, sebuah drama penerbangan bermula. Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dengan registrasi PK-THT, hilang ditelan kabut pekat pegunungan.
Penerbangan Sunyi dari Yogyakarta
Penerbangan ini bukanlah penerbangan komersial biasa yang penuh sesak. Ini adalah perjalanan “intim” yang membawa 11 jiwa melintasi Laut Jawa menuju Sulawesi. Di dalam kokpit, Kapten Andy Dahananto dan First Officer (FO) Yudha Mahardika memegang kendali. Keduanya adalah penerbang yang kenyang pengalaman, namun alam hari ini menyajikan tantangan berbeda.
Di kabin, dua srikandi udara, Florencia Lolita dan Esther Aprilita S., melayani segelintir penumpang. Tidak ada keramaian turis, hanya ada Deden, Ferry, dan Yoga—tiga penumpang yang tercatat dalam manifes, duduk bersama empat kru teknis lainnya: Sukardi, Hariadi, Franky D. Tanamal, dan Junaidi.
Mereka dijadwalkan mendarat sebentar lagi. Roda pendaratan mungkin sudah disiapkan untuk turun. Namun, takdir berkata lain di perbatasan Maros dan Pangkep.
Benteng Raksasa Batu KapurLokasi hilangnya kontak PK-THT bukanlah sembarang tempat. Titik koordinat terakhir mengarah tepat ke jantung kawasan Karst Maros-Pangkep. Ini adalah wilayah yang oleh para pendaki dan penerbang perintis dikenal memiliki “wajah ganda”: memukau mata, namun mematikan jika disapa tanpa kewaspadaan.
Gugusan tebing batu gamping yang menjulang tegak lurus bak menara (tower karst) berjejer rapat, diselimuti hutan tropis lebat. Di sela-sela tebing inilah angin seringkali bertiup liar, menciptakan turbulensi yang mampu menghempas pesawat kecil. Penduduk lokal di kaki Gunung Bulusaraung sering menyebut kawasan ini “wilayah putih” saat hujan turun—di mana kabut membuat jarak pandang menjadi nol, menyamarkan dinding batu putih menjadi tembok kematian yang tak kasat mata.
“Area di sana konturnya ekstrem. Tebingnya tajam dan hutannya rapat. Jika pesawat masuk ke sela bukit saat cuaca buruk, ruang gerak pilot sangat terbatas,” ungkap seorang analis penerbangan senior yang memantau insiden ini.
Harap-Harap Cemas Keluarga
Kabar hilangnya kontak PK-THT menyebar cepat bak api dalam sekam. Di ruang tunggu bandara dan di rumah-rumah keluarga kru, kecemasan mulai merayap. Ponsel-ponsel dicoba dihubungi, namun nihil.
Bagi keluarga Kapten Andy dan kawan-kawannya, setiap detik yang berlalu tanpa kabar terasa seperti satu jam. Tim SAR gabungan dari Basarnas Makassar kini tengah berpacu dengan waktu. Personel berbaju oranye mulai bergerak menembus hujan, menyisir jalan setapak licin di kaki bukit, berharap menemukan sinyal ELT (Emergency Locator Transmitter) yang menjadi penanda lokasi pesawat.
Malam ini, Maros gelap gulita. Hujan masih turun membasahi dinding-dinding karst yang bisu. Di suatu tempat di antara lembah sunyi itu, 11 jiwa sedang menanti pertolongan. Apakah mereka berlindung di balik sayap pesawat yang patah, ataukah masih terikat di kursi mereka, dunia belum tahu.
Satu yang pasti, doa seluruh negeri kini melambung tinggi, menembus awan kelabu, berharap keajaiban datang dari balik pegunungan Maros.
Sumber: Lhynaa Marlinaa
Editor: S PNs













