AgamaPendidikanReligi

ISRA’ MI’RAJ: PERJALANAN LANGIT YANG MEMBUMIKAN IMAN DAN PERADABAN

×

ISRA’ MI’RAJ: PERJALANAN LANGIT YANG MEMBUMIKAN IMAN DAN PERADABAN

Sebarkan artikel ini

Oleh: Muhammad Sakti Tahir, S.Pd.,M.Pd (Pembina Pondok Pesantren Perguruan Islam Ganra Soppeng)

Kajian Islam, Potretnusantara.co.id – Isra’ Mi’raj bukan sekadar peristiwa luar biasa dalam sejarah kenabian, melainkan sebuah titik balik spiritual yang menegaskan arah hidup umat manusia. Dalam satu malam, Rasulullah ﷺ menempuh perjalanan agung dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (Isra’), lalu naik menembus lapisan-lapisan langit hingga Sidratul Muntaha (Mi’raj), memenuhi panggilan Allah Swt. Sebuah perjalanan yang melampaui batas nalar, namun sarat dengan hikmah yang membumi dan abadi.

Adv

Peristiwa ini terjadi pada masa yang sangat berat bagi Rasulullah ﷺ. Tahun itu dikenal sebagai ‘Āmul Ḥuzn (Tahun Kesedihan): wafatnya Khadijah ra., penopang dakwah dan jiwa beliau, serta Abu Thalib, pelindung beliau dari tekanan Quraisy. Isra’ Mi’raj hadir sebagai hiburan Ilahi dan penguatan misi kenabian bahwa perjuangan di jalan Allah tidak pernah dibiarkan tanpa makna.

Shalat: Oleh-Oleh Langit untuk Kehidupan Bumi

Hikmah terbesar dari Isra’ Mi’raj adalah diwajibkannya shalat lima waktu. Menarik untuk direnungkan: perintah-perintah syariat lain disampaikan melalui wahyu di bumi, namun shalat diperintahkan langsung di langit. Ini menegaskan kedudukan shalat sebagai tiang agama dan jembatan utama antara hamba dan Tuhannya.

Shalat bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan perjalanan mi’raj harian bagi setiap mukmin. Dalam shalat, seorang hamba meninggalkan hiruk-pikuk dunia, berdiri menghadap Allah, menata hati, dan menyucikan niat. Dari sinilah lahir pribadi yang istiqamah, karena shalat melatih disiplin waktu, ketundukan, dan kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap langkah kehidupan.

Allah Swt. berfirman:

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Terjemahannya:

“Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-‘Ankabut: 45).

Ayat ini menegaskan bahwa shalat yang hidup akan melahirkan akhlak yang hidup pula.

1. Dampak Isra’ Mi’raj terhadap Keimanan
Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa iman tidak selalu dibangun di atas apa yang terlihat, tetapi pada keyakinan kepada kebenaran Allah dan Rasul-Nya. Peristiwa ini menguji keimanan umat: siapa yang membenarkan dengan hati yang lapang, dan siapa yang ragu karena keterbatasan akal.

Dari sinilah lahir sosok Abu Bakar ash-Shiddiq ra., yang berkata dengan penuh keyakinan:

“Jika Muhammad yang mengatakannya, maka itu pasti benar.”

Iman seperti inilah yang melahirkan keteguhan (istiqamah), tidak mudah goyah oleh perubahan zaman, tekanan sosial, atau godaan dunia.

2. Shalat yang Melahirkan Kepedulian
Isra’ Mi’raj tidak berhenti pada kesalehan personal, tetapi berlanjut pada kesalehan sosial. Shalat yang benar akan melahirkan empati, kejujuran, dan tanggung jawab sosial. Seorang yang terbiasa bersujud di hadapan Allah tidak akan tega merendahkan sesama manusia.

Dalam shalat, semua berdiri sejajar tanpa membedakan status, jabatan, atau kekayaan. Ini adalah pendidikan sosial yang luar biasa: bahwa kemuliaan manusia diukur dari ketakwaan, bukan kedudukan duniawi.

Masyarakat yang menjaga shalat dengan kesadaran akan melahirkan budaya:
• saling menghormati,
• menegakkan keadilan,
• menjunjung amanah,
• serta peduli terhadap fakir, yatim, dan kaum lemah.

3. Isra’ Mi’raj sebagai Peta Jalan Kehidupan
Isra’ Mi’raj mengajarkan keseimbangan antara hubungan vertikal (ḥablum minallāh) dan hubungan horizontal (ḥablum minannās). Naik ke langit untuk menerima perintah, lalu kembali ke bumi untuk mengamalkannyaitulah esensi Islam yang paripurna.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh kepentingan material, Isra’ Mi’raj mengingatkan kita bahwa kemajuan sejati bukan hanya soal teknologi dan ekonomi, tetapi tentang kedalaman iman dan keluhuran akhlak.

Semoga peringatan Isra’ Mi’raj tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan menjadi momentum untuk memperbaiki shalat, meneguhkan istiqamah, dan membangun masyarakat yang beradab, beriman, dan berkeadilan.
Allāhu a‘lam bish-shawāb.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *