Oleh: Dini Febriany Peserta Latihan Khusus Kohati Cabang Pangkep
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Baru-baru ini, dalam forum Latihan Khusus Kohati (LKK), sebuah diskursus menarik dibawakan oleh pemateri Nur Amin Saleh. Pembahasan tersebut tidak sekadar menyentuh permukaan psikologi perempuan, melainkan menggali akar eksistensi manusia melalui kacamata Magnum Opus Ibnu Khaldun, yaitu Mukaddimah. Sebuah refleksi yang memaksa kita bertanya kembali: sejauh mana kita mengenal diri kita di tengah hiruk-pikuk modernitas?
Membaca Perempuan Lewat Kacamata Ibnu Khaldun
Meski Ibnu Khaldun dikenal sebagai bapak sosiologi, pemikirannya dalam Mukaddimah memberikan fondasi kuat tentang bagaimana lingkungan, tabiat, dan struktur sosial membentuk jiwa manusia. Dalam konteks psikologi perempuan, kita diajak melihat bahwa perempuan bukan sekadar objek biologis, melainkan subjek peradaban yang memiliki dinamika kejiwaan yang khas.
Menyadarkan perempuan akan fitrahnya bukanlah upaya untuk membatasi ruang gerak. Sebaliknya, ini adalah upaya “pulang” menuju kesejatian. Fitrah dalam perspektif ini adalah kekuatan dasar yang diberikan Tuhan sebuah harmoni antara kecerdasan emosional, ketangguhan mental, dan kasih sayang yang menjadi pilar dalam bangunan masyarakat (asabiyah).
Dialektika Emosi, Belajar, dan Egoisme
Salah satu poin krusial dalam materi tersebut adalah bagaimana kita mengelola instrumen internal untuk membentuk jati diri.
Tujuan akhir dari pembedahan psikologi ini adalah mencapai Autentisitas. Menjadi perempuan yang autentik berarti menjadi pribadi yang utuh antara peran, fitrah, dan kepemimpinan.
Kepemimpinan perempuan dalam perspektif fitrah tidak harus selalu tampil dalam bentuk maskulin. Kepemimpinan itu hadir dalam kemampuan mengorganisir, mendidik, dan menjadi perekat sosial. Visi dan misi hidup seorang perempuan haruslah berpijak pada kesadaran bahwa ia adalah arsitek peradaban. Ketika seorang perempuan memahami fitrahnya, ia tidak akan lagi merasa inferior dalam memimpin, karena ia memimpin dengan seluruh kejujuran jiwanya.
Materi dari Nur Amin Saleh ini menjadi pengingat penting bagi kader Kohati. Bahwa perjuangan perempuan bukan sekadar soal kesetaraan di atas kertas, melainkan soal penemuan kembali identitas diri yang sempat hilang. Dengan memahami psikologi yang berakar pada khazanah pemikiran Islam seperti Ibnu Khaldun, kita sedang menyiapkan generasi perempuan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga kokoh secara spiritual dan emosional.
Mari kita terus belajar, mengelola emosi, dan menata ego, demi mewujudkan kepemimpinan yang autentik kepemimpinan yang lahir dari rahim fitrah.
Pangkep, Senin, 12 Januari 2026













