Oleh: Dr. Muhammad Alwi, S.Sy., M.E.I., (Dosen UIN Palopo)
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Di tengah kegelisahan publik tentang arah pendidikan, krisis keteladanan, dan rapuhnya nilai pengabdian, kisah keluarga sering kali luput dari perhatian. Padahal, dari ruang paling sunyi bernama keluarga, nilai-nilai besar tentang ilmu, iman, dan pengabdian justru dibentuk dan diwariskan.
Kisah H. Sulaiman dan istrinya, Suhaeni, adalah salah satu contoh nyata bagaimana keluarga dapat menjadi fondasi peradaban. H Sulaiman dikenal sebagai sosok sederhana yang menempatkan pengabdian sebagai jalan hidup. Ia mendampingi istrinya, Suhaeni, S.Pd., yang bertugas sebagai Kepala Sekolah pada salah satu Taman Kanak-kanak di Kabupaten Polewali Mandar.
Dari rumah tangga yang dibangun dengan kesederhanaan dan komitmen nilai inilah, sehingga melahirkan Enam orang anak, di antaranya; Dua orang Putri yang berhasil meraih Gelar Magister serta Empat Putra yang Tiga di antaranya menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Assalafi Parappe (sebuah pesantren yang masyhūr dengan pengajaran kitab kuningnya secara mendalam).
Pilihan pendidikan untuk anak-anaknya bukanlah kebetulan. Ia lahir dari kesadaran dan dorongan kuat seorang ibu yang meyakini bahwa pendidikan bukan semata-mata alat mobilitas sosial, melainkan proses pembentukan karakter dan kedalaman ilmu.
Suhaeni, sebagai pendidik, memahami betul bahwa ilmu yang tidak disertai adab dan kedalaman spiritual akan mudah kehilangan arah. Karena itulah, ia mendorong anak-anaknya untuk tidak hanya mengejar gelar, tetapi juga menempuh Pendidikan Agama secara serius.
Di tengah arus Pragmatisme Pendidikan, pilihan mengirim anak ke Pesantren Salāf yang menekankan penguasaan “kitab kuning” sering dianggap “tidak praktis”. Namun justru disitulah letak keberanian nilai. Pendidikan Pesantren mengajarkan kesabaran, kedisiplinan, penghormatan pada sanad keilmuan, serta kedalaman berpikir.
Nilai-nilai inilah yang semakin langka di era serba instan saat ini. H Sulaiman sendiri menunjukkan konsistensi pengabdian dalam kehidupan sosial keagamaan. Ia mengabdikan diri sebagai Imam Masjid Muslim Pancasila Kampus Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman).
Amanah tersebut bukan sekadar posisi ritual, tetapi peran moral yang menuntut keteladanan, keikhlasan, dan tanggung jawab sosial. Menjadi imam berarti berdiri di depan, bukan hanya dalam shalat, tetapi juga dalam sikap dan perilaku.
Kepercayaan itu bukan datang begitu saja, H. Sulaiman ditunjuk langsung oleh “Annangguru” Prof. Dr. H. Sahabuddin, Pendiri Yayasan Al Asyariah Mandar (seorang Mursyid Tarekat Qadiriyah), serta seorang Tokoh Pendidikan dan Ulama yang dikenal Visioner. Penunjukan tersebut mencerminkan pengakuan atas integritas pribadi dan komitmen keumatan yang telah lama terbangun.
Lebih jauh, dimensi spiritual H. Sulaiman juga terbentuk melalui jalur tarekat. Ia “dibai’at” langsung oleh Mursyid Tarekat Qadiriyah, “Annangguru” KH. Muh. Saleh. Dalam tradisi Tasawuf, bai’at bukan sekadar seremoni, melainkan ikatan spiritual yang menuntut kedisiplinan batin, pengendalian diri, dan orientasi hidup yang berpusat pada keikhlasan.
Tasawuf, dalam makna substantifnya, mengajarkan keseimbangan antara lahir dan batin, antara aktivitas sosial dan kedalaman spiritual. Jika dirangkai secara utuh, kisah keluarga ini menunjukkan satu benang merah yang kuat: Sinergi antara Pendidikan Formal, Pendidikan Keagamaan, dan Pengabdian Sosial.
Dua Putri dengan gelar Magister menunjukkan pentingnya penguasaan Ilmu Modern. Sementara, Tiga Putra yang menempuh Pendidikan Pesantren mencerminkan penjagaan tradisi keilmuan Islam. Di saat bersamaan, peran orang tua menjadi jembatan nilai yang menyatukan keduanya.
Di tengah tantangan zaman, ketika pendidikan sering direduksi menjadi sekadar “Ijazah” dan keberhasilan diukur secara “Material”, maka kisah ini menawarkan sudut pandang lain; bahwa “keberhasilan sejati adalah ketika ilmu melahirkan adab, dan adab mendorong pengabdian. Keluarga bukan hanya Unit Biologis, namun ruang strategis pembentukan Karakter Bangsa”.
Apa yang dilakukan H. Sulaiman dan Suhaeni sejatinya adalah kerja sunyi yang berdampak panjang. Mereka tidak tampil di panggung besar, tetapi menanam nilai di ruang paling mendasar. Dari sanalah lahir generasi yang tidak hanya cerdas, namun juga berakar pada tradisi dan nilai spiritual.
Di era yang sering kehilangan Teladan, kisah seperti ini penting untuk dihadirkan ke ruang publik. Bukan untuk mengkultuskan individu, melainkan untuk mengingatkan bahwa membangun peradaban tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari keluarga yang konsisten merawat Ilmu, Iman, dan Pengabdian.
Mungkin inilah pelajaran terpenting yang bisa kita petik; “Ketika Pendidikan dijalani dengan kesadaran Nilai, ketika pengabdian dilakukan dengan keikhlasan, dan ketika spiritualitas membumi dalam kehidupan sosial, maka Keluarga tidak hanya membesarkan Anak, tetapi ikut menyiapkan Masa Depan Umat dan Bangsa.
“Penulis adalah Ketua Program Studi Ekonomi Syariah pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Palopo. Tulisan yang diceritakan di atas adalah inspirasi langsung dari kedua Mertua penulis”.
Editor: S PNs

















