AdvertorialPendidikan

Penulis Muda Polewali Mandar Terbitkan Novel Nonfiksi “Jalan Sunyi”, Angkat Isu Ketimpangan Sosial

×

Penulis Muda Polewali Mandar Terbitkan Novel Nonfiksi “Jalan Sunyi”, Angkat Isu Ketimpangan Sosial

Sebarkan artikel ini

Polewali Mandar, Potretnusantara.co.id – Di tengah menguatnya persoalan ketimpangan sosial, pendidikan, dan konflik agraria, seorang penulis muda asal Polewali Mandar, Irfan, menerbitkan novel nonfiksi berjudul “Jalan Sunyi”.

Buku ini mengangkat romantisme dan perlawanan mahasiswa dalam menghadapi realitas sosial yang dinilai kian menjauh dari nilai keadilan.

Melalui tokoh Romi dan kawan-kawannya, Jalan Sunyi merekam langkah-langkah sunyi perjuangan mahasiswa yang tetap bersuara di tengah pembungkaman demokrasi dan krisis pendidikan. Buku tersebut menjadi refleksi kegelisahan penulis atas kondisi sosial yang ia alami dan saksikan secara langsung.

Irfan mengungkapkan, Jalan Sunyi merupakan karya pertamanya yang berhasil diterbitkan sejak ia berstatus mahasiswa. Dalam buku tersebut, ia menuangkan berbagai fenomena sosial yang diperoleh dari pengalaman pribadi serta diskusi bersama rekan-rekan mahasiswa. Sejumlah isu yang diangkat antara lain pendidikan, kemiskinan struktural, hingga konflik agraria.

Dalam wawancara di kediamannya, Irfan mengatakan ide penulisan buku ini berangkat dari kegelisahan melihat semakin maraknya ketimpangan sosial di masyarakat akibat kebijakan pemerintah.

“Awalnya buku ini saya tulis berdasarkan diskusi bersama kawan-kawan mahasiswa dan adapun beberapa cerita dalam buku ini adalah bagian dari kegelisahan melihat masalah sosial yang terjadi. Pertanyaan-pertanyaan yang makin menggila melihat nasib rakyat yang menderita, biaya pendidikan yang makin mahal dan konflik agraria yang semakin meluas terjadi sehingga ide untuk menulis novel ini timbul di benak saya,” pungkas Irfan, Sabtu (3/1/2026).

Meski merupakan karya perdana, Jalan Sunyi mendapat respons positif dari kalangan aktivis mahasiswa dan pegiat literasi. Irfan mengaku keinginannya untuk menulis buku telah lama ia miliki, namun baru dapat terwujud menjelang akhir 2025.

“Sebenarnya saya sudah lama memiliki impian untuk menjadi seorang penulis buku namun baru bisa terkabulkan di menjelang akhir tahun 2025. Bagi saya menulis adalah senjata yang takkan pernah kehabisan amunisi dan menulis juga bagian dari simbol perlawanan. Oleh karena itu menulis buku menjadi pilihan saya untuk tetap bersuara dalam kegelisahan melihat pemerintah yang makin jauh keberpihakannya pada rakyatnya,” jelas Irfan.

Lebih lanjut, Irfan menjelaskan makna judul Jalan Sunyi yang menurutnya merepresentasikan perjalanan panjang para aktivis yang memilih tetap kritis dan independen dari kekuasaan.

“Jalan sunyi bukan semerta-merta tak memiliki makna, jalan sunyi adalah sebuah jalan yang panjang dilalui oleh aktivis-aktivis yang berani melawan kekuasaan dan menolak untuk berafiliasi dengan penguasa. Romi bukan hanya tokoh fiksi dalam novel ini namun ia satu dari sekian banyaknya di luar sana yang masih setia di jalan yang sunyi jauh dari kekuasaan,” tutupnya.

Adv

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *