Opini Publik, Potretnusantara.co.id -JALAN SUNYI adalah sebuah novel yang menelusuri jejak perlawanan, cinta, dan kesadaran sosial di tengah dunia yang kian bising oleh kekuasaan namun sunyi dari keadilan. Novel ini mengisahkan perjalanan Romi, seorang mahasiswa aktivis, bersama kawan-kawannya yang memilih jalan terjal dalam menghadapi ketidakadilan sosial, kemiskinan struktural, serta pembungkaman demokrasi di ruang kampus dan masyarakat luas.
Judul Jalan Sunyi merepresentasikan pilihan sadar seorang aktivis untuk melawan arus dominan kekuasaan, meski harus berjalan sendiri, terasing, dan kerap disalahpahami. Perlawanan dalam novel ini bukan sekadar aksi turun ke jalan, melainkan pergulatan batin, kesunyian pikiran, dan keberanian mempertahankan nurani di tengah tekanan sistem yang menindas.
Di sisi lain, novel ini juga menyuguhkan romantisme sepasang kekasih yang bertumbuh dalam pusaran perjuangan. Cinta dalam Jalan Sunyi tidak hadir sebagai pelarian, melainkan sebagai energi perlawanan cinta yang diuji oleh pilihan politik, risiko represi, dan ketidakpastian masa depan. Hubungan mereka menggambarkan bagaimana cinta dan perjuangan sering kali berjalan beriringan, saling menguatkan, sekaligus saling melukai.
Romi, sebagai tokoh utama, memandang realitas sosial dengan kesadaran kritis. Baginya, kemiskinan bukanlah takdir yang jatuh dari langit, melainkan hasil dari struktur sosial yang timpang produk dari tangan-tangan tak terlihat yang bekerja atas nama kekuasaan dan kepentingan ekonomi. Ia menolak pandangan pasrah terhadap nasib, dan justru menggugat sistem yang melanggengkan ketimpangan.
Melalui tokoh Romi, novel ini juga mengkritik wajah pendidikan yang kehilangan ruh pembebasannya. Pendidikan tidak semestinya hanya mencetak individu yang patuh terhadap otoritas, tetapi harus melahirkan manusia yang mampu berpikir kritis, peka terhadap realitas sosial, dan berani bersuara ketika ketidakadilan terjadi. Kampus, yang seharusnya menjadi ruang dialektika dan kebebasan berpikir, justru digambarkan sebagai arena pembungkaman demokrasi.
Konflik agraria menjadi salah satu poros utama dalam novel ini. Masyarakat kecil dipaksa berhadapan dengan aparat negara demi mempertahankan sejengkal tanah yang menjadi sumber hidup mereka. Benturan antara rakyat dan kekuasaan digambarkan secara getir, menyingkap wajah penindasan yang kerap disembunyikan di balik jargon pembangunan dan kepentingan nasional.
Dengan bahasa yang reflektif dan narasi yang berpijak pada realitas sosial, Jalan Sunyi mengungkap berbagai corak penindasan: dari kemiskinan struktural, represi aparat, hingga pengkhianatan institusi terhadap rakyatnya sendiri. Novel ini bukan sekadar kisah tentang aktivisme, melainkan ajakan untuk merenung tentang keberanian memilih jalan sunyi, tentang harga yang harus dibayar untuk sebuah kebenaran, dan tentang harapan yang tetap menyala di tengah gelapnya penindasan.

Jalan Sunyi adalah potret generasi yang menolak diam, meski suara mereka kerap ditenggelamkan. Sebuah novel yang mengajak pembaca berjalan bersama para pejuang sunyi, menyusuri luka, cinta, dan perlawanan yang tak pernah benar-benar usai.
Tentang Buku
Judul: Jalan Sunyi
Penulis: Irfan
Tebal: 155 Halaman
ISBN: 9786347408280
Periode Pre-Order: 27 Desember 2025 – 10 Januari 2026
Harga: Rp 55.000
🔗 Pesan sekarang:
bit.ly/PEMESANANBUKUDIGDAYABOOK
📞 Kontak: 0878-3443-3309 (Mimin Aya)
Jangan lewatkan novel yang menggugah kesadaran sekaligus menyentuh hati. Segera amankan bukumu selama masa pre-order!
Penulis: Irfan













