OpiniPendidikan

Isu Mutakhir Perempuan: Membangun Kecerdasan Intelektual sebagai Pondasi Rahim Peradaban

×

Isu Mutakhir Perempuan: Membangun Kecerdasan Intelektual sebagai Pondasi Rahim Peradaban

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dini Febriany

Peserta LKK HMI Cabang Pangkep

Adv

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Perempuan dalam isu mutakhir sering kali ditempatkan pada perdebatan seputar peran domestik dan publik. Padahal, dalam perspektif keislaman dan ke-HMI-an, persoalan perempuan tidak berhenti pada ruang gerak, melainkan menyentuh substansi: kualitas intelektual dan kematangan diri. HmI-Wati memandang bahwa perempuan adalah subjek peradaban yang memiliki tanggung jawab ideologis, moral, dan sosial.

Kecerdasan intelektual menjadi landasan utama bagi perempuan dalam berpikir dan bertindak. Intelektualitas tidak dimaknai sebatas kecakapan akademik, tetapi mencakup kemampuan bernalar kritis, membaca realitas sosial, serta menimbang setiap keputusan berdasarkan nilai keislaman dan kemanusiaan. Perempuan yang tercerahkan secara intelektual tidak mudah larut dalam arus pragmatisme, relasi yang timpang, maupun konstruksi budaya yang menafikan martabatnya.

Dalam konteks krisis generasi muda hari ini yang ditandai dengan degradasi moral, rapuhnya mental, serta kaburnya orientasi hidup keluarga menjadi locus utama yang patut disorot. Banyak kegagalan generasi berakar dari kegagalan membina rumah tangga yang berlandaskan nilai dan kesadaran. Rumah tangga yang dibangun tanpa kesiapan intelektual dan emosional berpotensi melahirkan pola pengasuhan yang tidak sehat, sehingga anak tumbuh tanpa keteladanan dan arah nilai yang jelas.

Perempuan, khususnya dalam perannya sebagai ibu, memiliki peran strategis sebagai pendidik pertama dan utama. Namun peran tersebut tidak boleh dipahami secara biologis semata. Menjadi ibu adalah proses ideologis yang menuntut kesiapan ilmu, kematangan emosi, dan keteguhan prinsip.

Oleh karena itu, perempuan perlu melakukan proses pemberdayaan diri sebelum memasuki peran sebagai istri dan ibu, agar rumah tangga yang dibangun menjadi ruang kaderisasi nilai, bukan ruang reproduksi masalah.

KOHATI menegaskan bahwa pembangunan perempuan adalah bagian dari pembangunan peradaban. Perempuan yang tidak dipersiapkan secara intelektual berisiko melahirkan generasi yang rapuh secara karakter.

Sebaliknya, perempuan yang berilmu dan berkesadaran akan melahirkan generasi yang beriman, berilmu, dan beramal sejalan dengan cita-cita insan akademis, pencipta, pengabdi yang diusung HMI.

Dengan demikian, isu mutakhir perempuan hari ini bukan sekadar tuntutan kesetaraan, tetapi seruan untuk peneguhan kualitas diri perempuan sebagai pondasi keluarga dan bangsa.

Kecerdasan intelektual perempuan adalah prasyarat lahirnya rumah tangga yang sakinah, masyarakat yang berkeadaban, serta generasi muda yang memiliki orientasi nilai dan tanggung jawab sejarah. Perempuan yang tercerahkan bukan hanya menghidupkan dirinya, tetapi menghidupkan peradaban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *