NasionalPartai Politik

Komandan Bergeser, PSI Tantang Dominasi Partai Besar di Sulsel

×

Komandan Bergeser, PSI Tantang Dominasi Partai Besar di Sulsel

Sebarkan artikel ini

Pidato Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang Pangarep, di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (28/1/2026), terdengar singkat, namun menyimpan pesan politik yang kuat.

Di provinsi yang selama ini dikenal sebagai basis kuat Partai NasDem dan Golkar, Kaesang menyampaikan pernyataan tega, PSI harus berani menggeser dominasi partai-partai besar pada Pemilu 2029.

Adv

“Komandannya sudah bergeser,” ujar Kaesang, disambut sorak kader PSI di Hotel Claro, Makassar.

Meski tidak menyebut nama secara langsung, pernyataan tersebut segera dimaknai sebagai isyarat politik. Kata “komandan” yang diucapkan Kaesang merujuk pada figur Rusdi Masse Mappasessu (RMS), tokoh sentral NasDem Sulawesi Selatan selama satu dekade terakhir.

Pernyataan itu menjadi sinyal awal bahwa kontestasi politik Sulsel menuju Pemilu 2029 mulai dipanaskan sejak dini. PSI menempatkan diri bukan lagi sekadar peserta, tetapi sebagai penantang dominasi partai-partai mapan.

Politik Sulsel dan Bahasa Isyarat

Politik daerah tidak pernah benar-benar sunyi. Ia kerap berbicara melalui simbol, gestur, dan pernyataan yang tak selalu eksplisit. Dalam konteks ini, pidato Kaesang menandai fase baru percakapan politik Sulawesi Selatan.

Kalimat “komandannya sudah bergeser” bukan sekadar slogan. Ia menyiratkan pesan strategis bahwa peta kekuasaan tidak lagi dibaca hanya dari jumlah kursi, tetapi dari arah kepemimpinan dan pusat pengaruh.

Namun dinamika ini juga menyinggung soal etika komunikasi politik. Dalam demokrasi, publik berhak memperoleh kejelasan. Ketika isu strategis mengenai pergeseran kekuasaan dibiarkan tanpa penjelasan, ruang publik mudah dipenuhi spekulasi dan tafsir liar.

Diam memang sah sebagai strategi politik. Namun diam yang terlalu panjang berisiko berubah makna: dari kehati-hatian menjadi ketertutupan. Padahal demokrasi bertumpu pada keterbukaan dan komunikasi yang jujur.

Penyederhanaan yang Berisiko

Sulawesi Selatan bukan wilayah yang mudah ditaklukkan oleh slogan. Politik di daerah ini tidak semata digerakkan oleh pidato dan target elektoral, melainkan oleh jejaring sosial, ikatan kekerabatan, dan rekam jejak panjang para aktor politiknya.

Pernyataan optimistik Kaesang sah sebagai ekspresi politik. Namun sejarah politik Sulsel menunjukkan bahwa perubahan peta kekuasaan jarang terjadi secara instan. Loyalitas pemilih dibangun melalui kerja panjang, konsistensi, dan kehadiran nyata di tengah masyarakat.

Kepindahan figur sentral memang dapat menggeser arah angin politik. Namun angin tidak selalu berubah menjadi badai. Loyalitas sosial di Sulsel tidak bergerak secara mekanis mengikuti satu nama atau satu momentum.

Membayangkan dominasi politik runtuh hanya karena satu pidato adalah penyederhanaan yang berisiko. Politik Sulsel menuntut kesabaran sosial dan penghormatan terhadap struktur lokal yang telah lama terbentuk.

Modal dan Retaknya Loyalitas

Pemilu 2024 memberikan pelajaran penting. Sulawesi Selatan, yang selama ini dikenal berbasis loyalitas dan figur, ternyata juga rentan ditaklukkan oleh modal politik.

Sejumlah tokoh mapan, termasuk mantan kepala daerah dua periode dengan basis loyalis kuat, tumbang di hadapan pendatang baru. Bukan karena kalah gagasan, melainkan kalah daya beli.

Logika politik lokal pun bergeser. Dari politik representasi menuju politik transaksi. Popularitas digantikan visibilitas, dan kedekatan sosial dikalahkan oleh kekuatan finansial.

Dalam konteks inilah pidato Kaesang perlu dibaca. Ketika ia menyebut “komandan sudah bergeser”, logika yang digunakan adalah sederhana: figur berpindah, maka peta ikut berubah. Logika ini sah, tetapi tidak sepenuhnya aman.

Pandangan Pengamat

Direktur Duta Politik Indonesia (DPI), Dedi Alamsyah Mannaroi, menilai perpindahan elite bukanlah jaminan kemenangan politik.

“Ini sama saja dengan pindah dari kepastian ke sesuatu yang belum pasti,” ujar Dedi dalam program Ngobrol Politik (Ngopi)Tribun Timur, Rabu (21/1/2026).

Pandangan serupa disampaikan Direktur CRC, Saiful Bahrie. Menurutnya, migrasi politik tokoh besar adalah fenomena biasa dalam sistem multipartai. Namun RMS bukan figur biasa.

Di bawah kepemimpinannya, NasDem membangun mesin politik kuat hingga ke akar rumput di Sulsel.

“Kalau isu ini benar, maka ini akan menjadi semacam gempa bagi NasDem. Sebaliknya, bagi partai yang dituju, ini bisa menjadi durian runtuh,” kata Saiful.

Namun Saiful mengingatkan, durian runtuh tidak otomatis menjamin kemenangan jangka panjang. Loyalitas di Sulsel kerap melekat pada figur, bukan pada logo partai. Loyalitas personal bersifat cair dan dapat memudar ketika berhadapan dengan realitas mahalnya kontestasi elektoral.

Isu kepindahan RMS juga menjadi ujian serius bagi NasDem, terutama soal kekuatan struktur dan kaderisasi. Jika satu figur pergi lalu bangunan ikut goyah, maka problemnya bukan pada individu, melainkan pada sistem.

Meski kursi legislatif tidak bisa berpindah karena mekanisme Pergantian Antar Waktu (PAW), Saiful menilai arah dukungan politik di parlemen tetap bisa bergeser jika konsolidasi internal melemah.

Arena Politik yang Kompleks

Sulawesi Selatan adalah arena politik yang kompleks. Figur penting, modal menentukan, tetapi struktur dan kerja panjang tetap menjadi penentu akhir.

Kepindahan komandan bisa menggeser arah angin, namun tidak otomatis memindahkan badai.

Karena pada akhirnya, kekuasaan bukan hanya soal siapa yang memimpin, tetapi bagaimana kepemimpinan itu dibangun, diuji, dan dipertanggungjawabkan di hadapan publik.

Sumber: Tribun Timur

Editor:Ifn

**Penulis: AS Kambie**

Jika Anda ingin:

* versi **lebih ringkas (gaya Kompas/Tempo)**

* atau dipecah menjadi **berita utama + analisis/tajuk rencana**

saya bisa siapkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *