AgamaReligi

Isra’ Mi’raj: Dua Arah, Satu Tujuan

×

Isra’ Mi’raj: Dua Arah, Satu Tujuan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Prof. Drs. Wayuddin Halim, M.A.,Ph.D

Adv

Kajian Islam, Potretnusantara.co.id – Ada sebuah paradoks indah dalam tradisi Islam: untuk Nabi Muhammad saw, Mi’raj adalah perjalanan vertikal ke atas: menembus tujuh lapis langit menuju Sidratul Muntaha. Namun bagi umatnya, Mi’raj adalah perjalanan horizontal ke dalam: menembus tujuh lapis hijab kesadaran menuju pusat hati. Dua arah yang berbeda, namun menuju tujuan yang sama: perjumpaan dengan Allah Yang Maha Pengasih.

Inilah yang diungkap oleh Seyyed Hossein Nasr dalam satu tulisannya tentang hati sebagai pusat spiritual manusia. Ia mengutip ungkapan Sufi, yang disebut sebagai hadis Qudsi yang terkenal: “Mā wasiʿanī arḍī wa lā samāʾī, wa lākin wasiʿanī qalbu ʿabdī al-muʾmin al-layyin al-wādiʿ “: “Bumi-Ku tidak meliputi-Ku dan langit-Ku tidak meliputi-Ku, tetapi hati hamba-Ku yang beriman, lembut, dan tunduk meliputi-Ku”.

Ada pula ungkapan Sufi, yang lagi-lagi sering disebut sebagai hadis Qudsi: “Qalbul muʾmin ʿarsyur Raḥmān”: “Hati orang beriman adalah Arasy Yang Maha Pengasih”. Pernyataan ini mengungkap misteri besar: Nabi naik ke langit ketujuh untuk “menemui” Allah di Arasy-Nya yang meliputi seluruh alam semesta, sementara umat menyelam ke kedalaman hati untuk “menemukan” Arasy yang sama.

Jadi, Yang “Transenden” justru “Imanen”, Yang Jauh justru Dekat, sebagaimana Firman-Nya: “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Qs. Qāf/50: 16). Di sinilah terlihat relevansi pernyataan Filsuf Muslim seperti Ibnu Sina, Al-Ghazali, Suhrawardi, Ibn ‘Arabi, dll tentang paralelisme atau kesepadanan antara makrokosmos (alam semesta) dengan mikrokosmis (diri manusia). Kata Al-Ghazali, diri manusia adalah miniatur alam semesta. Jadi, menyelami diri (mi’rajul mu’min) identik dengan mengarungi semesta (mi’rajun Nabi).

Jadi, ada sumbu vertikal (mi’raj) yang dilalui Nabi: perjalanan fisik-spiritual dari bumi ke langit, menembus tujuh langit sebagai tujuh maqam spiritual, bertemu para nabi terdahulu di setiap tingkat, hingga di Sidratul Muntaha yang bahkan Jibril harus berhenti. Dan ada sumbu horizontal (shalat) yang ditempuh umat: perjalanan batin dari pinggiran ke pusat, menembus tujuh hijab hati dari nafsu menuju ruh, dari qalb zahir menuju fu’ad, dari multiplisitas menuju kesatuan.

Kedua sumbu ini bertemu hanya pada satu titik, dan titik itu adalah hati (Qalb). Rumi menyebutnya sebagai “Gua tempat persembunyian spiritual Sang Sahabat”, yg mengacu pada peristiwa hijrah Nabi saw bersama Abu Bakar yang dipahami Sufi bukan hanya sebagai sejarah eksternal, tapi juga realitas trans-historis hati di mana ar-Rahman bersemayam di atas Arasy-Nya.

Mengapa Nabi saw harus naik secara literal? Kata Ibn ‘Arabi, Nabi adalah prototipe dari kemungkinan spiritual tertinggi manusia. Beliau adalah validasi kosmologis bahwa alam spiritual itu nyata, bertingkat-tingkat, dan dapat diakses. Apa yang Nabi alami secara eksternal-literal, menjadi peta jalan bagi perjalanan internal-simbolik umatnya. Nabi adalah mikrokosmos sempurna (insan al-kamīl) yang menyatukan dimensi vertikal dan horizontal dalam dirinya.

Bagi umat, setiap shalat adalah mi’raj kecil. Takbīratul ihrām adalah Isra’ dari Mekah, meninggalkan dunia. Qiyām adalah tiba di Masjidil Aqsa, berdiri di hadapan Ilahi. Ruku’ adalah merendahkan ego, memasuki langit-langit spiritual. Sujud adalah fana’ fillāh, puncak kedekatan seperti Sidratul Muntaha di mana hamba mencapai Arasy. Salam adalah kembali ke dunia sebagai pembawa rahmat (minal haqqi bil haqqi ilal khalqi_dlm konsepsi Sadra). Hadis Nabi saw. menegaskan: (Al-shalāt mi’raj al-mu’minīn) “Shalat adalah mi’rajnya orang-orang beriman”.

Kata Nasr, meskipun tampak kecil secara fisik, hati bisa menjadi Arasy yang “memuat” Yang Tak Terbatas. Kenapa? Karena hati adalah barzakh, ithmus, perantara, pintu dimensi antara yang terbatas dan tak terbatas. Hati seperti cermin yang permukaannya kecil dan “tidak ada apa-apanya,” namun mampu memantulkan seluruh langit. Ketika cermin ini dipoles dengan dzikir, ia menjadi teater bagi tajalliyat (teofani-teofani) Ilāhi, tempat ar-Rahmān menampakkan diri.

Struktur paralel pun muncul: Tujuh langit yang dilalui Nabi berkorespondensi dengan tujuh lapisan hati yang ditembus umat. Hakim Tirmidhi menggambarkan hati sebagai istana-istana konsentris yang harus ditembus satu per satu. Langit ketujuh adalah fu’ad, pusat-hati. Sidratul Muntaha adalah Arasy dalam hati, “qalbul mu’min arsyurrahman”. Di situlah Yang Maha Pengasih bersemayam.

Implikasinya revolusioner: mi’raj bukan monopoli Nabi saw. Setiap mukmin punya akses ke pengalaman yang setara dalam esensi. Jika Nabi naik dengan Buraq, umat “naik” dengan dzikir, yaitu panah yang menembus langsung ke pusat hati. Syekh atau mursyid menjadi Jibril-nya umat, memandu menembus hijab-hijab kesadaran. Seperti Nabi harus suci untuk naik ke Arasy kosmik, umat harus membersihkan “Ka’bah hati” (Arasy batin) dari berhala-berhala materialisme, ego, dan kelalaian. Jangan menjadikan hati seperti Ka’bah sebelum datangnya Islam: penuh berhala.

Di puncak perjalanan, perbedaan “naik” dan “masuk” lenyap. Eksternal menjadi internal. Arasy kosmik menjadi Arasy hati. Yang di atas sama dengan yang di dalam. Mansur al-Hallaj menyaksikan ini: “Aku melihat Tuhanku dengan mata hatiku; Aku bertanya, Siapa Engkau? Dia berkata, Engkau.”

Ibn ‘Arabi merangkum dalam syairnya: “Hatiku dapat mengambil bentuk apa pun” karena di pusat hati, semua bentuk kembali ke Sumber-nya. Inilah religio cordis, agama hati, di mana transendensi dan imanensi bersatu. Puisi Arab menggambarkan keadaan ini: “Tidak ada seorang pun di rumah kecuali Sang Tuan Rumah” (Laysa fi’d-dār ghayrahu’d-dayyār).

Nabi naik untuk membuka jalan menuju Arasy. Umat masuk untuk menemukan Arasy dalam hati. Keduanya bertemu di titik yang sama: perjumpaan dengan ar-Rahmān di atas Arasy-Nya. Rumi mengingatkan kita yang masih berkeliaran di pinggiran eksistensi: “Wahai Manusia yang telah pergi berhaji, di mana kamu? Sang Kekasih ada di sini, kemari, kemari!”

Maka, jagalah hati melalui dzikr (mengingat Allah); takhliyah (mengosongkan hati dari berhala-berhala); tahliyah (menghiasi hati dengan kebajikan), tajliyah (menerima cahaya teofani Ilahi). Nasr menegaskan: Hati yang telah bersih bukan hanya cermin, tetapi juga mata yang melihat Allah, sekaligus mata yang Allah gunakan untuk melihat kita.

Hadis Nabi saw: “Untuk segala sesuatu ada polesan. Polesan untuk hati adalah dzikir (mengingat Allah)”. Sementara, di dalam al-Qur’ān surah Ar-Ra’d/13: 28: Allah berfirman: “Sesungguhnya dengan mengingat (adh-dhikr) Allah, hati-hati menjadi tenteram!”

Editor: S PNs

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *