AgamaReligi

Matematika Kehidupan

×

Matematika Kehidupan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr. Yunus Fadhil, M.Pd
(Akademisi UIN Palopo)

Adv

Khutbah Jumat, Potretnusantara.co.id –
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillāhillazī khāliqil wujūdil adam, wa ja’ilu nūri mina dzdzulām, wal mulki taubati alā nidam, wa mukhraji sabri minal alām, Asyhadu anlāilāha illah, wa asyhadu annamuhammadarrasūlullāh. Allahumma shalli alā Muhammadin, wa ‘alā ālihi wasahbihi ajma’īn. Ammā Ba’ad. 

Majelis Jumat !

Puji syukur kita panjatkan kepada Yang Maha Gafur. Tuhan Maha Pengatur, yang menurunkan rahmatnya tiada terukur.

Shalawat serta salam kita sampaikan kepada junjungan Nabi kita Muhammad saw. Yang telah memberikan pencerahan kepada kita melalui hadis-hadisnya, sehingga kita mampu memahani agama ini tidak hanya sebagai keyakinan, tetapi juga sebagai pengetahuan bagi kita semua.

Jama’ah yang dirahmati Allah

Dalam Al-Qur’ān surat An-Nisā ayat 135, Allah swt berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman. Jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri”.

Makna huruf (يَا) pada ayat ini:
يَا adalah harf nidā’ (huruf panggilan yang berfungsi memanggil dan menarik perhatian orang yang dituju.
untuk menegaskan pentingnya isi perintah yang akan disampaikan, maksudnya anjuran kuat untuk menyampaikan.

Dalam ilmu balaghah, yā di sini bukan sekadar panggilan biasa, tetapi isyarat takrim (penghormatan) sekaligus tahdzīr (peringatan serius). Artinya: “Allah sedang menghormati orang beriman dengan seruan langsung, namun juga memperingatkan mereka agar benar-benar memperhatikan kewajiban menegakkan keadilan”.

Ayat ini menegaskan bahwa seorang mukmin wajib menegakkan kebenaran, sekalipun itu menyangkut dirinya sendiri.

Agama Islam mengajarkan kepada kita untuk selalu berpegang teguh pada kebenaran dan menjauhi kebatilan.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda:
قل ولو كان مرا
“Katakanlah yang benar walaupun pahit.” (HR. Ibnu Hibban)

Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa kebenaran harus disampaikan, pahit artinya meskipun terkadang tidak enak didengar, atau bahkan membuat kita kehilangan kepentingan duniawi.
Namun justru di situlah nilai ujian iman: apakah seseorang berani berkata benar demi Allah, atau memilih diam demi dunia.

Jama’ah yang dirahmati Allah,

Di zaman sekarang, banyak orang yang ragu untuk mengatakan yang benar itu benar, dan yang salah itu salah. Ada yang takut kehilangan jabatan, ada yang takut tidak disukai, ada pula yang demi kepentingan pribadi rela membalikkan fakta. Padahal, diam terhadap kesalahan adalah bentuk pengkhianatan terhadap kebenaran.

Tugas seorang muslim adalah menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, yaitu menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Jika kita melihat kebaikan, maka kita katakan benar. Jika kita melihat keburukan, maka kita katakan salah. Inilah tanda iman yang kuat dan bukti cinta kepada Allah.

Jama’ah yang dimuliakan Allah,

Mari kita renungkan: Kalau benar dikatakan salah, maka keadilan akan hancur. Kalau salah dikatakan benar, maka kebatilan akan berjaya. Dan bila keduanya dicampuradukkan, umat akan kehilangan arah.

Oleh karena itu, mari kita jadikan diri kita orang-orang yang berani berkata benar, sekalipun itu pahit, sekalipun harus melawan arus, asalkan itu demi ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kewajiban untuk mengatakan bahwa yang benar itu benar, yang salah itu salah, jangan membenarkan yang salah dan jangan menyalahkan yang benar.

Jama’ah yang dirahmati Allah

Begitupun juga dalam rumus matematika;
+ X + = + (membenarkan yang benar itu hasilnya benar)
+ X – = – (membenarkan yang salah itu hasilnya salah)
X  + = – (menyalahkan yang benar itu hasilnya )
X – = + ( menyalahkna yang salah itu hasilnya)
Suatu kesalahan  (-) jika kita katakan benar (+), maka sesungguhnya kita berbuat bohong
Suatu yang benar (+)  jika kita katakan salah (-) maka sebanarnya kita juga berbuat bohong
Suatu kesalahan (-) jika diaktakan salah (-) maka kita melakukan suatu yang benar (+)

Salah satu contoh kebiasaan yang salah adalah pembenaran perilaku curang dalam dunia pendidikan. Misalnya, menyontek dianggap sebagai hal yang wajar dan bahkan dibenarkan.Ternyata, jika dibiarkan, akan menghasilkan generasi yang tidak jujur dan merusak integritas pendidikan itu sendiri.

Membiasakan kebenaran berarti menjadikan kebenaran sebagai pedoman utama dalam berpikir, bertindak, dan mengambil keputusan. Dalam sistem hukum, membiasakan kebenaran berarti menegakkan keadilan tanpa pandang bulu, tanpa adanya intervensi atau manipulasi.

Ini akan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga hukum dan menciptakan rasa aman dan keadilan. “Lebih baik sakit dengan kejujuran, daripada bahagia tapi dibohongi”.

Semoga kita semua bisa berubah jadi lebih baik, lebih bermanfaat, dan tentunya lebih dekat dengan Allah SWT.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Editor: S PNs

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *